Darizal Basir Sesalkan Penolakan Pemerintah Singapura terhadap UAS

50

Anggota Komisi 1 DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Darizal Basir menyesalkan sikap Pemerintah Singapura yang melarang masuk Ustad Abdul Somad dan rombongan ke negara itu.

Sikap menolak warga Negara Indonesia yang memiliki dokumen keimigrasian lengkap masuk ke Singapura terasa janggal mengingat Singapura adalah negara tetangga dan sahabat.

“saya menyesalkan sikap pemerintah Singapura atas penolakan masuknya UAS dan rombongan ke negara itu. Menurut keterangan Dirjend keimigrasian tidak ada yang bermasalah dengan dokumen pasport UAS. Tentu sikap seperti ini terasa janggal sekali,” katanya.

Imigrasi Singapura diketahui telah menolak tujuh orang WNI termasuk UAS. Sedangkan enam WNI lainnya yakni berinisial SN, HN, FA, AMA, SQA dan SAM.

Subkoordinator Humas Ditjen Imigrasi, Achmad Noer Saleh dalam keterangan, Selasa (17/5/2022) mengatakan, sebenarnya tidak ada masalah dalam dokumen keimigrasian WNI tersebut.

“Tidak ada masalah dalam paspor mereka bertujuh dari Imigrasi Indonesia sudah sesuai ketentuan,” kata Achmad pula.

UAS beserta keluarganya ditolak masuk Singapura setelah sebelumnya berangkat menggunakan kapal MV Brilliance of Majestic Selasa (17/5) pada pukul 12.50 WIB dari TPI Batam Center.

Baca Juga:  Nevi Zuairina Suarakan Aspirasi Warga Sumbar-Pekanbaru, Percepat Jalan Tol

Setiba di Singapura, Otoritas Imigrasi dan Pemeriksaan Singapura (ICA) menolak masuk tujuh orang tersebut. ICA beralasan ketujuh orang itu tidak memenuhi syarat untuk berkunjung ke Singapura. Ketujuh WNI tersebut lantas langsung kembali ke Indonesia pada kesempatan pertama dan tiba kembali di TPI Batam Center pada pukul 18.10 WIB.

Lebih lanjut Darizal Basir mengatakan bahwa Pemerintah Singapura harus menjelaskan secara jelas dan terang terkait larang masuk ini. Jika tidak akan menjadi preseden buruk bagi hubungan persahabatan ke dua negara.

“Otoritas Singapura harus memberikan penjelasan secara resmi, terang dan jelas terkait kasus ini. Karena hal ini tentu akan menjadi preseden tidak baik bagi hubungan kedua negara,” terangnya. (yon)