Bahaya!! 1.765 Kecamatan Masuk Zona Merah, Pergerakan Ternak Diperketat!

28
DIRAWAT: Salah seorang peternak sedang memberi makan sapi yang terjangkit PMK. Dengan diberi ramuan herbal, agar segera sembuh.(ADE APRYANIS/JPG)

Penyakit kuku dan mulut (PMK) pada hewan ternak sudah mewabah di 19 provinsi. Masalah tersebut dibahas dalam rapat terbatas (ratas) kabinet yang dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) kemarin (23/6). Ada beberapa hal yang dihasilkan. Antara lain, penanganan akan dilakukan dengan konsep seperti penanganan Covid-19.

Seusai ratas, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan melarang pergerakan hewan hidup, terutama sapi. Ketentuan itu berlaku khusus pada wilayah yang terdampak PMK. Namun, berbeda dengan penanganan Covid-19, larangan mobilitas hanya pada level kecamatan. ”Kita sebut dengan daerah merah,” ujarnya.

Pembagian zona juga mirip saat PPKM Covid-19. Ada zona merah, kuning, dan hijau. Pada daerah merah, pembatasan pergerakan hewan lebih ketat. Hingga kini terdapat 1.765 kecamatan yang masuk zona merah.

Pemerintah juga akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan PMK. Satgas tersebut akan dipimpin Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto. Kolaborasi juga dilakukan dengan kementerian dan lembaga terkait.

Untuk mengurangi potensi penularan, pemerintah menyediakan vaksin PMK. Itu ditujukan untuk hewan yang sehat. Total vaksin PMK yang disediakan pemerintah 29 juta dosis.

”Seluruhnya akan dibiayai dengan dana dari KPCPEN (Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, red),” ungkap Airlangga.

Ketua umum Partai Golkar itu menerangkan, Presiden Jokowi turut memberikan arahan untuk terus mempersiapkan obat-obatan, vaksinator, dan mekanisme keluar masuk peternakan.

Pengawasan secara biohazard melalui disinfektan juga perlu terus dilakukan. Selain itu, atas hewan yang dimusnahkan paksa, disiapkan ganti rugi oleh pemerintah. ”Sekitar Rp 10 juta per sapi,” ucap Airlangga.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait. Selain itu, dia akan turun langsung ke lapangan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

”Setelah ini akan dilaksanakan rapat-rapat koordinasi dan turun ke daerah. Khususnya daerah-daerah yang merah,” katanya.

Ratas itu juga membahas persiapan menjelang Idul Adha. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyatakan, pihaknya akan melakukan pengaturan hewan kurban dalam situasi merebaknya PMK. Hal tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan hewan ternak pada saat Idul Adha akan meningkat.

Kemenag juga akan terus berkoordinasi dengan ormas-ormas Islam untuk menyosialisasikan ketentuan hewan kurban di masa PMK. Yaqut menyebutkan, hal utama yang harus dipahami, hukum kurban adalah sunah muakad atau sunah yang dianjurkan.

”Artinya, jika dalam kondisi tertentu kurban ini tidak bisa dilaksanakan, kita tidak boleh memaksakan,” tuturnya.

Yaqut berjanji mencarikan alternatif yang lain jika kurban tidak bisa dilaksanakan. Dia menekankan, aturan kurban akan mengacu ketentuan yang dibuat pemerintah, khususnya Satgas Penanganan PMK.

PMK di Jatim dan Jateng

Kasus PMK pada sapi di Jawa Timur (Jatim) terus menggila. Hingga Rabu (22/6) kasus PMK secara akumulatif tembus 103 ribu. Karena itu, vaksinasi pada hewan ternak terus digencarkan. Sapi siap potong dan sehat akan diprioritaskan mendapatkan vitamin.

Hingga kemarin (23/6) sebanyak 84.941 ekor sapi dalam kondisi sakit. Bertambah 5.180 kasus dalam sehari. Sementara itu, 571 ekor sapi mati akibat PMK dan 17 ribu dinyatakan sembuh dari PMK.

Sekretaris Dinas Peternakan (Disnak) Jatim Aftabuddin mengatakan, Jatim telah mengusulkan 1,5 juta dosis vaksin PMK ke kementerian. Saat ini vaksin datang secara bertahap. ”Sementara untuk tahap pertama ini masih 360 ribu dosis,” ucapnya kemarin.

Baca Juga:  PLN Siapkan Infrastruktur dan Stimulus, Perkuat Ekosistem Mobil Listrik

Aftabuddin menjelaskan, saat ini seluruh obat untuk sapi masih di-cover langsung oleh pemerintah pusat melalui APBN. Di Jateng, hanya dalam waktu kurang dari dua pekan, kasus PMK bertambah sebanyak 12.894 suspek.

Pada 8 Juni lalu, terduga PMK sebanyak 10.593 ekor. Lalu, kemarin bertambah 23.487 ekor. Meski begitu, Pemprov Jateng menyatakan stok hewan kurban tetap aman.

Berdasar data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) Jateng, terdapat surplus 26.620 ekor untuk kebutuhan kurban Idul Adha mendatang. Potensi ketersediaan hewan kurban mencapai 399.302 ekor, sedangkan kebutuhan kurban 372.682 ekor.

Kepala Disnakkeswan Jateng Agus Wariyanto kepada Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, dari 23.487 ekor yang mengalami gejala, sebanyak 300 ternak dinyatakan positif PMK melalui uji medis. Sebanyak 20.254 ekor ternak mendapatkan pengobatan.

Dari prosedur itu, 4.949 ekor dinyatakan membaik, sisa kasus 18.163 ekor, dipotong 259 ekor, dan mati 116 ekor. Pihaknya terus mengupayakan penyembuhan ternak yang terindikasi PMK di sejumlah daerah itu.

Terkait penutupan sejumlah pasar hewan, Agus menyebut hal itu menjadi kewenangan pemkab-pemkot. Dia menggarisbawahi, penutupan pasar hewan menjadi upaya mencegah persebaran transmisi PMK. Namun, hal itu harus diikuti dengan penjagaan lalu lintas hewan ternak.

Sementara itu, Pasar Hewan Kranggan, Temanggung, dibuka lagi setelah tutup selama dua minggu. Kemarin pedagang dan pembeli ternak memadati pasar tersebut. Dokter hewan yang bertugas, drh Antik Choiriyah, menuturkan bahwa pihaknya memeriksa hewan ternak yang masuk pasar. Hewan yang sakit tidak boleh masuk.

”Kendaraan yang masuk juga disemprot (disinfektan). Sejauh ini kondisi ternak yang masuk sehat-sehat karena di tingkat pedagang domba, ada paguyuban. Mereka saling mengingatkan sesama pedagang,” tuturnya. Di Pasar Kranggan tidak ada domba dan kambing yang terpapar.

Sopyan, pedagang sapi, mengaku tidak berani kulakan karena PMK membuat penjualan ternak menurun. Harga memang masih stabil, tapi sepi pesanan. Harga sapi layak kurban berkisar Rp 18 juta hingga Rp 22 juta. ”Sekarang masih 1–2 yang pesan. Harga sama seperti tahun lalu. Tahun lalu bisa menjual 25 ekor sapi, sekarang masih sepi. Padahal, mau Idul Adha,” katanya.

Pedagang kambing warga Sebanyon, Kranggan, Sudiyono mengungkapkan, harga kambing turun sekitar Rp 250 ribu. Harga kambing yang biasanya Rp 4 juta sekarang menjadi Rp 3,75 juta. Tahun lalu dia mendapat pesanan 45 ekor, sekarang hanya 20 ekor. PMK, menurut dia, tidak terlalu berpengaruh terhadap harga kambing. ”Di Temanggung tidak ada kambing yang terpapar PMK,” ujarnya.

Di Boyolali, warga digegerkan dengan empat sapi yang tergeletak lumpuh di Pasar Hewan Jelok kemarin. Semula empat sapi itu diduga terserang PMK. Namun, setelah dicek, ternyata sapi-sapi tersebut kelelahan setelah menempuh perjalanan dari Lumajang, Jawa Timur. Sapi itu langsung dievakuasi dan disterilkan.

Kepala UPT Pasar Hewan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Sapto Hadi Darmono menjelaskan, empat sapi tersebut milik pedagang asal Jelok, Cepogo. Diletakkan di Pasar Hewan Jelok sekadar untuk transit sekitar pukul 03.00.

”Tadi kan ada transit pedagang asal Jelok. Jadi, habis beli dari Lumajang, Jawa Timur. Karena di rumahnya nggak ada tempat menaikkan dan menurunkan sapi, jadi diturunkan di pasar,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (23/6). (lyn/elo/c9/oni/jpg)