Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Prabowo Kejar Swasembada Pangan hingga Hilirisasi

Novitri Selvia • Senin, 21 Oktober 2024 | 10:28 WIB

TIDAK AKAN MUDAH: Presiden Prabowo Subianto mengucapkan sumpah jabatan dalam sidang paripurna MPR dengan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029. (JAWAPOS)
TIDAK AKAN MUDAH: Presiden Prabowo Subianto mengucapkan sumpah jabatan dalam sidang paripurna MPR dengan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029. (JAWAPOS)

PADEK.JAWAPOS.COM-Pidato perdana Prabowo Subianto sebagai presiden disampaikan dengan berapi-api. Ia mengawalinya dengan komitmen untuk berbakti pada negara sesuai sumpah yang diucapkan.

Lalu berjanji mengutamakan kepentingan rakyat dibanding kepentingan golongan. “Apalagi kepentingan pribadi kami,” kata Prabowo.

Mantan Danjen Kopassus itu menerangkan, tantangan Indonesia ke depan tidak akan mudah. Bukan hanya karena situasi eksternal yang dinamis, melainkan juga banyaknya persoalan dari sisi dalam negeri.

Terbukti, meski Indonesia diberi kekayaan alam yang melimpah, kemiskinan masih banyak ditemui di masyarakat. Karena itu, dia mengingatkan semua elite agar bekerja untuk kepentingan rakyat. Wong cilik, kata Prabowo, punya peran krusial dalam sejarah nasional.

“Janganlah kita lupa, waktu perang kemerdekaan, kita tidak punya anggaran, APBN, pasukan kita tidak digaji. Siapa yang memberi makan kita? Yang memberi makan adalah para petani di desa-desa, para nelayan, para pekerja,” katanya penuh penghayatan.

Dia meminta elite untuk berani mengoreksi diri sendiri. Sebab, faktanya masih terlalu banyak kebocoran akibat korupsi yang membahayakan masa depan.

Kebocoran itu, kata Prabowo, disebabkan oleh penyimpangan, kolusi di antara para pejabat politik dan pejabat pemerintah dengan pengusaha-pengusaha nakal dan tidak patriotik.

Para elite juga diminta untuk tidak terlalu senang melihat angka-angka statistik. Sebab, fakta di lapangan tidak mencerminkan perbaikan. Ekonomi Indonesia, misalnya, masuk dalam G20 dan masuk 16 terbesar di dunia. Tapi, penderitaan masih dialami banyak orang.

“Apakah kita sadar bahwa kemiskinan di Indonesia masih terlalu besar, apakah kita sadar bahwa rakyat kita dan anak-anak kita banyak yang kurang gizi,” ungkapnya.

Prabowo juga mencanangkan sejumlah agenda strategis. Pertama, mencapai swasembada pangan, air, dan energi. Dalam situasi ketegangan global yang meningkat, kemampuan untuk memenuhi pangan dan energi menjadi kunci. Dengan bekal sumber daya alam yang melimpah, Prabowo optimistis pencanangan itu bisa dicapai.

Untuk energi, misalnya, Indonesia punya sawit yang bisa menggantikan bahan bakar. Kemudian di sektor pangan, ada banyak komoditas selain padi yang bisa ditanam.
Agenda strategis lainnya adalah memastikan subsidi tepat sasaran.

Prabowo mengaku akan meneliti, bahkan melakukan perubahan, untuk memastikan subsidi harus diterima langsung keluarga yang membutuhkan. “Dengan teknologi digital, kita akan mampu,” tuturnya.

Selanjutnya, Prabowo juga kembali menyatakan visinya melakukan hilirisasi terhadap semua komoditas. Kenaikan nilai tambah diyakini akan meningkatkan ekonomi yang berdampak langsung pada rakyat.

Di bidang demokrasi, Prabowo menginginkan agar demokrasi Indonesia lebih beradab dan sesuai budaya bangsa. “Demokrasi di mana mengoreksi harus tanpa caci maki, bertarung tanpa membenci, bertanding tanpa berbuat curang,” ungkapnya.

Di ujung pidatonya, Prabowo menutup dengan komitmen untuk terlibat politik bebas aktif non blok di dunia internasional. Juga akan terus melanjutkan perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina.

Dalam pidatonya, Prabowo sama sekali tidak menyebut masa depan Ibu Kota Nusantara (IKN). Anggota fraksi PDIP Komaruddin Watubun berpendapat, tidak disebutnya IKN menunjukkan Prabowo punya prioritas.

Melihat situasi, tantangan ke depan memang berat karena utang Indonesia sudah mencapai Rp 8.400 triliun. Tahun depan Indonesia harus membayar sekitar Rp 1.000 triliun. “Jadi saya pikir itu bagian dari sikap Pak Prabowo untuk menggarisbawahi mana yang jadi prioritas,” ujarnya.

Posisi PDIP

Sikap PDI Perjuangan terhadap pemerintah Prabowo - Gibran kian jelas. Ketua DPP PDI Perjuangan Puan Maharani menegaskan, partainya tidak menempatkan kader di kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran.

Namun, dia mengisyaratkan bahwa partainya tetap mendukung pemerintahan Prabowo-Gibran di parlemen.  “Bekerja sama dan saling mendukung itu tidak harus dalam kabinet,” kata Puan di kompleks DPR, kemarin.

Soal Budi Gunawan (BG) yang masuk kabinet, Puan menegaskan, mantan Wakapolri tersebut tidak merepresentasikan PDIP. Menurut dia, BG masuk kabinet mewakili kalangan profesional.

Di sisi lain, Ketua DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah menjelaskan mengenai tidak hadirnya Megawati Soekarnoputri dalam acara pelantikan kemarin.

Menurut dia, Megawati dalam kondisi kurang sehat usai pulang dari lawatan napak tilas Bung Karno di St Petersburg, Rusia, dan Uzbekistan.

“Ibu Mega tidak ingin proses pelantikan presiden yang berlangsung begitu khidmat terganggu apabila beliau hadir di dalam ruangan kemudian batuk dan flu,” ujar Basarah di kompleks DPR.

Meski begitu, Basarah menyebut, Megawati menyampaikan pesan untuk Prabowo berkaitan dengan pelantikan kemarin.

Dalam pesan itu, Mega menyarankan Prabowo untuk fokus memikirkan tugas dan tanggung jawab sebagai presiden. “Tugas-tugas beliau (Prabowo, red) cukup kompleks dan berat,” ujarnya.

Mega, kata Basarah, setidaknya menggarisbawahi beberapa hal terkait persoalan yang kompleks tersebut.

Mulai dari masalah luar negeri, konflik Rusia, perang Israel dengan negara-negara jazirah Arab, konflik Laut Cina Selatan, perang dagang Tiongkok dengan Amerika, hingga pemanasan global (global warming). “

Situasi luar negeri dan dalam negeri yang sedang tidak baik-baik saja ini memerlukan kepemimpinan Prabowo yang berwibawa dan efektif,” paparnya.

Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menghormati pilihan PDIP yang tidak menaruh kader di kabinet. Muzani juga yakin PDIP akan bersikap proporsional kepada pemerintah.

“Itu sebabnya kemudian Ibu Mega, meskipun beliau tidak datang karena kondisi beliau tidak fit, beliau memerintahkan kepada 110 anggota MPR (PDIP) untuk menyukseskan dan hadir pada hari ini,” ujarnya.

Komunikasi antara Prabowo dan Megawati juga akan tetap berlangsung. Meskipun waktunya digeser menjadi setelah pelantikan. Saat ini masih mencari kecocokan waktu.
Umumkan Nama Menteri

Tadi malam Prabowo mengumumkan daftar menterinya. “Dengan kesepakatan para ketua umum koalisi, kami beri nama kabinet ini Kabinet Merah Putih,” kata Prabowo yang didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Total ada 53 orang yang diumumkan sebagai menteri dan kepala badan.

Sebelum pengumuman menteri, Prabowo mengadakan gala dinner dengan para tamu negara. Pantauan Jawa Pos (grup Padang Ekspres) sekitar pukul 20.30, beberapa calon menteri sudah datang. Ada juga diplomat Indonesia untuk PBB Arrmanatha Nasir.

Dia sempat memberikan statemen terkait politik luar negeri Prabowo seperti yang diucapkan saat pidato di MPR. “Jelas bahwa kita akan terus menekankan prinsip bebas aktif dalam diplomasi dan ini yang kita pegang selama ini,” katanya.

Menurut dia, pidato Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia merangkul semua negara. Indonesia juga ingin menjadi bagian dari solusi.

Tokoh lain yang datang adalah Abdul Mu’ti. Dia merupakan tokoh Muhammadiyah yang rencananya didaulat menjadi menteri pendidikan dasar dan menengah.

“Insya Allah akan ada dua wakil menteri,” tuturnya. Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan Mendikbudristek era Jokowi, Nadiem Makarim. Tidak ada pesan khusus, hanya ucapan selamat.

“Menteri ini kan pembantu presiden. Kami akan membantu presiden untuk melaksanakan apa yang menjadi program beliau (Prabowo),” katanya saat ditanya soal program Merdeka Belajar yang menjadi andalan Nadiem. (far/tyo/lyn/c19/oni/jpg)

Editor : Novitri Selvia
#IKN #prabowo #kabinet #utang indonesia #hilirisasi