17 Tahun Tsunami Aceh, BMKG Sudah Pasang 22 Sensor Seismograf Digital

49

Hari ini 17 tahun lalu, tepatnya pada 26 Desember 2004 terjadi tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam. Gempa berkekuatan Magnitudo 9,2 di Samudera Hindia barat Aceh memicu tsunami lebih dari 40 meter (Lhoknga).

Negara Indonesia, Srilanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah korban meninggal terbesar. Di Indonesia, tsunami menyebabkan lebih dari 126.000 orang meninggal. Di Srilanka dikonfirmasikan 45.000 orang meninggal dan lebih dari satu juta jiwa penduduk negara iti terkena dampak gempa secara langsung.

Di India, termasuk Kepulauan Andaman dan Nicobar diperkirakan menelan lebih dari 12.000 korban jiwa. Di Bangladesh ada dua korban meninggal. Di Thailand banyak wisatawan asing menjadi korban, terutama di Phuket yang  diperkirakan ada sekitar 4.500 orang meninggal.

Kemudian di Maladewa dilaporkan sekitar 53 orang meninggal. Malaysia melaporkan 66 orang meninggal, tapi diperkirakan korban jiwa berjumlah 600 orang. Bahkan di Somalia, yang jaraknya ribuan kilometer dari Indonesia, dilaporkan korban meninggal akibat tsunami lebih dari 100 orang.

Hal itu disampaikan Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengenang peristiwa gempa Aceh di akun Twitter dan Facebook-nya, Minggu (26/12/2021).

Lebih lanjut, Daryono mengungkapkan bahwa Aceh merupakan kawasan seismik aktif dan kompleks karena berdampingan dengan sumber Gempa Megathrust (M9,1-9,2) serta terletak pada jalur sumber gempa sesar aktif, yaitu segmen Seulimaum dan segmen Aceh dengan magnitudo dapat mencapai 7,0.

Gempa Aceh 26 Desember 2004 adalah yang terbesar di Indonesia tercatat oleh instrumen. Gempa ini menimbulkan bidang patahan 1.300 km dari barat Aceh hingga Kepulauan Andaman dalam rentang proses rekahan 12 menit membangkitkan tsunami dahsyat dan berdampak kerusakan lingkungan yang luar biasa.

Baca Juga:  Nevi Zuairina Menggulirkan Empat Program Unggulan di Dapil Sumbar II

Dalam catatannya, gempa besar yang memicu tsunami pernah terjadi beberapa kali pada masa lalu di Aceh, yaitu tajun 1861, 1886, 1907, 2004, 2005 dan 2012.

“Data hasil kajian tsunami purba juga mengungkap bukti terjadinya perulangan tsunami yang terjadi¬† ribuan tahun silam. Peristiwa gempa besar dimanapun akan selalu berulang,” imbuhnya.

Sedangkan di Indonesia, sudah terjadi gempa dahsyat lebih dari 16 kali sejak 1700-an. “Zona kekosongan gempa besar di zona megathrust patut diwaspadai,” ingatnya seraya memposting peta di bawah ini.

Menurut Daryono, tahun 2004 kita belum banyak memahami risiko tsunami. Jaringan monitoring gempa dan monitoring laut terbatas. Belum ada sistem peringatan dini tsunami. Masyarakat belum peduli tsunami. Layanan informasi tsunami baru diperoleh dari Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) & Japan Meteorological Agency (JMA).

Guna mendukung sistem prosesing yang cepat dan akurat dalam memberikan informasi gempabumi dan peringatan dini tsunami di Aceh, kata Daryono, BMKG saat ini sudah memasang sebanyak 22 sensor seismograf digital broadband di seluruh wilayah Provinsi Aceh.

Selain itu, agar info gempa dan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan BMKG dapat segera diterima pemerintah daerah dan stakeholder di Aceh, BMKG kini sudah memasang sebanyak 41 unit alat penerima informasi gempa dan peringatan dini tsunami, terdiri dari WRS New Generation, WRS 2 Way, dan WRS DVB.

“Di Aceh, BMKG juga memasang peralatan Early Warning System (EWS) Radio Broadcaster,” tambahnya.(esg/twt/fb)