I M SCUDETTO

19
Para pemain Inter Milan saat merayakan gol yang terciptakan ke gawang Crotone pada giornata 34 Serie A lalu.(Inter Milan)

Kemenangan 2-0 Inter Milan atas Crotone pada giornata 34 Serie A Minggu dini hari (2/5) yang kemudian diiringi hasil imbang 1-1 laga Sassuolo versus Atalantan kemarin malam, mengakhiri perburuan scudetto musim ini. Meski masih bersisa empat pertandingan lagi, poin Inter Milan tak mungkin lagi dikejar para pesaingnya.

Kemenangan dari gol Christian Eriksen (69’) dan Achraf Hakimi (90+2’) tersebut, membuat Inter kini mengumpulkan 82 poin. Sementara, Atalanta yang berada di peringkat kedua baru mengoleksi 69 poin. Capaian Atalanta tersebut sama dengan Juventus dan AC Milan di peringkat ketiga dan empat.

Keberhasilan meraih scudetto ke-19 itu pun disambut Inter Milan dengan tagline I M SCUDETTO. Salah satunya di-posting di akun Instagram Inter Milan untuk mendukung berbagai ekspresi wajah para pemain, pelatih, serta presiden klub tersebut.

Ya, sejak berganti logo beberapa waktu lalu, I M menjadi brand yang dikedepankan Inter Milan. “Grazie a tutti (terima kasih semuanya, red), tulis Presiden Inter Milan Steven Zhang pada akun Instagram-nya, menyambut keberhasilan tersebut.

“Saya pikir langkah yang kami buat musim ini membawa kami ke gelar dan kami harus menikmati saat ini, langkah yang ingin dibuat oleh para pemain ini. Kami punya empat pertandingan lagi untuk menikmati momen ini,” kata Conte kepada program Rai 90 Minuto, sebagaimana dilansir Football Italia.

Perjalanan Inter Milan musim ini, pada awalnya tidak lah mudah. Meski menang pada dua laga awal, Romelu Lukaku dan kawan-kawan hanya meraih dua kemenangan pada enam laga berikutnya, dengan sekali kalah dan tiga hasil imbang.

Walau kemudian mampu meraih tujuh kemenangan beruntun, secara mengejutkan Inter takluk dari Sampdoria pada giornata 16. Kemudian ditahan imbang AS Roma. Setelah mengalahkan Juventus, paruh pertama pun ditutup dengan hasil imbang kontra Udinese.

Baca Juga:  Dobel-Dobel Terbaik untuk Conte

Nah, memasuki putaran kedua, Nerazurri langsung tancap gas. 11 kemenangan beruntun pun mampu mereka raih. Lalu, dengan tambahan dua hasil imbang dan dua kemenangan, Inter pun memastikan scudetto pada gioranata ke-34.

“Kami selalu berganti-ganti berbagai situasi selama pertandingan, bekerja sedikit lebih dalam untuk kemudian menciptakan ruang pada pergantian pemain, atau mengundang lawan untuk menyerang kami sehingga kami dapat melanjutkan serangan balik,” ucapnya.

“Tim benar-benar berkembang dalam pengertian itu, dan dalam satu musim Anda harus bisa mengambil pendekatan yang berbeda agar tidak bisa diprediksi. Anda tidak bisa selalu hanya menyerang atau selalu bertahan, ini tentang mengetahui kapan harus mendorong. Di situlah kami menjadi lebih baik, dalam membaca game dan mengetahui momen-momen itu,” sambung Conte.

Dia menekankan, sebuah tim tidak bisa menekan selama 90 menit tanpa henti. “Lawan di Italia mempelajari Anda dan menemukan cara untuk menetralkan kekuatan Anda. Jika Anda sabar dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang, dan memiliki tim yang dalam kondisi fisik yang baik, Anda tahu bahwa cepat atau lambat lawan akan kehilangan intensitas,” jelasnya.

Conte ditanya apakah dia ingin mempersembahkan gelar ini kepada siapa pun di luar dunia sepak bola. “Saya mempersembahkannya untuk mereka yang dekat dengan saya: istri saya, anak perempuan saya, saudara laki-laki saya. Saya ingin berterima kasih kepada Lele Oriali, yang sangat penting bagi saya dan paling memengaruhi saya selama bertahun-tahun,” tukasnya. (cip)

Previous articleLaju Mulus Yamaha Terhenti, Dua Ducati Raih Podium Teratas
Next articleWarga Bisa Akses Wifi Gratis di Perkantoran