Usulkan Main di Aceh, Madura United Kokoh Mundur

(Foto: IST)

Salah satu usulan Ketua Umum PSSI Moch. Iriawan dalam virtual meeting dengan klub Liga 1 kemarin adalah menjadikan Pulau Jawa sebagai satu-satunya lokasi untuk melanjutkan kompetisi.

Usulan itu tentu dipertanyakan banyak pihak, terutama klub-klub dari luar Pulau Jawa. Selain dinilai tidak adil, pandemi covid-19 justru masih sangat tinggi di Pulau Jawa jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia lainnya.

Salah satu klub yang paling mengkritik usulan dari Iwan Bule–sapaan Moch. Iriawan– adalah Persiraja Banda Aceh. Sekretaris Umum Persiraja Rahmat Djailani menyatakan tidak setuju dengan wacana memainkan Liga 1 di Pulau Jawa.

Hal tersebut membuat para pemain dan ofisial rawan tertular virus SARS-CoV-2. ”Formatnya home tournament atau seperti apa belum jelas. Kalau home tournament, di mana lokasinya? Sebagian besar Pulau Jawa zona merah,” katanya.

Rahmat justru mengusulkan kompetisi digelar di luar Jawa. Misalnya, Aceh yang tingkat persebaran virus koronanya sudah tidak tinggi. ”Lebih baik daripada di Pulau Jawa. Protokol kesehatan juga lebih mudah dilaksanakan karena bukan zona merah,” tuturnya.

Selain itu, nanti tidak perlu diadakan pertandingan tanpa penonton. Di Aceh, dia menjamin pertandingan akan bisa dilakukan dengan penonton.

”Masyarakat Aceh itu butuh hiburan. Kami juga akan menerapkan protokol kesehatan dengan baik,” tegasnya.

Berbeda halnya dengan Persipura Jayapura. Tim berjuluk Mutiara Hitam itu tidak mempersoalkan jika kompetisi dilanjutkan di Pulau Jawa. Ketua Umum Persipura Benhur Tomi Mano justru bersyukur kompetisi bisa dilanjutkan.

”Pasti akan ada aturan-aturan baru atau pembatasan-pembatasan untuk menyesuaikan prosedur dalam rangka pencegahan dan penanganan covid-19,” terangnya.

CEO PT PSM Munafri Arifuddin berharap, keputusan untuk melanjutkan kompetisi di Pulau Jawa harus benar-benar dimatangkan. Salah satu yang harus dicermati adalah soal protokol kesehatan.

”Harus dipikirkan bagaimana latihan tim serta proses berpindah tempat dan selama berada di lapangan,” paparnya.

Dia juga setuju apabila pertandingan dilakukan tanpa penonton. ”Tidak adil nanti bagi kami, tim-tim musafir yang ke Pulau Jawa, kalau pertandingan tetap dengan penonton,” ungkapnya.

Di sisi lain, Madura United secara tegas masih menyatakan akan mundur jika kompetisi dilanjutkan. Mereka merasa terlalu berisiko karena pandemi korona belum juga reda. Malah sebaliknya. Kesehatan dan keselamatan para peserta jadi taruhannya.

Manajemen Laskar Sape Kerrab pun mengabaikan usul ketua umum PSSI setelah virtual meeting sesi kedua kemarin. Madura United tetap tidak setuju dan memutuskan mundur jika kompetisi dilanjutkan.

Hal itu dikatakan Direktur Tim Madura United Haruna Soemitro. Dia tidak akan memaksa klub lain mengikuti jejak Madura United. ”Kan sudah jelas, kalau mau lanjut silakan. Tapi, Madura United tidak ikut,” ucapnya.

Haruna juga tidak peduli soal adanya subsidi Rp 800 juta tiap bulan. Bagi dia, untung atau tidaknya bagi klub sudah bukan faktor utama. Kesehatan dan keamanan bagi Madura United paling prioritas.

”Kami juga sudah meminta masukan banyak pihak, khususnya pemain. Banyak yang mendukung penolakan ini kok, karena memang risikonya masih tinggi,” tegasnya.

Haruna mempertanyakan soal siapa yang bakal bertanggung jawab jika September nanti pandemi korona masih ada. ”Siapa lembaga yang bisa memberikan jaminan bahwa September sampai Oktober itu covid-19 sudah bisa terkendali? Tidak ada kan?” tuturnya.

Tidak hanya mewakili klub, sebagai anggota Exco PSSI, Haruna juga akan bersuara yang sama dalam rapat exco nanti. Rapat yang justru paling menentukan perihal nasib kompetisi musim ini. ”Ya tetap berjuang semaksimal mungkin,” ucapnya. (rid/gus/ali/tom/jpg)