Era “New Normal” Lahirkan Percepatan Disrupsi Media

272
Komisioner KPI Pusat Yuliandre Darwis saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi webinar dengan tema “Peran Media Dalam Menghadapi Tatanan Kehidupan Global New Normal” di Jakarta, Rabu (17/6/2020) malam. (Foto: IST)

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengungkapkan besarnya kebutuhan untuk mendapatkan layanan internet yang mumpuni menjadi fenomena baru dalam tatanan kehidupan. Melalui media sosial, warganet menyampaikan keluh-kesah yang sedang dirasakan.

“Sebuah perubahan hidup dasar masyarakat saat ini. Masyarakat disuguhkan kemudahan dengan adanya kebutuhan baru yaitu internet,” kata Yuliandre saat menjadi pembicara dalam diskusi webinar dengan tema “Peran Media Dalam Menghadapi Tatanan Kehidupan Global New Normal” di Jakarta, Rabu (17/6/2020).

Menurut Yuliandre, bedasarkan data yang dihimpun Nielsen di semester awal tahun 2020, penetrasi penggunaan media sosial mencapai 80 persen, sedangkan media mainstream seperti televisi di peringkat dua dengan 77 persen.

Lebih lanjut, Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Pusat periode 2013-2017 ini mengatakan peran media di tengah proses adaptasi ke tatanan normal baru sangat vital. Pemerintah dalam hal ini tidak bisa bekerja sendiri untuk menyosialisasikan tahapan adaptasi sehingga memerlukan edukasi dari sebuah keakuratan informasi.

Media dalam new normal saat ini menjadi penting, paling utama adalah media wajib memberikan asupan informasi yang bersifat edukasi dan ajakan menyesuaikan diri sehingga media diharapkan dapat mendistribusikan informasi yang sesuai dengan fakta dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Peran media memberikan edukasi bagaimana sikap masyarakat di era new normal serta mengajak masyarakat menyesuaikan diri di era new normal ini,” tuturnya dalam diskusi yang diikuti pakar komunikasi dan motivator nasional Aqua Dwipayana.

Di samping itu, Yuliandre menekankan bahwa media wajib memiliki peran dan fungsinya sebagai wahana informasi terkait protokol kesehatan. Ini dirasa perlu dengan harapan media dapat menekan rasa panik masyarakat terhadap wabah Covid-19.

“Informasi yang membangkitkan kesadaran sosial, pemberitaan yang meningkatkan rasa optimisme sehingga menumbuhkan rasa percaya diri masyarakat,” katanya.

Andre begitu Yuliandre disapa, mengatakan, sejak Covid-19 muncul di Indonesia, terjadi peningkatan jumlah penonton televisi. Hampir sebagian besar masyarakat ingin mengetahui informasi tentang perkembangan Covid-19 dari hari ke hari.

Kondisi ini berbanding terbalik, di mana sebelum pandemi Covid-19, media televisi tidak begitu banyak ditonton.

“Ini perubahan yang terjadi. Jika sebelumnya televisi tidak begitu diminati, kini sejak pandemi Covid-19, televisi menjadi perhatian masyarakat,” sebutnya.

Selain televisi, kata mantan Duta Muda Unesco ini, juga terjadi kenaikan penggunaan aplikasi streaming di dunia.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Pusat, Yadi Hendriana mengatakan saat ini Indonesia sudah memasuki bulan ketiga pandemi Covid-19 dan pola komunikasi pemerintah yang kurang tanggap dan terkesan gagap semestinya sudah tepat.

Menurut Yadi, media dan pemerintah mempunyai titik fokus yang sama, masa pandemi ini etika dan regulasi penyampaian informasi ke masyarakat harus menimbang berbagai dampak.

“Media juga mendorong bagaimana pemerintah mengambil sikap untuk menyampaikan informasi dalam kaidah jurnalistik yang tepat,” kata Yadi.

Yadi mengungkapkan, saat pandemi Covid-19 ini memberikan pengaruh sangat besar ke televisi. Dari market share yang ada, penetrasi penonton televisi melonjak tajam hingga mencapai 18 persen.

“Dampaknya besar ke televisi, karena kita tidak lagi merasakan TV share audience di atas 18 persen. Pandemi Covid-19 membawa era televisi berjaya lagi,” ungkapnya.

Memperjelas yang Tersembunyi
Pemimpin redaksi Kumparan.com, Arifin Asydhad, mengungkapkan new normal adalah sebuah kebijakan. Artinya ada keadaan tertentu yang memang harus diputuskan oleh pemerintah untuk memberlakukan kebijakan new normal.

Menurutnya, di sinilah media harus berperan. Yakni menyosialisasikan kepada masyarakat tentang apa itu new normal. Bukan hanya menarasikan, tapi tugas media juga memperjelas sesuatu yang masih remang-remang atau menyingkap sesuatu yang masih tersembunyi.

“Pers sekarang selalu dibayang-bayangi oleh media sosial. Bahkan banyak pihak yang ingin menggunakan media sosial untuk melakukan kebijakan atau memang menggerakkan sesuatu yang berlawanan dengan kondisi dan fakta yang sebenarnya sehingga terjadi saling serang para netizen,” jelasnya.

Ketika kondisi saling bantah antara para netizen itu, menurutnya, media massa akan menjadi penengah yang bisa menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi.

“Pers itu nanti yang bisa menjelaskan kepada msyarakat tentang sesuatu yang masih tersembunyi itu. Misalnya soal kebijakan pemerintah yang belum tersampaikan secara transparan,” jelasnya.

Kemudian selanjutnya menurutnya lagi, masyarakat harus paham tujuan new normal. Media harus mengungkap tujuan ini. Kemudian media dapat mengambil sikap apakah mendukungnya atau justru menolaknya.

“Yang selama ini dikatakan tujuan new normal itu untuk membangkitkan kembali perekonomian. Inilah peran kita bagaimana kita menjelaskan tujuan new normal ini melalui pemberitaan-pemberitaan yang kita buat,” paparnya.

Kemudian dalam pemberitaan tersebut katanya pula, media juga harus mengungkap dengan data yang valid agar masyarakat bisa menilai apakah kebijakan new normal yang dilakukan pemerintah itu sudah tepat atau tidak.

“Kita harus mampu menjelaskan argumentasi yang dibuat pemerintah dengan parameter yang jelas, perlu data. Jika data ini tidak valid maka penerapan new normal ini tidak akan sempurna,” pungkasnya.

Ia menyebut, ada tiga fungsi media di era new normal ini. Pertama menarasikan sebuah kebijakan, kedua mengkritik kebijakan tersebut dengan kritik yang membangun. Ketiga, mempersuasi atau mengajak masyarakat untuk melaksanakan kebijakan tersebut. “Media perlu memberikan contoh,” ujarnya.

Sementara, praktisi media, Denny S. Batubara, menilai apa yang dialami pekerja media di masa pandemi ini adalah hal yang akrobatik. Ini adalah masa di mana media waktu itu gagap, di mana setiap media contohnya media televisi waktu itu belum mempunyai satu kesamaan dalam penerapan protokol kesehatan. “Kita tidak menyangka apa yang terjadi di Wuhan, China juga terjadi di Indonesia,” jelasnya.

Executive Producer Beritasatu TV ini menyebut, ada tiga periode yang terjadi selama pandemi Covid-19. Pertama periode adaptasi, bagimana tim media harus menjaga jarak dan bekerja dengan pola baru yakni protokol kesehatan.

Kedua, periode inovasi. Di sini media melakukan perubahan program dan harus terbiasa menggunakan teknologi untuk urusan wawancara dan siaran.

Ketiga periode edukasi, apa yang didapatkan media disampaikan kepada masyarakat. “Terutama tentang panduan kesehatan, kegiatan-kegiatan kemanusiaan dan berita-berita yang memberikan informasi yang positif kepada masyarakat,” jelasnya. (bis)