Yakin Ramai setelah Vaksinasi, Presiden Resmikan Bandara YIA

Presiden Joko Widodo meninjau kemegahan bandara Yogyakarta International Airport (YIA) yang baru diresmikan operasionalnya, kemarin (28/8). (IST)

Hampir seluruh penerbangan komersial dari dan ke DIY resmi pindah bandara. Itu setelah Presiden Joko Widodo kemarin meresmikan operasional Yogyakarta International Airport (YIA). Dengan kapasitas yang jauh lebih besar dari bandara Adisutjipto, YIA diproyeksikan mampu mendatangkan wisatawan lebih banyak ke DIY pascapandemi nanti.

Bandara tersebut sebenarnya sudah mulai beroperasi pada Akhir Maret lalu meskipun banyak pembatalan penerbangan yang dilakukan. Penerbangan sempat nyaris berhenti total saat terbit larangan erbang per 24 April. Saat penerbangan mulai dibuka lagi hingga peresmian kemarin, sebagaimana umumnya bandara saat ini, YIA masih belum benar-benar beroperasi normal.

Presiden menuturkan, dia bisa memaklumi kondisi penerbangan yang masih sepi karena memang banyak pembatasan. “Tapi begitu mulai vaksinasi (Covid-19), Insya Allah saya meyakini bandara ini (YIA) menjadi bandara yang paling ramai,” ujarnya.

Itu didasari pada kapasitas bandara yang belasan kali lipat lebih banyak ketimbang Adisutjipto. Jauh sebelum itu, presiden pernah menyebut masyarakat sudah rindu liburan. Dia yakin pariwisata akan langsung booming bila pandemi sudah berhasil diatasi.

Selain bandara, kemarin presiden juga meresmikan menara airnav dan sistem peringatan dini tsunami di pantai selatan Jawa. Berkaitan dengan itu pula, presiden membanggakan sistem konstruksi YIA yang diklaim lebih tahan gempa dan tsunami. YIA didesain memiliki daya tahan terhadap gempa sampai 8,8 skala richter. “Juga bisa menahan gelombang tsunami hingga ketinggian 12 meter,” lanjutnya.

Selain kapasitas yang jauh lebih besar, YIA juga siap untuk didarati hampir semua jenis pesawat komersial. termasuk jumbo jet seperti Airbus A380 atau Boeing 747. Juga pesawat berbadan lebar seperti Boeing 777/787 dan Airbus A350. Itu karena runway yang panjangnya mencapai 3.250 meter dan kekuatan landasan yang lebih memadai.

Sementara itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, Bandara Internasional Yogyakarta diharapkan dapat membantu menarik wisatawan lokal dan mancanegara. Konektivitas menjadi hal penting untuk pemulihan ekonomi nasional di tengah pandemi Covid-19. Di DI Yogjakarta dan Jawa Tengah, terdapat banyak tempat wisata. Salah satunya adalah kawasan destinasi super prioritas Candi Borobudur.

Baca Juga:  Cegah Klaster Pilkada, Ini Masukan Mantan Mendagri Gamawan Fauzi

Kementerian Perhubungan telah memastikan adanya dukungan transportasi antarmoda untuk memudahkan pergerakan penumpang dari Bandara menuju kota Yogyakarta dan destinasi wisata. Ada berbagai pilihan angkutan, seperti Angkutan Pemadu Moda Damri, SetelQu, taksi bandara, taksi online, dan kereta api.

Ke depannya, jalur kereta akan langsung masuk ke dalam area bandara. “Dengan adanya konektivitas antarmoda ini kami harap dapat memulihkan perekonomian nasional dengan menarik lebih banyak wisatawan,” ujarnya.

Direktur Utama AirNav Indonesia Pramintohadi menyampaikan bahwa bandara YIA memiliki tower ATC yang canggih. Salah satunya, tower dibangun tahan terhadap tsunami dan dapat langsung beroperasi melayani penerbangan setelah tsunami berhenti.

Menurut Pramintohadi itu dikarenakan seluruh peralatan navigasi ditempatkan pada ketinggian 15 mdpl. “Kami juga melayani pendaratan pesawat berbasis satelit, yang biasa disebut Performance Based Navigation (PBN),” ungkapnya.

Dia menjelaskan kapasitas runway YIA mencapai 28 pergerakan per jam. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Adi Sutjipto yang hanya sebanyak 17 pergerakan per jam. “Jadi bisa dibayangkan penambahan kapasitas pergerakan pesawat udara yang cukup signifikan dalam mendukung konektivitas udara untuk wilayah Yogyakarta,” paparnya.

Alur penerbangan di bandara ini lebih lancar dibandingkan Bandara Adi Sutjipto, sehingga jadwal penerbangan lebih teratur. Dengan peresmian tersebut, wilayah ruang udara Yogyakarta saat ini memiliki dua bandar udara aktif. AirNav Indonesia, lanjutnya, telah menyiapkan skema operasional layanan navigasi penerbangan untuk kedua bandar udara tersebut secara bersama-sama.  “Bandara Adi Sutjipto akan beroperasi untuk slot penerbangan militer dan training,” ungkapnya. Sedangkan untuk YIA akan fokus melayani penerbangan komersil.

Dengan penambahan kapasitas ini artinya potensi jumlah penumpang semakin meningkat. Tak hanya jumlah wisatawan namun juga penumpang haji maupun umroh juga meningkat. “Konektivitas di jalur selatan Jawa yang masih sangat tinggi potensinya menjadi lebih dimanfaatkan,” bebernya. (byu/ly/jpg)