Letjen TNI Doni Monardo: Saat Adaptasi Kebiasaan Baru Daerah Harus Kreatif dan Inovatif

16
Letjen TNI Doni Monardo. (Jawapos.com)

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo menegaskan saat adaptasi kebiasaan baru (new normal) setiap daerah harus kreatif dan inovatif agar tidak terpapar Covid-19 dan tidak terkapar pemutusan hubungan kerja (PHK). Dengan demikian tetap sehat dan ekonomi di tiap daerah kembali bergerak.

Penegasan itu disampaikan Doni, Senin (29/6/2020) malam saat makan malam bersama Pelaksana tugas Deputi II Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi, LO BNPB Wilayah DKI Jakarta Mayjen TNI Purn Afanti S Uloli di Gedung Graha BNPB Jakarta Timur.

Menurut Doni, kreativitas dan inovasi itu sangat penting dilaksanakan di semua daerah di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat serta para ahli bisa bersama-sama memikirkannya. Kemudian melaksanakannya dan secara rutin melakukan evaluasi. “Kegiatan masyarakat yang produktif tetapi aman Covid-19 harus terus didorong. Untuk itu protokol kesehatan secara ketat secara terus-menerus perlu dilaksanakan,” lanjut Doni.

Disiplin Menegakkan Protokol Kesehatan
Mantan Sesjen Wantannas itu mengatakan, kunci keberhasilan masyarakat agar dapat tetap menjalankan aktivitas dan terbebas dari Covid-19 adalah disiplin dalam menegakkan protokol kesehatan. Hal ini mutlak dilakukan dan tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Doni mencontohkan pengaturan pengunjung di pasar. Karena jumlah orang yang datang banyak ke tempat itu maka harus diatur sehingga tidak terjadi kerumunan orang.

Salah satu caranya dengan memakai kartu berwarna yang disiapkan pengelola pasar kepada para pemgunjung. Diatur sesuai warnanya yang bisa masuk pasar.
Misalnya setiap warna maksimal 2 jam di pasar.

Contohnya tambah Doni, kartu warna merah jadwalnya pukul 05.00 -07.00. Kartu warna kuning pukul 07.15-09.15. Mereka yang memegang kartu di luar jam yang telah ditetapkan dilarang masuk pasar. Begitu waktunya sudah mau habis, agar diingatkan. Kemudian saat habis waktunya agar diminta keluar pasar. Kemudian pemegang kartu berikutnya yang masuk pasar.

Agar kartunya terlihat jelas oleh petugas pengamanan pasar maka harus dipakai setiap pengunjung saat di pasar. Dengan begitu semuanya bisa dikontrol. Jika ada yang melanggar dapat segera ditertibkan. Rasio luas pasar dengan jumlah pengunjung harus diatur. Intinya selama di pasar antarpengunjung tetap jaga jarak. Begitu juga dengan para pedagangnya.

“Selain itu sebelum masuk pasar semua pedagang dan pengunjung harus pakai masker. Jika ada yang tidak memakai masker, dengan tegas namun disampaikan secara sopan dan santun, dilarang masuk. Alternatif lain pengelola pasar memberikan masker kepada yang tidak memakainya. Ini sekaligus sebagai sosialisasi,” ungkap Doni.

Contoh Daerah Lain yang Sukses
Mantan Danjen Kopassus itu yakin sekali banyak kreativitas dan inovasi lainnya yang bisa dilakukan daerah-daerah di era adaptasi kebiasaan baru ini. Untuk itu kearifan lokal tetap harus harus diperhatikan, bahkan dilaksanakan jika memang tepat untuk dilakukan.

Di samping itu, Doni mendorong agar daerah-daerah mencontoh kota atau kabupaten yang sudah berhasil melakukan berbagai hal di era adaptasi kebiasaan normal. Jangan pernah ragu melakukan itu.

“Contohnya di bidang pariwisata, Kabupaten Banyuwangi telah sukses menerapkan aturan buat obyek-obyek wisata dan pendukungnya termasuk restoran. Saya telah melihat langsung di Banyuwangi pada Kamis dan Jumat (25-26/6/2020) lalu,” jelas Doni.

Sebelum objek-objek wisata itu dioperasikan, semuanya lebih dulu dicek secara detail kesiapannya oleh tim yang dibentuk pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Kepada yang memenuhi syarat akan diberikan sertifikat. Secara periodik dinilai konsistensi pelaksanaannya.

“Kepada yang melanggar langsung dicabut izin operasionalnya dan usahanya ditutup. Kami tidak mau mengambil risiko apalagi sampai ada yang terkena Covid-19,” tegas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. (rel)