Pemerintah Tetapkan Idul Adha 10 Juli, Muhammadiyah 9 Juli

18
TAK LIHAT HILAL: Wakil Meneteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi (dua dari kanan) memberikan ketenangan pers hasil sidang isbat Idul Adha 1443 H, kemarin.(KEMENAG RI)

Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya menetapkan Idul Adha jatuh pada 10 Juli. Keputusan itu selisih sehari dengan kebijakan Muhammadiyah yang menetapkan Idul Adha pada 9 Juli.

Keputusan Kemenag tersebut diambil melalui sidang isbat yang diadakan tadi malam. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap perbedaan itu tidak menjadi bahan pemecah bangsa Indonesia.

Hasil sidang Isbat penetapan awal Zulhijah itu diumumkan Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Saadi. Dia mengatakan, dari 86 titik pemantauan hilal yang digelar Kemenag di seluruh Indonesia, tidak ada satupun yang melihat hilal. “Maka, secara mufakat 1 Zulhijah jatuh pada Jumat, 1 Juli 2022 masehi,” kata politisi PPP itu.

Zainut mengatakan, dengan ditetapkannya 1 Zulhijah jatuh pada 1 Juli, berarti Idul Adha dirayakan pada 10 Juli. Sebab, sesuai dengan ketentuan, Idul Adha selalu diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah.

Dia menerangkan, keputusan sidang isbat itu mengacu pada perhitungan hisab dan rukyatul hilal. Dia menegaskan, metode hisab dan rukyat saling melengkapi. “Kedua metode itu bukan untuk saling diperhadapkan atau dipertentangkan,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua MUI Abdullah Jaidi menyampaikan perbedaan Idul Adha tahun ini sebuah kenyataan yang harus disikapi dengan dewasa. “Pemerintah sudah menetapkan Idul Adha jatuh pada 10 Juli. Sementara Muhammadiyah sudah umumkan lebih dahulu, Idul Adha pada 9 Juli,” jelasnya.

Baca Juga:  Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa, Wagub Audy: Jaga Eksistensi Konten Lokal

Jaidi mengatakan, perbedaan penetapan hari besar di Indonesia sudah biasa terjadi. Belum lama ini, penetapan awal Ramadan 2022 juga berbeda. “Jadi, janganlah perbedaan ini menjadikan perpecahan atau tidak saling menghormati,” kata dia.

Jaidi mengajak bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, untuk saling menghormati perbedaan itu. Dia menegaskan, perbedaan ini sejatinya didasari pada persoalan wujudul hilal dan rukyatul hilal. Perbedaan keduanya tergantung pada ketinggian hilal.

Dia lantas menjelaskan potensi pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat. Ketika terjadi perbedaan seperti itu, maka kapan pelaksanaan puasa Arafah. Apalagi pelaksanaan Arafah atau wukuf ada di Arab Saudi. Sampai dengan diumumkan hasil sidang isbat Kemenag tadi malam, pemerintah Saudi belum melansir hasil sidang Isbat mereka.

Dia menegaskan bahwa puasa Arafah adalah puasa sunnah yang dilakukan pada 9 Zulhijah. Maka yang menjadi acuan adalah keputusan pemerintah setempat. Tetapi, dia tidak melarang ketika warga Muhammadiyah melaksanakan puasa Arafah sesuai ketetapan mereka.

Jaidi juga menyampaikan, umat Islam dianjurkan berpuasa mulai 1 Zulhijah sampai 9 Zulhijah. Selain berpuasa, pada tanggal tersebut umat Islam dianjurkan perbanyak beribadah dan bersedekah. “Saudara kita fakir miksin menanti uluran tangan kita,” tuturnya. (wan/oni/jpg)