Start Buruk, Panggil Pochettino?

17
Pertandingan saat Tottenham Hotspur membantai Manchester United 1-6 di Old Trafford (5/10) lalu. Ini adalah laga terburuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih Manchester United. (net)

Finish ketiga di Premier League dan triple semifinalis (Piala Liga, Piala FA, dan Liga Europa) musim lalu bukan kinerja buruk untuk musim penuh pertama Ole Gunnar Solskjaer. Hanya, ekspektasi fans Manchester United otomatis meningkat ketika Solskjaer menjalani musim kedua atau musim ini.

Alhasil, ketika The Red Devils menjalani start buruk di Premier League, dua kali keok di Old Trafford dan menang untung-untungan di kandang Brighton & Hove Albion, bukan sesuatu yang dini menyebut ada yang salah dengan Solskjaer.

Apalagi, Solskjaer mengakui bahwa kekalahan skor tenis 1-6 oleh Tottenham Hotspur (5/10) merupakan hari terburuknya selama menangani United. Pelatih 47 tahun itu mungkin bisa berdalih bahwa manajemen United tidak memberikan rekrutan pemain sesuai keinginannya.

Winger Borussia Dortmund Jadon Sancho tidak datang setelah dispekulasikan selama musim panas. Pada bursa transfer Januari lalu, Erling Haaland juga tak mampu direkrut meski Solskjaer pernah menanganinya di Molde dan kenal baik dengan ayah striker 20 tahun tersebut.

Mengutip ucapan pandit sekaligus mantan bek kiri United Patrice Evra, United memang tidak mau keluar uang besar untuk Sancho maupun Haaland alias hanya mem-PHP fans. “Ini seperti membeli mobil. Anda sudah tahu harganya,” ucap Evra.

Namun, setiap pelatih harus menerima konsekuensi ketika gagal mendapatkan pemain incarannya. Juga menjadi tugasnya memaksimalkan pemain yang ada. Hal itulah yang tidak mampu dilakukan Solskjaer yang bertugas sejak 19 Desember 2018.

Baca Juga:  Segera Tentukan Road Map Baru

Karena itulah, ketika Selasa (6/10) lalu manajemen United diklaim Mirror telah menghubungi Mauricio Pochettino, durasi Solskjaer seolah tinggal menghitung hari. Setidaknya, Solskjaer masih terselamatkan karena kompetisi sedang break (ada jeda internasional).

Pochettino adalah nama yang selalu dikaitkan sebagai manager United selepas era Sir Alex Ferguson tujuh musim silam. Pochettino pun menganggur sejak meninggalkan Spurs pada 19 November 2019. “Belum terlambat bagi Pochettino menangani United dengan segala masalahnya, red) karena musim ini masih sangat awal,” tulis Mirror.

United tidak akan rugi besar berpisah dengan Solskjaer mengingat kompensasi pemutusan kontraknya hanya GBP 4 juta (Rp 76,4 miliar). Setidaknya dibandingkan kala mendepak Mourinho dua tahun lalu yang menyedot biaya kompensasi hingga GBP 18 juta (Rp 343 miliar).

“Ketika seorang Pochettino masih tersedia dan begitu Anda melihat CV-nya, Anda bisa melihat betapa luar biasanya dia,” ucap mantan penyerang United yang juga pandit talkSPORT Alan Brazil.

Brazil menyebut, sukses Pochettino membawa Spurs masuk dalam big six Premier League dalam lima musim terakhir plus lolos ke final Liga Champions 2018–2019 adalah bukti kekuatan taktikal pelatih asal Murphy, Argentina, itu. Brazil lalu membandingkan dengan Solskjaer yang hanya bergantung dengan kekuatan uang.

“Pochettino pernah bekerja di bawah manajemen klub yang pelit belanja dan tidak ada direktur sepak bola di sana. Jadi, itu bisa jadi nilai plus di mata United,” beber Brazil. (ren/c17/dns/jpg)