Dua Bulan Ungkap Empat Mafia Uang Palsu

13
Barang bukti diperlihatkan saat pengungkapan Tindak Pidana Mata Uang Palsu di wilayah Jabodetabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Kamis (23/9/21). Bareskrim Polri mengungkap kasus tindak pidana pemalsuan uang dan peredaran uang palsu dilakukan sejak Agustus-September 2021 sebanyak 20 orang telah diamankan dan ditetapkan sebagai tersangka.FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

Mafia uang palsu makin gencar beroperasi saat pandemi. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim membongkar empat mafia uang palsu di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Tidaknya hanya mafia pengedarnya, pembuat uang palsu juga mampu ditangkap.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Rusdi Hartono menjelaskan, pengungkapan kasus uang palsu ini hanya untuk periode Agustus dan September. Artinya, hanya dalam dua bulan sudah ada empat mafia uang palsu yang bisa ditangkap. ”Dari empat mafia ini ada 20 tersangka yang ditangkap,” jelasnya.

Empat mafia uang palsu itu beroperasi di sejumlah wilayah, yakni Jakarta, Bogor, Tangerang, Sukoharjo, dan Demak. Dia mengatakan, modusnya dengan menjual uang palsu dengan uang asli, mengedarkan di pasar tradisional dan penggandaan uang. ”Ada uang Rupiah dan uang Dollar Amerika,” ujarnya.

Sementara Wadir Dittipideksus Bareskrim Kombespol Wisnu Hermawan menuturkan, untuk jaringan di Jakarta, Bogor dan Tangerang itu terdapat dua mafia uang palsu dengan 16 tersangka ditangkap. Mereka membuat uang palsu berupa Dollar Amerika dengan barang bukti 48 lak uang palsu. ”Mereka mengedarkan uang palsu asing untuk kepentingan orang asing,” jelasnya.

Untuk pembuat uang palsu ini masih didalami, petugas menduga pembuat uang palsu asing ini berada di Jawa Barat. Dia menuturkan, mafia uang palsu selanjutnya yang beroperasi di Sukoharjo, Jawa Tengah. Kelompok ini mengedarkan sekaligus membuat uang palsu Rupiah. ”Dua orang ditangkap di Sukoharjo,” tuturnya.

Kedua tersangka ini bahkan saat menjual uang palsu juga menunjukkan lokasi dan cara pembuatan uang palsu tersebut. Dia mengatakan, ada 138 lak uang palsu yang disita dari jaringan tersebut. ”Barang lain yang disita, seperti komputer, printer, hanpdhone dan mobil,” jelasnya.

Baca Juga:  PLTGU Riau Diresmikan, PLN: Listrik Andal Siap Sambut Investor di Sumatera

Terakhir, masih uang palsu ditangkap di Demak. Dia mengatakan, dua orang yang ditangkap di Demak ini, selain mengedarkan juga membuat uang palsu. ”Caranya sama dalam membuat, menggunakan komputer dan printer,” ujarnya.

Dari uang palsu mafia tersebut, dapat diketahui bahwa kualitasnya jelek. Warna uang palsu itu bahkan bisa luntur. ”Kualitasnya jelas jauh dengan yang asli, masyarakat kalau teliti bisa mengetahuinya,” terangnya di Bareskrim kemarin.

Dia menuturkan, selama dua tahun terakhir Dittipideksus mampu membongkar 48 mafia uang palsu dengan tersangka mencapai 110 orang. Dengan gencarnya pengungkapan mafia uang palsu ini, jumlah uang palsu di Indonesia ini sanga sedikit. ”BI yang mengetahui berapa uang palsu yang beredar,” ujarnya.

Sementara Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia (BI) Imanuddin menjelaskan, dari data yang didapatkan BI perbandingan uang asli dan palsu di Indonesia sangat rendah. Dalam satu juta lembar uang Rupiah, hanya ada tiga lembar uang palsu. ”Ini kami apresiasi kinerja Polri membongkar peredaran uang palsu,” tuturnya.

Perlu diketahui, untuk uang asing seperti Dollar Amerika tiap satu juta lembar uang asli bisa terdapat 100 lembar uang palsu. ”Jauh lebih banyak dibanding Rupiah Indonesia,” paparnya.

Dia menjelaskan, membongkar peredaran uang palsu ini begitu penting. Tujuannya, untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap mata uang sendiri, Rupiah. ”Mata uang Rupiah itu soal kedaulatan kita,” tegasnya. (idr/jpg)