Lima Ribu Jamaah Telah Pulang, Masjidilharam Masih Padat

4
Ilustrasi.(DAILYMAIL.CO.UK)

Gelombang kedatangan jamaah haji (JH) dari Arab Saudi terus mengalir. Hingga kemarin (17/7), Kementerian Agama (Kemenag) mencatat total 5.133 orang sudah tiba di tanah air. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.319 orang adalah JH khusus.

JH yang dipulangkan berasal dari delapan kloter. Mereka menuju lima debarkasi masing-masing. Yakni, Solo (SOC), Jakarta Pondok Gede (JKG), Jakarta Bekasi (JKS), Padang (PDG), dan Surabaya (SUB).

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkapkan, bandara-bandara yang melayani debarkasi haji siap menerima kedatangan JH. “Meskipun tidak ada karantina, kami bersama kantor kesehatan pelabuhan (KKP) akan mengawal dan memberikan pelayanan sebaik-baiknya jika ada jamaah yang mengalami kendala atau sakit,” ujar Budi.

Plt Kepala Biro Humas, Data, dan Informasi (HDI) Kemenag Wawan Djunaedi mengungkapkan, meskipun proses pemulangan sudah berjalan, Masjidilharam masih dipadati jamaah dari berbagai negara. “Sehingga, jika masih ada JH yang akan melaksanakan tawaf ifadah dan sai, hendaknya mereka dapat menyesuaikan. Mencari waktu yang tidak terlalu padat,” katanya.

Wawan menjelaskan, total JH sakit mencapai 102 orang. Sebanyak 26 orang di antaranya dirawat di RS Arab Saudi. Sedangkan 75 orang dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah. Lalu, JH wafat bertambah 4 orang. Masing-masing berasal dari Padang, Jakarta Pondok Gede, Surabaya, dan Solo. Dengan begitu, total JH meninggal berjumlah 56 orang.

Wawan juga menyampaikan larangan bepergian di luar kota perhajian. Sesuai ketentuan pemerintah Kerajaan Arab Saudi, wilayah pelaksanaan ibadah suci hanya meliputi dua kota, yakni Mekkah dan Madinah. Jeddah, Tan’im, dan Madain Saleh bukan termasuk kota perhajian. “Seluruh JH Indonesia tidak diperbolehkan pergi ke kota-kota tersebut dengan alasan apa pun,” tegas Wawan.

Baca Juga:  Nevi Perjuangkan Usulan Fraksi, Pansus Angket Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Meninggalkan kota perhajian, lanjut Wawan, hanya diperbolehkan untuk proses datang dan kembali ke negara asal JH dengan jadwal yang ditentukan. “Bepergian ke kota-kota selain perhajian bisa merugikan JH seperti apabila terjadi sakit, kecelakaan, atau kejadian lain yang tidak diinginkan,” jelas Wawan.

Inovasi Gizi

Seluruh JH yang dirawat di KKHI Mekkah serta pendamping atau keluarganya tetap mendapatkan makanan dan minuman. Menurut penanggung jawab gizi KKHI Mekkah Maman Haerurohman, setiap hari pasien mendapatkan tiga kali jatah makan dan dua kali snack.

“Untuk jamaah di RSAS (Rumah Sakit Arab Saudi, red) dibawakan makan ketika visitasi, satu kali sehari,” ujar Maman. Setiap hari petugas bagian gizi berkeliling ruang perawatan untuk melihat perkembangan pasien. Mereka juga menyampaikan edukasi gizi kepada pasien.

Untuk pasien yang membutuhkan diet tertentu, seperti pasien dengan diabetes melitus dan hipertensi, menu disesuaikan dengan rekomendasi dokter. Ada pengaturan jumlah dan komposisinya.

“Semua bahan makanan yang dipakai dipastikan menggunakan bahan-bahan segar,” katanya. Tahun ini ada dua inovasi yang dilakukan bagian gizi. Yakni, pemberian snack untuk pasien di poli risiko tinggi KKHI Mekkah sebelum fase Armuzna.

Lalu, program konsultasi gizi lewat WhatsApp untuk jamaah haji di kloter melalui tenaga kesehatan haji (TKH). “TKH konsultasi mengenai jumlah asupan kalori yang dibutuhkan jamaah serta saran menu bagi pasien,” jelas Maman. (tau/lyn/c7/oni/jpg)