520.802 Ton Gula Impor akan Banjiri Pasar

Salah seorang pengunjung saat mencari gula pasir yang susah didapat di salah satu supermarket. (JPG)

Pemerintah optimistis kebutuhan gula masyarakat menjelang Ramadhan dan Lebaran tahun ini tercukupi. Sebab, industri gula dalam negeri yang ketiban sampur mengolah gula rafinasi (raw sugar) menjadi gula konsumsi dinilai sudah sangat siap.

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto dan Satgas Pangan serta Komisi VI DPR RI intensif mengawasi industri gula nasional. Terutama untuk menjaga harga tetap stabil serta memastikan secara langsung ketersediaan bahan baku gula mentah dan rafinasi yang siap diproduksi. “Terutama mengantisipasi permintaan menjelang puasa Ramadhan dan Idul Fitri,” ujarnya.

Pemerintah berharap produksi gula konsumsi atau gula kristal putih (GKP) bisa menormalkan kembali harga gula di pasaran. Saat ini pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) pada Rp 12.500 per kilogram.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok, kementerian menerbitkan izin impor untuk mengantisipasi kebutuhan industri mamin serta industri kecil dan menengah. Sejauh ini, kementerian telah mengeluarkan 15 surat persetujuan impor (SPI) untuk mendatangkan 520.802 ton gula. Hingga 9 April lalu, telah terealisasi 422.052 ton atau 81,04 persen dari kuota.

Sementara itu, Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Guntur Saragih menuturkan bahwa harga gula naik karena produksi dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan nasional. “Kita pahami produksi petani tebu mayoritas terjadi di semester II. Artinya, semester I tahun ini stoknya dari sisa stok semester II tahun lalu,” ujarnya. (*)