Belajar di Rumah Menjadi Beban, KPAI Kantongi Ratusan Pengaduan

Ilustrasi

Tak sampai sebulan, ratusan pengaduan masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ). Beban penugasan sekolah yang jadi keluhan. Banyak orang tua mengatakan bahwa selama proses belajar dari rumah, para guru terlalu banyak memberikan tugas yang akhirnya membuat siswa menjadi jenuh.

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyatakan, 213 pengaduan tentang PJJ yang mengalir sejak 16 Maret hingga 9 April tersebut telah dianalisis tim pengaduan KPAI. Ada beberapa hal yang jadi sorotan.

Pertama, penugasan yang dinilai berat dan waktu pengerjaan yang pendek. “Ada siswa SMP yang pada hari kedua PJJ sudah mengerjakan 250 soal dari gurunya. Ada siswa SD di Bekasi yang diminta mengarang lagu tentang korona,” ucap Retno, kemarin.

Selain itu, ada keluhan mengenai tugas merangkum buku. Ada juga sekolah yang memberlakukan pembelajaran disamakan dengan jam belajar di sekolah. Keluarga yang mendapat upah harian juga merasa kesulitan membeli kuota internet untuk pembelajaran daring.

KPAI juga menemukan kejenuhan dalam menjalankan PJJ. Hal itu tidak hanya diakui siswa, tapi juga guru. Retno merekomendasikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) untuk segera menetapkan kurikulum dalam situasi darurat.

KPAI juga akan membentuk tim pengkajian seiring perpanjangan masa belajar jarak jauh akibat pandemi Covid-19. Perpanjangan waktu itu diperkirakan hingga kenaikan kelas tahun pelajaran 2019-2020 pada akhir Juni. “Tim tersebut akan melakukan monitoring dan evaluasi terkait PJJ dan ujian kenaikan kelas,” ujar Retno.

Masalah pemberian tugas yang terlalu menumpuk itu diakui Direktur GTK Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikbud Praptono sempat terjadi. Sebab, sebagian guru masih terpaku pada penuntasan isi kurikulum. “Itu yang kemudian menyebabkan penugasan-penugasan yang diberikan kepada peserta didik menjadi sangat banyak,” ulasnya.

Padahal, lanjut dia, dalam kondisi saat ini hal itu bukan tuntutan utama. Yang ditekankan, bagaimana kegiatan belajar-mengajar bisa lebih efektif. Misalnya dengan project base learning. Pihaknya juga telah menyosialisasikan hal itu kepada para guru.

Guru Dituntut Kreatif

Sementara itu, terhadap banyaknya orang tua mengatakan bahwa selama proses belajar dari rumah, para guru terlalu banyak memberikan tugas yang akhirnya membuat siswa menjadi jenuh. Hal ini memang menjadi tantangan sendiri bagi para guru selama proses belajar mengajar dari rumah. Karenanya, guru dituntut kreatif dalam menyajikan materi sehingga siswa tidak bosan.

Sekolah Kharisma Bangsa (SKB) di Tangerang Selatan adalah satu dari sekian banyak sekolah yang menerapkan sistem ini. “Pembelajaran jarak jauh (online classroom, red) sebenarnya memberikan tantangan tersendiri bagi guru-guru Kharisma Bangsa,’’ kata Kepala SMP Kharisma Bangsa Sandra Susanto Selasa (14/4).

Sandra menuturkan sistem pembelajaran daring tidak boleh mengurangi kualitas dan produktivitas civitas sekolah Kharisma Bangsa. Menurutnya kunci efektifitas dari sistem pembelajaran daring adalah bagaimana guru tetap kreatif menyajikan pembelajaran secara daring. Kemudian juga tetap menyenangkan dan mudah dimengerti siswa. Sehingga siswa tidak menjadi bosan dan tetap produktif belajar dari rumah.

Sandra lantas menjelaskan sejumlah tantangan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan belajar dari rumah. Di antaranya adalah kemampuan presentasi guru secara daring melalui sejumlah aplikasi dengan cara yang menarik sehingga tidak membuat siswa bosan. Guru juga ditantang untuk mampu menyatukan persepsi dan konsentrasi anak didik yang berada dalam kondisi saing berjauhan.

Sandra juga menuturkan pada masa wabah seperti ini, guru dianjurkan tetap menyampaikan pesan kepada murid untuk menjadi anak-anak yang tangguh dan terus bersemangat dalam belajar. Guru juga ditantang untuk bisa mendorong kolaborasi antara orang tua dan pihak sekolah.

Lain halnya dengan SD Kharisma Bangsa. Mereka membuat proyek bersama berupa lagu berisi pesan untuk mengurangi potensi penyebaran Covid-19. Nantinya anak-anak akan menyanyikan bersama-sama lagu tersebut. ’’Semoga ini bisa menginspirasi dan memberikan pengalaman positif untuk anak-anak di masa pandemi Covid-19,’’ jelas Kepala SD Kharisma Bangsa Zubaidah. (*)