Opsi Stop Kompetisi setelah Club Brugge Juara Liga Belgia

Dua pemain Liverpool Alex Oxlade-Chamberlain dan Adam Lallana. Liverpool berpeluang menjuarai Premier League musim ini seiring sudah ada Club Brugge yang ditahbiskan sebagai juara Jupiler Pro League. (AFP)

Keputusan UEFA memundurkan Liga Champions dan Liga Europa hingga Agustus mendatang diklaim sebagai sinyal liga-liga domestik Eropa sulit berlanjut dalam situasi pandemi Covid-19. Sebab, dalam kondisi normal, Agustus sudah memasuki musim kompetisi yang baru.

Jupiler Pro League atau kompetisi kasta teratas di Belgia termasuk yang cepat ”merespons” keputusan UEFA. Jumat lalu (3/4), Jupiler Pro League mengumumkan bahwa musim ini diputuskan berakhir.

Alhasil, Club Brugge sebagai pemuncak klasemen ditahbiskan sebagai juara dengan 11 pekan tersisa. Perinciannya, satu pekan tersisa untuk periode reguler dan sepuluh pekan untuk playoff penentuan juara (yang diikuti 6 klub peringkat teratas periode reguler).

Di klasemen saat ini, Club Brugge memimpin jauh (15 poin, 70-55) atas AA Gent. ”Dewan Direktur Jupiler Pro League juga sudah memutuskan playoff I dan II (untuk tim yang lolos ke Liga Champions dan Liga Europa musim depan, red),” tulis Jupiler Pro League dalam laman resminya kemarin.

Hanya, slot wakil Belgia di Liga Champions dan Liga Europa musim depan bisa berantakan karena keputusan untuk menghentikan kompetisi telah membuat UEFA kecewa. Sebab, UEFA sudah mengalah dengan memberi prioritas liga-liga domestik Eropa bisa dituntaskan ketimbang kelanjutan Liga Champions-Liga Europa. Bahkan, Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengancam akan mencoret keikutsertaan klub-klub Belgia di Liga Champions-Liga Europa musim depan. ”Opsi untuk mengakhiri musim 2019–2020 merupakan opsi terakhir yang akan diambil UEFA,” tulis ESPN.

Namun, sebagaimana dilansir Daily Mail, ”pemberontakan” oleh Jupiler Pro League bisa merangsang liga-liga domestik Eropa lainnya untuk menirunya. Sebab, keberanian untuk melanjutkan kompetisi yang sudah rehat selama tiga pekan tentu memiliki banyak konsekuensi. Mulai pertimbangan kesehatan bagi pemain dan penonton seandainya tetap berlangsung normal di stadion hingga kontrak pemain yang kedaluwarsa pada akhir Juni.

Penghentian kompetisi juga memberikan kesempatan bagi klub menata persiapan untuk musim berikutnya. ”Memutuskan musim 2019–2020 berakhir dan memberikan gelar juara untuk pemuncak klasemen sementara sangat fair dalam situasi force majeure akibat pandemi Covid-19,” tulis Daily Mail.

Gelandang Manchester City Ilkay Guendogan termasuk yang setuju seandainya Premier League musim ini dihentikan dan Liverpool dinobatkan sebagai juara. The Reds –julukan Liverpool– sudah unggul jauh (25 poin) atas City di peringkat kedua dan sejatinya punya kans mengunci gelar pada matchweek ke-31 pada 22 Maret lalu. ”Itu (Liverpool dinobatkan juara, red) sangat patut. Sebagai olahragawan, kita harus bersikap sportif,” kata Guendogan kepada stasiun televisi Jerman ZDF pertengahan pekan lalu (31/3).

Namun, opsi menghentikan kompetisi sepertinya tidak akan diterima Real Madrid. Sebab, hal itu berarti Los Merengues –julukan Real Madrid– dipaksa merelakan gelar La Liga menjadi milik rival abadi, FC Barcelona. Real yang saat ini hanya tertinggal dua poin (56-58) setelah 27 jornada memang bersaing kompetitif dengan Barca sepanjang musim ini. (*)