Hantaman Wabah Virus Korona, Pengangguran Bakal Tambah 5 Juta Orang

Ilustrasi.

Hantaman wabah virus korona di Indonesia, diprediksi bakal menambah jumlah pengangguran yang cukup signifikan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu memprediksi, angka pengangguran bisa bertambah antara 2,9 juta sampai lebih dari 5 juta orang berdasarkan skenario yang dibuat pemerintah.

“Dari simulasi yang kita lakukan, angka penambahan jumlah pengangguran tidak menyenangkan. Di kisaran 2,9 -5 juta,” kata Febrio dalam video conference, di Jakarta, kemarin.

Diterangkan Febrio, sebelumnya pemerintah sudah membuat skenario dampak wabah virus korona ke ekonomi. Skenario yang dibuat pemerintah ada skenario berat dan sangat berat.

Pada skenario berat, pemerintah mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi berada di level 2,3 persen dengan potensi angka pengangguran sekitar 2,9 juta orang. Sedangkan pada skenario sangat berat, pertumbuhan ekonomi nasional akan minus dengan potensi angka pengangguran mencapai lebih dari 5 juta orang. “Semua kemungkinan skenario ini kita siapkan,” kata Febrio.

Meski demikian, dikatakannya, pemerintah terus berupaya menyelamatkan perekonomian. Caranya, dengan mengucurkan stimulus yang totalnya mencapai Rp 438,3 triliun. Total stimulus ini berasal dari stimulus I untuk sektor pariwisata sebesar Rp 10,3 triliun, stimulus II untuk keringanan pajak sebesar Rp 22,9 triliun, dan stimulus III sebesar Rp 405,1 triliun.

Menurutnya, pemerintah tidak akan mampu bekerja sendiri untuk menyelamatkan perekonomian tahun ini. Karena itu, pemerintah membutuhkan bantuan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga pihak korporasi. “Kita mau lihat dari otoritas lain, OJK dan BI. Ketika kita lihat krisis sedalam ini, kita harus siap untuk berbagi beban,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memperkirakan jumlah pengangguran terbuka pada kuartal II-2020 akan bertambah 4,25 juta orang. Angka tersebut, merupakan proyeksi yang dibuat CORE berdasarkan skenario ringan dampak pandemi korona.

Sementara pada skenario sedang akan terdapat tambahan 6,68 juta orang yang menganggur. Sedangkan pada skenario berat sebanyak 9,35 juta orang. “Kenaikan jumlah pengangguran bukan hanya disebabkan oleh perlambatan atau penurunan ekonomi. Tapi juga disebabkan perubahan perilaku masyarakat terkait pandemi Covid-19 dan kebijakan pembatasan sosial. Baik dalam skala kecil maupun skala besar,” ujar Faisal dalam keterangan resminya.

Secara keseluruhan, tingkat pengangguran terbuka pada kuartal II-2020 diperkirakan akan mencapai 8,2 persen jika mengacu skenario ringan. Sementara jika menggunakan skenario sedang dan berat, tingkat pengangguran masingmasing mencapai 9,79 persen dan 11,47 persen. (*)