Penggerebekan Kantor Pinjol, Diwarnai Isak Tangis

53
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus (kedua kanan) bersama Dirkrimsus Kombes Pol Auliansyah Lubis (kanan) melihat langsung pekerja jasa pinjaman online (Pinjol) menagih nasabah yang berhutang usai penggerebekan kantor jasa pinjaman online yang tak terdaftar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bernama PT Indo Tekno Indonesia (ITN) di Cipondoh, Kota Tangerang, Banten Kamis (14/10/2021). Dalam penggerebekan tersebut polisi mengamankan 56 orang karyawan yang bekerja di bagian penawaran hingga penagihan FOTO: SALMAN TOYIBI/JAWA POS

Polda Metro Jaya menggerebek kantor pinjam online (pinjol) ilegal di Green Lake City Ruko Crown blok C1-7, Kota Tangerang, Banten, kemarin (14/10). Dari pengungkapan tersebut polisi mendapati 10 aplikasi pinjaman online ilegal, serta 32 orang diamankan.

”Hari ini, kami melakukan penggerebekan di PT ITN (Indo Tekno Nusantara). Di ruko ini ada 13 aplikasi yang digunakan, tiga aplikasi legal dan 10 ilegal. Ada tim analis, ada telemarketing dan terakhir kolektor,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, kemarin (14/10).

Yusri menyebut, sebanyak 32 orang yang diamankan merupakan manajemen dan karyawan di perusahaan penagihan pinjaman online ini.

Perusahaan pinjol ini ada dua jenis penagihan, yakni ada yang langsung dengan pengancaman dan ada yang melakukan penagihan melalui media sosial (medsos) atau telepon.

”Keberadaan pinjol dimasa pandemi ini sangat merugikan dan meresahkan masyarakat. Di medsos kami temukan ancaman,” terangnya.

Dikatakan Yusri, Polda Metro Jaya melalui Ditkrimsus melakukan kegiatan patroli cybe. Ia menegaskan pihaknya akan melakukan penegakan hukum secara tegas sesuai Undang-Undang perlindungan konsumen, ITE, pornografi dan KUHP.

Bahkan Kapolda telah membentuk tim dipimpin oleh krimsus terkait kejahatan pinjol. ”Pengerebekan perusahan pinjol ilegal ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombespol Auliansyah Lubis menambahkan, sejauh ini pihaknya telah berhasil membongkar 40 perusahaan pinjol ilegal.

Selain itu, pihaknya juga membongkar beberapa perusahaan penagih utang yang bekerja sama dengan pinjol ilegal. Ia berjanji akan terus bekerja untuk memberantas mereka.

”Dalam satu bulan sudah mengamankan 10 perusahaan pinjol ilegal, sebelumnya ada 30,” tuturnya.

Sementara, Dedi, 61, salah satu orang yang terkena dampak adanya pinjol merasa bersyukur. Sebab, putrinya sempat terjerat pinjol di gedung berlantai empat itu.

Ia masih ingat betul, putrinya mulai meminjam uang di Financial technology (fintech) ilegal itu sejak 2019. Mulanya, sang anak meminjam Rp 2,5 juta. ”Anak saya pinjam Rp 2,5 juta tapi kena bunga terus. Itu dari 2019, totalnya Rp 104 juta,” ujarnya.

Meski begitu, Dedi mengaku tidak mengetahui pasti apakah nominal yang dibayarkan itu berasal dari pinjaman Rp 2,5 juta atau akibat dari beberapa kali pinjaman.

Yang pasti Rp 104 juta itu merupakan biaya yang dia keluarkan untuk melunasi hutang anaknya. ”Anak saya bayar terus, kan bayarnya pakai ATM saya. Yang sudah dibayar Rp 104 juta, tapi beberapa kali mungkin anak saya pinjemnya,” katanya.

Dedi juga menceritakan betapa kejamnya pinjol ilegal itu menagih utang. Berbagai makian dan kata-kata bernada ancaman digunakan. ”Diancam dibunuh, anak saya mau diperkosa. Mereka ancam terus saya. Saya takut makannya saya angsur saja,” ungkapnya.

Selain itu, gambar-gambar tak senonoh juga terus dikirimkan melalui aplikasi pesan WhatsApp. Dirinya takut, namun juga bingung harus mengadukan ke mana.

Dedi tampak emosi ketika melihat para pelaku pinjol itu digiring kepolisian ke dalam mobil tahanan. Para pelaku langsung dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan.

”Kesel juga saya, ‘oh ini ternyata yang ngancem-ngancem keluarga saya’, mau saya pukul rasanya,” katanya.

Pantauan Jawa Pos (grup Padang Ekspres), situasi pengamanan para pekerja pinjol ilegal ke Polda Metro Jaya diiringi isak tangis orang tua pekerja.

Baca Juga:  Omicron Erat Kaitannya Dengan ODHA, Larang 11 Negara Masuk Indonesia

Liswati, salah satu orang tua pekerja pinjol ilegal tak berhenti menangis histeris melihat anaknya dimasukan ke dalam mobil tahanan. ”Tolong dibantu pak lepasin anak saya, baru kerja satu bulan dia,” ujarnya sambil meneteskan air mata.

Liswati mengatakan, anaknya baru satu bulan kerja sebagai operator penagih utang. Namun, dia tidak tahu pasti bagaimana cara anaknya menagih utang. ”Yang saya tahu dia nagis utangnya hanya lewat telepon,” katanya.

Liswati menceritakan, anaknya yang berinisial AA terpaksa bekerja di sana karena sulitnya mencari kerja dimasa pandemi Covid-19. AA sendiri sebelumnya bekerja disalah satu toko cat, namun terkena PHK.

”Awalnya di toko cat di deket sini tapi kena PHK, makanya cari kerja lagi dapetnya disini yang deket dari rumah,” katanya.

AA terpaksa harus bekerja untuk menopang perekonomian keluarga. Di mana, sang ibu hanya pedagang ikan dan pete. Sedangkan sang ayah bekerja sebagai ojek online.

Gaji yang diterima AA terbilang kecil. Padahal, beban kerja sebagai penagih hutang sangat besar. ”Gajinya cuma Rp 1,4 juta. Kerjanya dari jam 9 (pagi) sampai jam 7 (malam). Saya enggak tau apakah nanti gajinya bisa naik atau enggak,” katanya.

Dari gaji tersebut, AA memberikan ke sang ibu sebesar Rp 800 ribu. Dan, sisanya Rp 600 ribu digunakan untuk keseharian AA. ”Dia megang 600 ribu doang. Saya dikasih buat bayar kontrakkan. Karena, saya cuma kerja jualan pete dan sama ikan asin,” ungkapnya.

Liswati berharap sang anak dapat segera dibebaskan. Pasalnya, AA hanya bekerja sesuai dengan instruksi atasan. ”Saya mohon agar segera dibebaskan, dia cuma pekerja biasa,” katanya.

Selain di Tangerang, polisi juga menggerebek sindikat pinjol di Ruko Sedayu Square, Cengkareng, Jakarta Barat pada Rabu (13/10). Di lokasi tersebut polisi mengamankan 56 orang.

Kapolrestro Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi menyebut pengungkapan bermula dari laporan masyarakat adanya sindikat pinjol yang mengancam keselamatan warga.

Dari laporan tersebut, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Hasilnya, Unit Krimsus Polrestro Jakarta Pusat menemukan kantor sindikat pinjol tersebut.

”Kami lakukan pengecekan di OJK, hasilnya pinjol tersebut ilegal. Kami lalukan penggerebekan dan mendapati barang bukti, serta puluhan karyawan di ruko tersebut,” terangnya.

Hengki mengaku, pihaknya tengah mengembangkan kasus tersebut guna mengetahui siapa pemilik sindikat pinjol itu. ”Sampai saat ini kami masih mengembangkan kasus tersebut, nanti jika sudah selesai pemeriksaan semuabkami sampaikan lagi,” tuturnya.

Terpisah, legislator terus mendorong adanya tindak tegas terhadap pemberi pinjol ilegal yang merugikan masyarakat. Tak hanya menindak si pemberi pinjol sendiri, mereka juga mengusulkan agar investor yang menyokong pinjol-pinjol tersebut juga ditindak untuk memberikan efek jera.

Anggota Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengapresiasi dan mendukung penuh Polri yang akhirnya bergerak secara tegas menangani pinjol. ”Memang fenomena pinjol ini perlu perhatian khusus, sebab korbannya sudah banyak,” ungkap Sahroni dalam keterangannya Kamis (14/10).

Dia menyoroti soal dampak selain ekonomi yang ditimbulkan oleh pinjol. Yakni, sampai merugikan korban secara psikis. Sahroni pun berharap agar bukan hanya Polri, OJK juga turut memperketat pengawasan.

Bahkan, bukan hanya terhadap pinjolnya, melainkan juga pada investor yang mendanai pinjol tersebut. ”Sebagai lembaga pengatur dan pengawas, tentu OJK memiliki database dan informasi yang diperlukan,” tegasnya. (ygi/dom/deb/lum/jpg)