Wajib Rapid Test Antigen sampai 8 Januari

1181
ilustrasi. (net)

Setelah Satuan Tugas (Satgas)Penanganan Covid-19 mengeluarkan surat edaram terkait libur Natal dan Tahun Baru 2021, Kementerian Perhubungan juga mengikuti. Aturan ini merupakan petujuk pelaksanaan perjalanan orang selama masa libur Natal dan Tahun Baru. Beberapa moda sudah mengikuti aturan tersebut.

Surat Edaran (SE) yang diterbitkan Kemenhub merujuk pada Surat Edaran yang diterbitkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 No 3 Tahun 2020. Masa berlaku SE Kementerian Perhubungan tersebut untuk transportasi laut, udara, dan perkeretaapian berlaku mulai 22 Desember hingga 8 Januari. Sementara pada transportasi darat berlaku mulai 19 Desember sampai 8 Januari 2021.

”SE yang kami terbitkan merujuk pada SE Satgas Covid-19 Nomor 3 Tahun 2020, yang bertujuan untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran Covid-19 berpotensi meningkat akibat perjalanan orang di masa libur Natal dan tahun baru,” jelas juru bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati kemarin (21/12).

Kemenhub menerbitkan empat SE tentang juklak perjalanan orang. Dari transportasi darat ada SE Dirjen Perhubungan Darat No 20 Tahun 2020 dan laut terdapat SE Dirjen Perhubungan Laut No 21 Tahun 2020. Sedangkan transportasi udara ada SE Dirjen Perhubungan Udara No 22 Tahun 2020 dan perkeretaapian terdaoat SE Dirjen Perkeretaapian No 23 Tahun 2020.

Seluruh masyarakat yang melakukan perjalanan baik kendaraan umum maupun pribadi melewati batas daerah atau negara, wajib mematuhi SE ini. Yang dikecualikan adalah pelaku perjalanan penerbangan perintis, transportasi laut ke pulau kecil, dan dukungan distribusi logistik esensial. “Kami meminta kepada seluruh operator transportasi agar memenuhi semua ketentuan dan memberikan sosialisasi yang memadai kepada seluruh anggota masyarakat,” ungkap Adita. Masyarakat juga diminta mendukung protokol kesehatan.

Moda transportasi mengumumkan menggunakan rapid test antigen mulai hari ini hingga 8 Januari nanti. Yang wajib melengkapi persyaratan rapid antigen adalah penumpang kereta api (KA) jarak jauh. “KAI mematuhi seluruh aturan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintahi,” ujar EVP Corporate Secretary KAI, Dadan Rudiansyah.

Setiap pelanggan KA, menurut Dadan, wajib untuk menerapkan dan mematuhi protokol kesehatan yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Pelanggan KA Jarak Jauh di Pulau Jawa diharuskan menunjukkan surat keterangan hasil rapid test antigen negatif Covid-19 berlaku selambat-lambatnya 3 hari sebelum tanggal keberangkatan.

Sedangkan untuk perjalanan KA Jarak Jauh di Pulau Sumatera, pelanggan diharuskan menunjukkan surat keterangan hasil Rapid Test Antibodi Non Reaktif atau Tes PCR Negatif Covid-19 berlaku selambat-lambatnya 14 hari sebelum tanggal keberangkatan. “Adapun syarat-syarat tersebut tidak diwajibkan untuk pelanggan KA Jarak Jauh dengan usia dibawah 12 tahun,” ungkapnya.

Sebagai peningkatan pelayanan KAI kepada para calon pelanggan, mulai kemarin KAI menyediakan layanan Rapid Test Antigen di stasiun dengan harga Rp 105.000. “Layanan ini tersedia melalui Sinergi BUMN dengan Rajawali Nusantara Indonesia Group,” ujar Dadan. Pada tahap awal, layanan tersebut tersedia di Stasiun Gambir, Pasar Senen, Kiaracondong, Cirebon Prujakan, Tegal, Semarang Tawang, Yogyakarta, Surabaya Gubeng, dan Surabaya Pasar Turi.

Baca Juga:  Ekspor CPO Dilarang, Petani Sawit Manderita, Nevi: Evaluasi Kebijakan

Dia mengimbau masyarakat yang akan rapid di stasiun, tes dilakukan sehari sebelum keberangkatan. Sebab, proses pelayanan Rapid Test Antigen memakan waktu lebih lama dibanding Rapid Test Antibodi.Selain di stasiun, calon pelanggan juga bisa menggunakan hasil Rapid Tes Antigen dari Rumah Sakit atau Klinik yang terpercaya.

Sementara itu, PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) masih memberlakukan penggunaan hasil tes rapid antibodi bagi calon penumpang kapal PELNI. Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT PELNI O.M. Sodikin menegaskan peraturan tersebut dilakukan sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Perhubungan No 12 Tahun 2020 dan Surat Edaran Gugus Tugas COVID-19 No 3 Tahun 2020 tanggal 19 Desember 2020.

“Dalam SE tersebut, perjalanan dengan menggunakan moda transportasi laut masih mengikuti kebijakan yang sudah berlaku. Terkecuali bagi perjalanan menuju dan dari Pulau Bali yang wajib menggunakan rapid test antigen,” bebernya.

Ketua Umum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi sebelumnya menyatakan bahwa sikap pemerintah yang plin-plan merugikan masyarakat. Aturan dibuat setelah banyak yang membeli tiket. Akibatnya, harus membayar dua kali. “Dulu bilang libur lebaran diganti nanti akhir tahun. Sekarang ada aturan seperti ini,” ucapnya.

Diperpendeknya libur Natal dan tahun baru dikhawatirkan akan menimbulkan penumpukan penumpang. Maka harus ada antisipasi. Selain itu, dia menyarankan agar pemerintah konsisten dalam pemnanganan Covid-19. Tentu dengan aturan-aturan yang mendukung dan tidak merugikan masyarakat.

Sementara itu, Indonesia akan memiliki alat diagnosis Covid-19 terbaru. Uji diagnostic GeNose dinyatakan rampung. Sehingga, bisa segera diproduksi. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro mengatakan, berdasarkan hasil sementara tingkat akurasi GeNose diketahui mencapai 90 persen, konsisten dengan hasil yang dilakukan dengan swab test. Artinya, GeNose bisa dipakai sebagai alat deteksi untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Ia menuturkan, saat ini pihak peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) sedang mengurus izin edar di Kementerian Kesehatan. Masih ada satu laporan akhir yang perlu dilaporkan agar alat tersebut mendapatkan izin edar. “Kalau sudah izin edar bisa keluar bulan ini dan bisa disebarluaskan pada awal tahun depan,” tuturnya.

Menurutnya, banyak sekali kelebihan yang dimiliki GeNose. Selain akurasi, alat ini juga minim invasif. Cukup dengan menggunakan hembusan nafas yang kemudian disambungkan dengan mesin artificial intelligence yang akan membaca kandungan senyawa dalam nafas tersebut.

Waktu pemeriksaan juga relatif cepat. Tak lebih dari 3 menit sejak pengambilan nafas dilakukan. “Saya juga sudah mencoba sendiri, pemeriksaan hanya membutuhkan waktu di bawah 3 menit,” paparnya.

Bukan hanya itu, harganya pun bisa dibilang cukup murah. Diperkiakan, sekali tes cukup mengeluarkan dana sebesar Rp 15 ribu. Alatnya sendiri dibandrol sekitar Rp 60 juta, yang bisa digunakan hingga 100 ribu pemeriksaan. (lyn/mia/jpg)