PPKM Mikro dan Kecepatan Vaksinasi Hambat Laju Kasus

17
ilustrasi PPKM Mikro. (net)

Rapat terbatas (ratas) untuk membahas penanganan Covid-19 kembali dihelat, kemarin (26/4). Salah satu yang diperintahkan Preisden Joko Widodo adalah seluruh kebijakan tidak diubah karena sudah sesuai. Di sisi lain, kemarin vaksin Covid-19 dari AstraZeneca kembali datang.

Seusai ratas, Menkes Budi Gunadi Sadikin menyampaikan hasil rapat. Dia menyatakan bahwa Presiden Jokowi meminta agar tidak ada kebijakan yang diubah. Sebab, keseimbangan antara penanganan sisi kesehatan dan ekonomi sudah berjalan dengan baik.

“Apa yang dilakukan dari sisi kesehatan memberikan respons positif, semuanya turun. Sisi ekonomi juga baik,” kata Budi.

Apa yang dialami Indonesia saat ini tak perlu diubah ke arah yang buruk.
Jika yang dilkukan belakangan terus dilakukan, maka hasilnya bisa jadi lebih baik. Artinya PPKM mikro, kecepatan vaksinasi, dan protokol kesehatan tetap dilakukan. ”Jangan sampai kita berperilaku yang mengubah keseimbangan itu,” tuturnya.

Pelaksanaan PPKM mikro dan vaksinasi massal, menurut Budi, dapat menekan laju kasus aktif Covid-19 selepas libur panjang lalu. Padahal biasanya libur panjang merupakan awal dari lonjakan kasus Covid-19. “Dua minggu setelah liburan Paskah memang kita amati ada kenaikan sedikit, tetapi tidak sebesar kenaikan liburan-liburan sebelumnya,” ungkap Budi.

Ke depannya, Budi berharap agar perkembangan ini dapat terus terjaga baik tingkat kasus aktif, tingkat kesembuhan, maupun tingkat keterisian rumah sakit yang merawat pasien Covid-19.

Presiden Joko Widodo telah melakukan pembicaraan tingkat tinggi dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinpin terkait pasokan vaksin CoronaVac dari perusahaan farmasi Sinovac. “Ada tambahan vaksin Sinovac yang akan masuk antara 10 sampai 15 juta untuk bulan April dan Mei,” ujar Budi.

Sebelumnya, dikhawatirkan vaksin Covid-19 di Indonesia menipis karena embargor dari beberapa negara yang mengalami lonjakan kasus yang signifikan. GAVI pun juga memambah dpsos vaksin. Kemarin, data 3,8 juta dosis vaksin dari AstraZeneca. Dengan datangnya sejumlah dosis vaksin Covid-19 tersebut ke Indonesia, maka pemerintah akan kembali melakukan percepatan vaksinasi massa.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi kembali mengawal kedatangan vaksin multilateral dari COVAX facility kemarin malam. Pada batch kedua ini, Indonesia menerima vaksin jadi Astra Zeneca (AZ) sebesar 3.852.000 dosis. Dengan kedatangan batch kedua ini, maka Indonesia telah menerima vaksin Astra Zeneca dari COVAX facility sebesar 4.965.600 dosis vaksin jadi secara gratis.

”Jika kita gabungkan, vaksin dari jalur multilateral dan dari jalur bilateral, maka sejauh ini vaksin yang telah tiba di Indonesia adalah berjumlah 67.465.600 dosis,” ujarnya. Retno menekankan, dari sejak awal pandemik hingga saat ini, pemerintah Indonesia terus mengupayakan ketersediaan vaksin bagi kebutuhan dalam negeri, sambil terus memperjuangkan kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

Untuk itulah, Indonesia aktif dalam pembahasan isu vaksin dunia. Seperti diketahui, Indonesia juga duduk sebagai salah satu co-chairs dalam Covax AMC Engagement Group.
Diakui Retno, saat ini kebutuhan dunia akan vaksin semakin meningkat. Bahkan, terjadi perlambatan pengiriman vaksin di seluruh dunia. Keadaan baru ini mengharuskan

Pemerintah Indonesia bekerja lebih keras agar ketersediaan vaksin yang aman bagi rakyat Indonesia dapat tercukupi. “Day and nite, kita terus berupaya agar program vaksinasi nasional dapat terus berjalan. Siang dan malam, kita terus melakukan diplomasi agar kebutuhan vaksin kita tercukupi,” tegsanya.

Karena kegigihan ini, lanjut dia, Indonesia sejauh ini berada di urutan ke-3 dengan jumlah pemberian vaksinasi terbesar di kawasan Asia, setelah RRT dan India. “Program vaksinasi harus terus kita dukung dan jalankan. Ini tentunya bukan sebuah ikhtiar yang mudah,” sambungnya.

Baca Juga:  CJH Diminta Siap Hadapi Keputusan Terburuk

Lebih lanjut, Retno meminta semua pihak untuk terus mencermati perkembangan Covid-19 di dunia. Dari kejadian tersebut, masyarakat bisa belajar, terutama dari munculnya gelombang baru di sejumlah negara. Sehingga, kejadian serupa tidak terjadi di Indonesia.

Upaya mencegah itu dapat dilakukan bila semua kalangan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Tidak pernah lengah karena perang melawan Covid-19 masih jauh dari selesai.
Sebagai penutup, Retno pun menyampaikan terima kasih kepada GAVI, WHO, UNICEF dan CEPI yang telah memberikan kerja sama sangat baik, sehingga pengiriman vaksin multilateral dapat berlanjut di tengah tantangan-tantangan baru yang muncul.

Ia berharap, pengiriman vaksin multilateral selanjutnya dapat terus dilakukan sesuai dengan rencana. Terpisah, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah tengah fokus mencegah masuknya varian virus korona baru. Salah satu caranya adalah dengan mewaspadai kepulangan Pekerja Migran Indonesia (PMI) jelang Lebaran 2021.

Jumlah kepulangan mereka pun cukup besar. Pada Minggu (25/4) saja, di Bandara Juanda, Surabaya, terdapat sebanyak 500 kedatangan PMI yang pulang ke tanah air. Kepulangan PMI ini, menurut dia, memang tidak bisa ditolak. Apalagi, ada sejumlah PMI yang telah habis masa kontraknya.

”Ini harus diwaspadai betul. Pemerintah sedang fokus betul-betul mencegah masuknya varian baru,” ujarnya.

Antisipasi tersebut berkaca dari tingginya lonjakan kasus di India dan marak muncul varian baru virus SARS-CoV-2. Varian baru tersebut diketahui jauh lebih berbahaya dari varian sebelumnya, terutama varian yang berasal dari Eropa dan India. Makanya, kata Muhadjir, pemerintah saat ini memperketat kedatangan orang dari luar negeri. Termasuk, bagi para OMI yang akan masuk. Seluruhnya akan dikarantina secara lebih ketat dibanding sebelumnya.

“Kita perketat. Karena gejala inkubasinya juga beda dengan Covid-19 sebelumnya,” jelas Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) tersebut. Menurutnya, bila sebelumnya 5 hari sudah dinyatakan aman, saat ini justru hingga 10 hari gejala baru muncul gejalanya. “Dan yang paling harus kita waspadai adalah dari India,” sambungnya.

Sejumlah daerah kini pun sudah menyediakan tempat isolasi mandiri bagi mereka yang nekat mudik, baik antar kota maupun mereka yang dari luar negeri. Di Madiun misalnya, pemerintah daerah telah menyediakan area bekas penjara zaman kolonial untuk pemudik yang nekat. “Ini sebagai alternatif terakhir kalau tempat karantina yang lain sudah penuh,” ungkapnya.

Sebagai informasi, pemerintah setempat sebetulnya telah menyediakan lokasi isolasi di asrama haji. Namun, bila tak mencukupi akan dikirim ke lokasi bekas penjara ini. “Tapi saya imbau kepada siapa saja untuk tetap tidak mudik. Yang nekat mudik nanti ditaruh di sini saja,” pungkasnya.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengingatkan masyarakat untuk bersabar dalam menghadapi pandemi. Salah satunya menahan diri untuk tidak mudik dalam merayakan hari raya bersama orang tua.

“Kenapa tidak boleh mudik karena manusia menjadi perantara membawa virus Covid dari satu daerah ke daerah lainnya. Yang berbahaya adalah mereka yang masuk dalam kategori orang tanpa gejala (OTG),” tambahnya. (jpg/wmi)

Previous articleBIN Sebut KKB Separatis-Teroris
Next articleSiswa SD-SMP Ethiopia Ingin Belajar di Indonesia