Ikuti Aturan Saudi, CJH Tak Perlu Tes PCR

13
MANASIK HAJI: Sejumlah jamaah calon haji dan umrah mengikuti pelatihan manasik di Al Mahmudah Manasik Haji Training Centre Setu, Tangerang Selatan, Banten, kemarin (22/3). Seiring sudah dibukanya kembali Umroh dan makin dekatnya musim haji tahun 2022, sejumlah biro perjalanan haji dan umrah mulai melakukan pelatihan tata cara.(SALMAN TOYIBI/JPG)

Pemerintah terus menyiapkan teknis penyelenggaraan haji 2022. Itu menyusul keluarnya keputusan dari Arab Saudi yang kembali menerima jamaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Skema penyelenggaraan haji, khususnya dari aspek kesehatan, dipaparkan Kepala Pusat Kesehatan Haji (Puskeshaj) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Budi Sylvana dalam rapat bersama Komisi VIII DPR di Jakarta, kemarin (22/3).

”Jika jamaah haji diberangkatkan sekarang, berangkatnya tidak perlu swab PCR,” katanya. Namun, kebijakan resmi protokol kesehatan haji yang berlaku adalah saat menjelang keberangkatan.

Budi mengakui bahwa saat ini pemerintah Saudi melakukan berbagai pelonggaran. Termasuk tidak lagi mewajibkan adanya hasil tes swab PCR bagi WNA yang masuk ke sana. Termasuk untuk jamaah haji maupun umrah. Saudi juga menghapus aturan kewajiban karantina setelah tiba di Saudi.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, tes swab PCR tetap diberlakukan untuk jamaah haji saat akan pulang ke tanah air. ”Swab PCR maksimal 2×24 jam sebelum kepulangan,” katanya. Aturan tersebut sesuai dengan kebijakan yang diambil satgas Covid-19. Selain itu, jamaah wajib karantina satu hari saat kepulangan yang dilakukan di asrama haji.

Sejumlah persiapan, terang Budi, sudah dilakukan. Di antaranya vaksinasi meningitis ulang. Calon jamaah haji sejatinya sudah divaksin meningitis. Tapi, itu dilakukan pada 2020 sehingga perlu suntikan ulang. Anggaran untuk vaksin meningitis sekitar Rp 30 miliar. Selain itu, seluruh calon jamaah haji dianjurkan untuk vaksinasi Covid-19 dosis lengkap, bahkan booster juga.

Baca Juga:  PLTGU Riau Diresmikan, PLN: Listrik Andal Siap Sambut Investor di Sumatera

Kemenkes juga sudah menyiapkan anggaran operasional kesehatan jamaah haji. Di antaranya untuk obat-obatan dan alat kesehatan sekitar Rp 50 miliar. Lalu anggaran untuk operasional klinik dan kesehatan haji di Saudi Rp 37,77 miliar.

Untuk petugas kesehatan sebesar Rp 209 miliar. Budi menekankan bahwa anggaran tersebut disusun dengan asumsi kuota haji 2022 seperti pada 2019, yakni sekitar 221 ribu jamaah.

Dalam kondisi normal, jumlah petugas haji di bidang kesehatan yang dinaungi Kemenkes mencapai 1.832 orang. Sebanyak 1.521 orang tenaga kesehatan kloter. Kemudian, ada 311 orang petugas kesehatan sebagai panitia penyelenggara ibadah haji (PPIH) yang bertugas di Saudi.

Anggota Komisi VIII DPR Lisda Hendrajoni mengingatkan bahwa haji 2022 diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Jamaah tetap diimbau mematuhi protokol kesehatan meski di Saudi sudah diperlonggar.

Lisda mencontohkan, calon jamaah haji diminta untuk karantina mandiri di dalam rumah satu sampai dua pekan menjelang keberangkatan. Tujuannya ialah mencegah tertular Covid-19 saat akan terbang ke Saudi.

”Jangan sampai rugi sendiri karena terkena Covid-19 menjelang keberangkatan,” tuturnya. (wan/c9/fal/jpg)