Justin Gaethje Yakin Bisa Hancurkan Ferguson

Justin Gaethje

Petarung Justin Gaethje sangat percaya diri bisa mengalahkan Tony Ferguson dalam pertarungan utama UFC 249. Laga itu digelar untuk memperebutkan sabuk juara kelas ringan interim pada 9 Mei 2020 di Florida.

Gaethje adalah pengganti Khabib Nurmagomedov yang menarik diri. Laga Khabib melawan Ferguson sejatinya digelar pada 18 April. Namun belakangan dibatalkan karena pandemi covid-19.

Gaethje lantas terpilih. Dan meskipun diberi waktu yang singkat, dia tetap berlatih penuh di camp pelatihan. “Saya akan berjuang hingga selesai atau sampai Tony selesai. Itulah yang saya lakukan. Saya memiliki kekuatan untuk mematikan perlawan Tony, kepercayaan diri saya tinggi untuk mengalahkan dia,” ucap Gaethje seperti dikutip BPJENN.

Sebelum melawan Ferguson, Garthje sudah mengoleksi tiga kemenangan beruntun di UFC. Petarung asal Amerika Serikat itu terkenal mempunyai satu pukulan yang mematikan lawan.

Hal itu telah dia buktikan pada pertarungan terakhirnya melawan Donald Cerrone. Saat itu, dia menang KO pada ronde pertama. Gaethje berencana ingin menunjukkannya sekali lagi pukulan mematikannya itu kepada Ferguson.

Ferguson sendiri sangat diunggulkan dalam pertarungan ini. Jadi, Gaethje paham benar bahwa yang harus dia lakukan adalah mendaratkan satu pukulan telak untuk menjatuhkan Ferguson dan mencuri kemenangan.

“Tony Ferguson adalah pesaing besar. Dia mempunyai 12 kemenangan berturut-turut, tapi aku akan membuatnya pingsan,” koar Gaethje.

Gaethje saat ini berada di peringkat keempat kelas ringan. Dia memiliki rekor 21-2. Dia kekalahan itu dia telan saat melawan Dustin Poirier dan Eddie Alvarez masing-masing pada 2018 dan 2017. Tetapi, jika Gaethje memenangkan pertarungan itu, dia tidak bisa melawan Khabib dalam pertarungan perebutan sabuk juara dunia kelas ringan.

Sementara itu, Ferguson mempunyai 12 rekor kemenangan beruntun. Kali terakhir, dia menang TKO atas Donald Cerrone di UFC 238. Sebelum itu, dia menang TKO Anthony Pettis. Itu adalah laga comeback-nya ke Octagon setelah mengalami cedera lutut parah yang berujung pada pelucutan gelar juara dunia kelas ringan miliknya. (jpg)