Musim Nyonya Tua Berakhir

Cristiano Ronaldo menjadi pemain Juventus yang kehilangan penghasilan paling besar karena statusnya sebagai pemilik gaji terbesar. (AFP)

Di ruang ganti Juventus, tidak ada yang berani membantah ucapan Giorgio Chiellini. Termasuk, ketika sang il capitano Juve meminta rekan-rekannya merelakan gaji selama empat bulan terakhir (Maret hingga Juni 2020) ditiadakan, semua menurutinya. Kebijakan yang sama berlaku kepada allenatore Juve Maurizio Sarri.

Itulah yang terungkap dari kicauan jurnalis ternama Italia, Tancredi Palmeri, di akun Twitter-nya. ”Juve sudah mulai memotong 33 persen gaji Chiellini musim ini setelah menuntaskan negosiasi kontrak barunya,” tulisnya di akun @tancredipalmeri.

Chiello –sapaan karib Chiellini– meneken kontrak baru dengan Juve pada 25 Maret lalu. Chiellini disebut sudah merelakan empat bulan bayarannya untuk Juve dengan total nominal EUR 2,24 juta (Rp 40,4 miliar). ”Kawan, sekarang giliran kalian,” pinta Chiellini sebagaimana dilansir La Gazzetta dello Sport kemarin (29/3).

Dengan begitu, Cristiano Ronaldo menjadi pemain yang potongan gajinya paling besar. Sebab, Ronaldo adalah pemain dengan bayaran terbanyak di klub yang bermarkas di Vinovo tersebut. CR7 pun menyisihkan gajinya EUR 17,6 juta (Rp 317,7 miliar).

Makanya, Ronaldo menjadi satu di antara tiga sosok berpengaruh lainnya di ruang ganti Juve yang diajak bicara oleh Chiellini terkait dengan peniadaan gaji. Dua lainnya adalah kiper senior Gianluigi Buffon dan bek tengah sekaligus wakil kapten Leonardo Bonucci.

Sebagaimana yang ditulis Football Italia, langkah Juve meniadakan empat bulan gaji pemain dan pelatih adalah upaya untuk menyelamatkan neraca finansial peraih scudetto delapan musim terakhir tersebut. ”Keputusan ini mampu menyelamatkan pundi-pundi keuangan klub sejumlah EUR 90 juta (Rp 1,62 triliun) dalam neraca keuangan (musim) 2019–2020,” sebut Juve dalam pernyataan resminya.

”Kami mengucapkan terima kasih kepada pemain dan pelatih atas komitmen mereka dalam situasi yang sulit ini, khususnya dalam efek ekonomi dan finansial di klub. Kami menyelesaikan semua perjanjian pribadi dengan pemain dan pelatih dalam beberapa pekan mendatang,” tambah Juve.

Muramnya nasib musim ini setelah kompetisi diberhentikan akibat pandemi Covid-19 sejak tiga pekan lalu memang dirasakan semua klub. Juve yang notabene klub terkaya di Italia versi Forbes tidak luput dari masalah finansial. Tanpa pertandingan, klub tidak bisa mendapatkan pemasukan dari tiket. Kerja sama sponsorship pun berpotensi ditinjau ulang.

Begitu pula pembagian hak siar televisi yang terancam hilang seandainya kompetisi berakhir prematur. UEFA sebagai otoritas sepak bola di Eropa malah menyiratkan angkat tangan dengan nasib seperempat akhir musim ini.

”Kami punya plan A, B, dan C untuk memulai kompetisi pada pertengahan Mei, Juni, atau akhir Juni. Jika tidak bisa juga, musim ini mungkin hilang,” jelas Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebagaimana dilansir Reuters kemarin.

Lalu, bagaimana kalau tiba-tiba ada keajaiban dan kompetisi kembali dilangsungkan pada satu di antara tiga plan UEFA tersebut? Juve yang telanjur menerapkan kebijakan pun siap kembali bernegosiasi dengan pemain dan pelatih atas dasar iktikad baik. ”Kompensasi juga bakal ditentukan berdasar finalisasi kompetisi resmi,” papar Juve.

Di Serie A, beban pengeluaran Juve untuk menggaji pemain dan pelatih memang yang terbesar jika dibandingkan dengan klub lainnya. Musim ini Juve disebut menggelontorkan EUR 294 juta (Rp 5,3 triliun) hanya untuk gaji pemain dan pelatih. Dua kali lipat lebih besar daripada beban gaji rivalnya, Inter Milan, dengan anggaran EUR 139 juta (Rp 2,5 triliun).

Anjloknya saham klub milik keluarga Agnelli tersebut pada akhir pekan lalu menjadi salah satu indikasi goyahnya finansial Juve. Nilai saham Juve anjlok sampai 4,94 persen.

”Makanya, kesepakatan dengan pemain dan pelatih Juve sangat penting bukan hanya bagi Juventus, tetapi juga untuk klub di dunia dalam situasi saat ini,” ungkap jurnalis olahraga Telelombardia Fabio Ravezzani kepada Tuttosport. Selain Juve, memang belum ada klub yang berani untuk tidak membayarkan gaji pemainnya saat musim kompetisi terancam berakhir. (*)