KPAI: Perhatikan Pengasuhan Anak Pasien Covid-19 dan Pekerja Ngontrak

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jasra Putra. (Foto.dok)

Perhatikan Anak Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti tentang kepastian pengasuhan anak-anak yang orangtuanya dalam perawatan medis karena terinfeksi virus korona (Covid-19).Selain itu antisipasi kondisi pekerja sektor informal, seperti buruh yang bisa jadi kehilangan tempat tinggal karena ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengurangan pendapatan. Apalagi hal itu sudah terjadi di dua episentrum ekonomi dunia, yakni Tiongkok dan Amerika Serikat.Hal itu diungkapkan Komisioner Hak Sipil dan Partisipasi Anak KPAI Jasra Putra, Selasa (14/4).

“Saya ingin lebih menfokuskan pada 70  juta pekerja sektor informal di Indonesia yang akan terkena dampaknya akibat resesi ekonomi global. Mereka ke depan akan terancam kehilangan tempat tinggal, akibat beberapa perusahaan membatasi produksinya. Artinya pendapatan dan penghasilan mereka akan memburuk,” jelas Jasra lewat keterangan persnya.

Pekerja tersebut, kata Jasra, terutama  mereka yang merupakan pekerja migrasi dari desa ke kota. Atau yang sama sekali tidak memiliki sanak saudara dan mengandalkan bekerja di kota dengan tempat tinggal rumah sewa, kontrak atau kost, baik sebagai perantau, berkeluarga, disabilitas, dan lansia. Sehingga tidak bisa kembali ke kampungnya,” jelas komisioner asal Sumbar itu.

Oleh karena itu, dia mengajak para anggota dewan baik di DPR RI dan DPRD agar berupaya pembahasan omnibus law diarahkan pada antisipasi kondisi pekerja sektor informal.

“Kondisi sekarang kita perlu memfokuskan diri. Dengan mendukung presiden mengembang skema-skema antisipasi dan bantuan kepada bangsa Indonesia seluruhnya,” imbaunya.

Salah satunya jatidiri negara agraris harus lebih dihidupkan, sebagai negara yang memiliki daya tahan sumber pangan yang baik, penting menjaga dan memastikan akses pangan dan daya beli pangan dalam krisis berkepanjangan ini.

Kondisi perekononian yang mungkin bisa buruk karena krisis berkepanjangan menyebabkan daya tahan setiap keluarga yang bekerja di sektor informal bisa menurun. Peran perusahaan di mana tempat mereka bekerja amat penting.

“Tiga faktor penting menjadi ancaman, pertama terkait akses makanan mereka, kedua akses tempat tinggal yang layak buat mereka, ketiga kesehatan jiwa yang bisa memburuk jika tidak diantisipasi karena situasi dirumah saja yang bisa berkepanjangan dan ruang gerak terbatas,” jelasnya.

Bila ketiga hal tersebut tidak tertangani dengan baik, maka akan berdampak pada kesehatan dan dapat lebih buruk lagi.

Jawaban terhadap permasalahan tersebut, kata Jasra, perlunya solidaritas yang tinggi, gotong-royong, bahu-membahu karena tidak semua masalah dapat dijawab pemerintah.

Membangun daya tahan dengan menghidupkan identitas bangsa agraris mulai harus dihidupkan. Segala yang kita beli, namun sebenarnya bisa kita tanam, bisa kita lakukan sekarang.

“Membantu keluarga buruh, mahasiswa, pelajar, lansia, disabilitas, perantau yang mandiri dan bertaruh hidupnya pada tempat tinggal sewa, kontrakan atau kost menjadi sangat penting. Dengan memberi insentif kepada mereka pada beban pembiayaan sewa tempat tinggal,” katanya.

Bila itu tidak dilakukan, kata dia, maka status bencana non alam ini, harus mendirikan tenda pengungsian, bagi mereka yang tidak bisa bayar sewa rumah, kontrakan atau kostnya. “Mudah mudahan tidak terjadi,” harapnya.

Pemerintah sendiri telah memiliki data, mereka yang tuna wisma, PMKS, gelandangan atau tuna susila, pengemis, daerah yang tidak layak disebut tempat tinggal karena sanitasi yang buruk, udara yang terpapar, slum area, daerah kawasan padat dan daerah di lingkungan perusahaan pengguna bahan kimia.

“Untuk itu pemerintah dan perusahaan harus membangun kapasitasi bersama, mengerahkan asetnya menghadapi krisis berkepanjangan ini. Agar skema bantuan yang sedang diperjuangkan pemerintah, ditunjang dari sektor lain. Serta penerima manfaatnya diperluas,” tegasnya.

Pemerintah juga diminta memastikan kondisi pengasuhan anak, baik di dalam negeri maupun anak-anak yang berada di luar negeri.

Untuk itu Jasra berharap kerja sama antara stakeholder kesehatan dan sosial. Panti-panti bisa diikutsertakan dalam permasalahan hilir wabah Covid 19. Agar pasien positif Covid 19 yang memiliki anak dapat dengan tenang menjalani perawatan.

“Itupun setelah dari garis keluarga tidak ada yang mengasuh, baru panti menjadi pilihan terakhir. Namun tetap saja sebagai respons kedaruratan panti bisa jadi shelter sementara sebelum memastikan pengasuhan penggantinya. Saya kira rumah sakit, puskesmas bisa menyertakan panti panti dalam bencana nasional non alam wabah Covid-19,” tukasnya.

Lebih lanjut dipaparkan Jasra, survei Deputi Tumbuh Kembang Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyatakan dari  4.000 anak ternyata 50% anak sudah mengalami kebosanan media belajar di rumah, dan survei UNICEF yang menyatakan 30% anak anak masih berada di luar rumah, karena media komunikasi Covid 19 yang belum efektif dirasakan anak-anak.(esg)