Peluang Baru Dakwah Berbasis Digital, Pemuda mesti Berkolaborasi

32
Komisioner KPI Pusat Yuliandre Darwis. (Foto.dok.KPU)

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Yuliandre Darwis mengatakan penyampaian pesan dakwah dewasa ini idealnya memanfaatkan media yang dapat menyentuh masyarakat secara tepat dan menyeluruh.

Salah satu media komunikasi massa yang dapat digunakan adalah media konvensional. Mempunyai khalayak yang beragam dan hampir di setiap waktu menyapa pemirsanya. Oleh karena itu, dakwah melalui media televisi hingga digital dewasa ini cukup dapat diperhitungkan.

“Kita dalam negara yang mayoritas muslim ingin meliterasi tentang forum media yang terbuka kepada siapa saja. Dengan bonus demografi, tentu pemuda dengan semangat dalam kehidupannya tentu mengikuti perkembangan dunia,” tutur Yuliandre saat menjadi pemateri dalam diskus daring yang di selanggarakan Pemuda Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dengan tema “Peran Pemuda Dalam Membangun Sumatera Barat Berbasis Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” di Jakarta, Minggu (20/9/2020).

Presiden Presiden OIC Broadcasting Regulatory Authorities Forum (IBRAF) periode 2017-2018 itu mengungkapkan, di era keterbukaan media dibarengi situasi seolah-olah gaduh, terjadi distorsi informasi yang membuat pemuda mudah terhasut dalam sebuah opini yang berkembang.

Baca Juga:  Fokus Pemerintah pada UMKM Mesti Digencarkan

“Dulu dari fakta lalu menjadi opini, sekarang terbalik, sering terjadi opini yang diulang akan membentuk fakta dan ini menjadi tantangan terbesar dalam berdakwah. Saya berharap bahwa fungsi media sesungguhnya adalah sebagai kanal informasi yang sehat,” katanya.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa, Andre ini menilai, era keterbukaan informasi ini sebenarnya membuka peluang baru dan menjanjikan bagi pemuda yang mau berkolaborasi.

Dalam hal era media baru saat ini, ulama berdakwah telah masuk ke dalam ranah digital. Berbeda dengan media konvensional yang biasanya siaran keagamaan banyak di waktu subuh.

“Era saat ini adalah era kolaborasi. Contoh, banyak ulama yang mulai memiliki channel YouTube. Ini membuktikan bahwa adanya peluang baru dengan banyaknya pilihan dari dakwah digital. Jangan berjiwa egosentris,” katanya.(rel)