Azyumardi Azra Meninggal di Malaysia, Jasanya Hingga Dunia Internasional

71
AZYUMARDI AZRA

Insan pers dan akademik tanah air berduka. Ketua Dewan Pers sekaligus guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra meninggal dunia di Selangor, Malaysia kemarin (18/9) sekitar pukul 12.30 waktu Kuala Lumpur. Sebelum meninggal dunia, Azyumardi sempat dirawat karena Covid-19.

Hingga kemarin sore tim dari KBRI Kuala Lumpur masih melakukan penanganan terhadap jenazah mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu. “(Pemulangan jenazah) Masih diurus. Belum tahu kapan, tetapi diupayakan secepatnya,” kata Dubes RI di Kuala Lumpur Hermono.

Dia belum bisa memberikan informasi detail, karena masih memimpin tim penanganan jenazah. Informasi resmi yang diterima KBRI Kuala Lumpur dari RS Serdang, tempat Azyumardi sebelumnya dirawat, akibat kematian karena Acute Inferior Myocardial Infarction.

Atau terdapat kelainan pada jantung. Azyumardi dinyatakan meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di bagian penderita gangguan pada jantung (cardiac care unit/CCU).

Azyumardi masuk rumah sakit di negeri jiran itu karena positif Covid-19 pada 16 September lalu. Dia dirawat setibanya mendarat di Kuala Lumpur. Selama menjalani penerbangan dari Indonesia menuju Malaysia, Azyumardi dilaporkan sempat mengalami sesak nafas.

KBRI Kuala Lumpur menyampaikan perwakilan keluarga, yaitu anak dan istri Azyumardi tiba di Kuala Lumpur pada 17 September. Mereka berdua langsung menjenguk Azyumardi yang dirawat di RS Serdang. Azyumardi berada di Kuala Lumpur dijadwalkan untuk menjadi narasumber pada Konferensi Internasional Kosmopolitan Islam di Selangor.

Kegiatan ini dijadwalkan digelar pada 17 September oleh Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Sejumlah tokoh pers di Malaysia juga berkesempatan menjenguk Azyumardi, yang belum lama didapuk sebagai Ketua Dewan Pers menggantikan M. Nuh itu.

Dari tanah air, ucapan duka terus bermunculan. Diantaranya disampaikan oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selama sepuluh tahun menjadi Wakil Presiden, Jusuf Kalla mengatakan hubungannya dengan Azyumardi sangat dekat. Sebab Azyumardi sempat menjadi Deputi Politik dan Staf Khusus di lingkungan istana Wakil Presiden.

“Begitu banyak jasa beliau kepada kita semua. Kepada umat. Kepada bangsa dan dunia internasional,” kata pria yang akrab disapa JK itu. Dia mengenang Azyumardi sebagai sosok yang sangat dihormati di kalangan intelektual dunia.

Azyumardi juga orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar Commander of the Order of British Empire (CBE) atau Sir dari Kerajaan Inggris. Penghargaan gelar tersebut diberikan untuk menghormati keilmuan Azyumardi.

Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas juga menyampaikan ucapan duka. Dia mengatakan kapasitas Azyumardi sebagai intelektual tidak diragukan. “Karya, ide, dan gagasannya sangat mencerahkan. Terutama pada ilmu kesejarahan yang menjadi bidang kepakarannya,” katanya.

Menurut Yaqut, almarhum adalah tipologi ilmuwan organik dan akademisi yang membumi. Dia juga menjadi sosok yang sangat responsif dan kontributif terhadap dinamika perkembangan zaman.

Azyumardi juga dikenal sangat produktif menulis. Tidak hanya itu saja, karya sosial dari Azyumardi juga banyak. “Seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, berhutang dalam ide dan gagasan hingga PTKIN bisa berkembang pesat hingga sekarang,” jelasnya.

Khusus untuk UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berkembang pesat hingga saat ini, juga bagian dari legacy Azyumardi Azra. Yaqut juga menyampaikan Azyumardi sosok yang sederhana. Kesederhanaan Azyumardi menjadi teladan bagi semua akademisi dan intelektual di Indonesia.

Baca Juga:  Bentuk TGIPF, Evaluasi Polda Jatim

Sementara itu, kepergian Azyumardi membawa duka yang dalam bagi PP Muhammadiyah. Seperti diketahui, Azyumardi merupakan salah satu cendekiawan muslim dari kalangan Muhammadiyah.

Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas mengatakan, kepergian Azyumardi sangat mengejutkan. Sebab, beberapa hari terakhir, almarhum masih aktif di sejumlah grup Whatsapp.

“Beliau baru saja pulang kampung ke Sumatera Barat kemudian ke Kuala Lumpur untuk menghadiri sebuah seminar yang dihadiri oleh Anwar Ibrahim,” ujarnya kemarin.

Kepergian mantan Rektor UIN Jakarta itu, kata Anwar, menjadi salah satu kehilangan besar bagi Indonesia. Sebab, almarhum termasuk sosok ilmuan yang berkelas dunia. Di mana banyak pandangan-pandangannya sangat dihormati dan banyak dijadikan rujukan.

“Bahkan, tidak ada tokoh dan cendekiawan dunia yang menjadikan Indonesia sebagai objek kajiannya yang tidak kenal dengan beliau,” tuturnya.

Salah satu jasa besar almarhum yang dipandang Anwar adalah transformasi UIN Jakarta yang dilakukan saat menjabat rektor. Bukan hanya secara fisik, Azyumardi juga dinilai berhasil menumbuh suburkan budaya akademik dan ilmiah di kalangan dosen dan mahasiswa.

Sehingga mengangkat UIN Jakarta menjadi sebuah Perguruan Tinggi Islam yang bergengsi dan rujukan studi Islam. Sebagai sesama putra Minangkabau, Anwar juga mengenang almarhum sebagai sosok yang peduli dengan budaya Sumatera Barat.

Salah satu peninggalannya adalah Kongres Kebudayaan Minangkabau yang akan dilaksanakan akhir tahun ini. Rasa kehilangan juga disampaikan mantan Ketum Muhammadiyah Din Syamsuddin.

Din menyebut kepergian almarhum sebagai kehilangan bagi bangsa Indonesia dan Dunia Islam. “Almarhum adalah cendekiawan Muslim yang telah menebar hikmah kebijaksanaan, dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi pembangunan peradaban utama di Dunia Islam,” kata Din.

Secara pribadi, Din mengenal almarhum sejak masih kuliah di IAIN (kini UIN) Jakarta. Bahkan, sama-sama melanjutkan studi ke Amerika dan kembali bersama saat dipercaya di Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia sebagai Wakil Ketua.

“Selama itu saya mengenal Almarhum sebagai sosok cendekiawan Muslim yang berpegang teguh pada prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan,” imbuhnya.

Din menegaskan, dia akan melanjutkan gagasan World Fulcrum of Wasatiyyah Islam (Poros Dunia Wasatiyyah Islam) pada Bulan November yang sempat digagas bersama Azyumardi. Itu bagian dari agenda untuk mengarusutamakan prinsip jalan tengah dari Indonesia ke Dunia Islam.

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) A. Benny Susetyo mengatakan, Setara Institute kehilangan tokoh bangsa sekaligus pendiri. Dia mengatakan Azyumardi adalah Ketua Dewan Nasional Setara Institute.

“Kita kehilangan tokoh kemajemukan dan intelektual yang memiliki wawasan kebangsaan yang menjaga keutuhan bangsa,” tuturnya. Benny mengatakan sumbangan terbesar pemikirannya mengenai Keindonesiaan dan Keislaman yang menjadi rahmat bagi bangsa Indonesia.

Bagi salah seorang tokoh pers Sumbar, Hasril Chaniago, Azyumardi Azra adalah salah seorang cendekiawan terbaik Indonesia. Beliau adalah satu dari sedikit cendekiawan dan pemikir Islam yang hingga kini tetap independen dan kritis terhadap kekuasaan.

“Di tengah kerisauan akan kelangkaan intelektual Islam dan ulama dari negeri ini, Azyumardi Azra adalah permata yang terus bersinar,” ungkapnya, sembari mengatakan nama Azyumardi Azra berarti permata hijau. (wan/far/jpg/cip)