PUPR Tuntaskan Revitalisasi Saribu Rumah Gadang & Pasar Pariaman

71

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat telah menyelesaikan revitalisasi Kawasan Saribu Rumah Gadang (SRG) di Kabupaten Solok Selatan. Tuntasnya revitalisasi Kawasan SRG ini menambah daftar destinasi unggulan di ranah Minang yang siap dikunjungi wisatawan.

Kawasan SRG sangat istimewa karena dengan area seluas 23.6 Hektare, di dalamnya terdapat ratusan Rumah Gadang Bagonjong, Masjid, Surau dan Makam yang berumur ratusan tahun. Namun, seiring berjalannya waktu keberadaan Rumah Gadang mengalami kerusakan dan perlu direvitalisasi.

Revitalisasi kawasan rumah adat khas Minangkabau merupakan tindak lanjut atas pencanangan Presiden Joko Widodo saat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kota Padang pada Februari 2018 lalu. Kementerian PUPR melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Sumatera Barat, Ditjen Cipta Karya telah memulai kegiatan revitalisasi sejak November 2019 dan rampung 100% di Desember 2020.

Kegiatan revitalisasi meliputi pemugaran 32 rumah gadang, pembangunan menara songket, bangunan pusat informasi dan souvernir, panggung dan ruang terbuka hijau serta pekerjaan mechanical, electrical, dan plumbing (MEP) kawasan. Kini kawasan SRG siap diresmikan untuk segera dimanfaatkan sebagai Destinasi Pariwisata Permukiman Tradisional.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, “Penataan kawasan pusaka SRG intinya adalah pemugaran rumah gadang dengan melibatkan tukang-tukang tuo yang memiliki keahlian dalam membangun serta membuat ornamen bangunan, seperti ukir-ukiran. Keahlian ini perlu terus dipelihara, sehingga kegiatan pemugaran ini dapat menjadi pengalaman berharga bagi masyarakat setempat dalam memelihara tradisi dan keahlian yang unik”.

Konsep revitalisasi Kawasan SRG tetap mengedepankan keutuhan kearifan lokal yang dimulai dari proses Identifikasi dan Inventarisasi Kerusakan Rumah Gadang, hingga proses Perencanaan Rumah Gadang dengan melibatkan tim dari Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA), Dr. Ir. Johny Wongso dan Tim dari Universitas Bung Hatta yang merupakan Arsitek Rumah Gadang.  Proyek dengan biaya APBN 2019-2020 sebesar Rp67,3 miliar ini juga menggandeng kontraktor pelaksana PT. Wisana Matra Karya dan konsultan perencana PT. Jakarta Konsultindo.

Lokasi Kawasan Saribu Rumah Gadang (SRG) berjarak 147km dari Bandara Internasional Minangkabau dengan waktu tempuh sekitar 3,5-4 jam menggunakan transportasi darat. Selain dapat menambah daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara, harapannya Kawasan SRG mampu meningkatkan perekonomian masyarakat Solok dan sekitarnya.

Baca Juga:  Jalan Riau-Sumbar Tertimbun Longsor, Kendaraan Padat Merayap

Revitalisasi Pasar Rakyat Pariaman Tuntas

Sementara itu, 6 April 2021 lalu, Wapres RI Ma’ruf Amin telah meresmikan Pasar Pariaman yang telah selesai revitalisasinya oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Pasar Rakyat Pariaman ini telah menjelma menjadi sarana perdagangan rakyat yang aman, nyaman, bersih, tertata, dan lebih estetis (tidak kumuh),” ujar Ma’ruf Amin saat penandatanganan prasasti didampingi Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dan Wamen PUPR John Wempi Wetipo.

Wapres berharap selain sebagai sarana jual beli kebutuhan pokok masyarakat, juga menjadi bagian dari layanan wisata karena dekat dengan Pantai Gandoriah. “Pasar Pariaman diharapkan menjadi destinasi wisata belanja produk dalam negeri, sehingga juga bisa meningkatkan sektor ekonomi dari UMKM maupun pariwisata,” kata Ma’ruf Amin.

Pembangunan Pasar Pariaman ditandai dengan peletakan batu pertama saat Puncak Peringatan Hari Nusantara di Kota Pariaman Desember 2019. Konstruksi pasar dibangun dengan anggaran APBN Rp 92 miliar oleh kontraktor PT. Wika Gedung di atas lahan seluas 4,565 m2 dengan luas bangunan 10,889 m2 yang dapat menampung 562 pedagang. Bangunan pasar terdiri dari 362 kios dan 530 m2 area yang digunakan untuk menampung 200 los.

Revitalisi pasar dilakukan dengan membangun kembali pasar lama yang berusia lebih dari 100 tahun dan sudah mengalami beberapa kali kerusakan akibat kebakaran dan gempa bumi pada 2009 dan 2016. Konstruksi pasar dibangun dengan konsep ramah lingkungan, tahan gempa, dan mengadopsi pemanfaatan metodologi Building Information Modelling (BIM) berbasis industri 4.0.

Direktur Prasarana Strategis Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR Iwan Suprijanto mengatakan bangunan pasar menggunakan konsep green building yang diharapkan mampu meminimalkan penggunaan daya listrik dengan desain memiliki sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik, sehingga lebih ramah lingkungan.

“Untuk lantai 4 dilengkapi konstruksi atap dak beton sebagai shelter apabila terjadi bencana tsunami. Pasar juga dilengkapi fasilitas ramp seperti jalur evakuasi apabila terjadi gempa,” ujar  Iwan Suprijanto. (*)

Previous articleApresiasi Kesiapan Hadapi Bencana, Doni: Kontrol Warga Masuk Sumbar
Next articleSafari DPW NasDem Sumbar, Bantu Masjid Baiturrahman Padangpanjang