Kiai Miftah Dinilai Kapabel Pimpin MUI dan Perkokoh Ukhuwah

156

Ulama sekaligus politisi dari Nahdlatul Ulama (NU) Hilmy Muhammad menyebut, hasil Rakernas V MUI mendorong seluruh elemen, khususnya pimpinan MUI di seluruh jenjang untuk kembali memperkokoh Ukhuwah Islamiyah, Ukhuwah Wathaniyyah dan Ukhuwah Insaniyah serta memperteguh posisi MUI sebagai Khadimul Ummah dan Shodiqul Hukumah.

Menurutnya, sejak dibentuk pertama kali, MUI sudah menempatkan dirinya di tengah-tengah. Antara masyarakat dan pemerintah.

“Di masyarakat, MUI berlaku sebagai Himayatul Ummah atau pelindung umat dan bagi pemerintah, menjadi mitra atau Shaqidul Hukumah,” ungkapnya kepada Radar Jogja (Grup Padek.co).

Menurut dia, hasil Rakernas MUI ke-V ini mengamanahkan kepada dewan pimpinan agar menjadikan Munas 2020 sebagai momentum reposisi peran, khidmah, kebangkitan, dan transformasi MUI di era Revolusi Industri 4.0. Dengan peran konstruktif Ketua Umum MUI sebagai lokomotifnya.

“Rakernas V MUI juga mengamanahkan penyiapan Munas dengan sebaik-baiknya. Hal ini penting dilakukan karena terjadi polarisasi di kalangan umat pasca-Pemilu 2019 akibat perbedaan ijtihad politik,” ungkapnya.

Hasil Rakernas MUI V mengamanatkan dan mengharapkan ketua umum ke depan dapat menjaga kesinambungan organisasi sekaligus tradisi alih kepemimpinan secara baik dan bijaksana bagi kelanjutan hubungan MUI dengan pemerintah, baik di pusat maupun daerah.

Sosok ketua umum MUI mendatang, merupakan isu sangat penting, strategis, dan akan menentukan arah bangsa ini ke depan. Setidaknya dalam ikut mengawal para pemimpin bangsa, MUI sebagai wadah berhimpunnya ulama, zuama, dan cendekiawan muslim di Indonesia, menjadi tumpuan harapan. 

Dia menegaskan, ketua umum ke depan diharapkan terbebas dari kepentingan yang berafiliasi pada kelompok radikalisme karena dapat memecah-belah anak bangsa khususnya umat Islam. 

Munas ke-10 MUI akan menjadi momentum sangat strategis dalam mengawal NKRI, umat dan bangsa ini ke depan. Karena itu, perlu dipersiapkan evaluasi dan perumusan program yang visioner, dan mengidentifikasi calon ketua umum yang memiliki kualifikasi keulamaan yang mumpuni dan istiqamah. 

“Kandidat atau tokoh yang memiliki peluang besar menjadi ketua umum untuk meningkatkan peran MUI sebagai Shodiqul Hukumah adalah KH Miftachul Achyar,” ucap sosok yang akrab disapa Gus Hilmy ini

Baca Juga:  Epson Luncurkan InkTank System Printer dan Business InkJet Printer 

Dia menilai, sudah wajar jika Kiai Miftah dicalonkan menjadi ketua MUI pusat. “Kalau terkait usulan itu wajar saja, Kiai Miftachul Achyar itu sekarang ada di Rais Aam NU yang merupakan ormas terbesar di Indonesia,” katanya.

Gus Hilmy menambahkan, kapabilitas Kiai Miftah levelnya sudah nasional. Pengalaman dan pengetahuan dinilainya sudah sangat mumpuni. “Selama ini juga banyak Kiai besar NU yang ada di MUI pusat,” tandasnya.

Pernyataan tak jauh berbeda diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum MUI DIY Malik Madani. Dia menilai wajar-wajar saja jika Kiai Miftah dicalonkan. Menurutnya, semua orang bisa saja dicalonkan bahkan mencalonkan diri menjadi ketua MUI pusat.

Kendati demikian, setiap orang yang dicalonkan maupun mencalonkan diri harus memiliki kemampuan dan pengalaman mumpuni. Pengalaman serta kemampuan itu dinilainya ada pada sosok Kiai Miftah.

“Saya kira semua orang boleh saja dicalonkan maupun mencalonkan diri, apalagi Kiai Miftachul Achyar adalah ulama besar. Tinggal bagaimana nanti yang memilih,” tuturnya. (rel)