Menerka Kelanjutan Liga-liga Domestik Eropa

Mengakhiri kompetisi lebih dini seperti Jupiler Pro League (kompetisi kasta teratas Belgia), tampaknya, bukan pilihan liga-liga domestik Eropa lainnya. Bukan karena ancaman pencekalan tidak bisa berlaga di Liga Champions-Liga Europa, melainkan demi sportivitas dan keadilan dalam sepak bola.

Langkah Jupiler Pro League menghentikan kompetisi pekan lalu (2/4) memicu polemik. Sebagian mendukung, sebagian lagi tetap menginginkan kompetisi berlanjut sembari berharap pandemi Covid-19 segera mereda. Legenda Bulgaria dan FC Barcelona Hristo Stoichkov termasuk yang mendukung penghentian liga. Terutama La Liga.

Kepada Tiempo de Juego Senin (6/4), Stoichkov mengusulkan agar La Liga tidak meneruskan sisa 11 jornada-nya. ”Jika melihat situasinya dan dengan melihat laga yang telah dimainkan, akan lebih adil jika La Liga musim ini diakhiri,” kata Stoichkov yang membela Barca dalam tujuh musim di dua periode.

Pria yang kini menjadi komentator di stasiun televisi Spanyol, Universion Deportes, itu juga menyodorkan ide jika La Liga diakhiri. Termasuk Barca yang ditahbiskan sebagai juara. ”Tidak perlu ada degradasi. Dua klub teratas dari Segunda Division tetap dipromosikan supaya musim depan La Liga punya 22 klub,” sambungnya.

Usul tersebut tentu bertentangan dengan keinginan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). Presiden RFEF Luis Rubiales sejak awal ingin La Liga dituntaskan sampai jornada ke-38. Tidak peduli kompetisi baru berlanjut setelah musim panas nanti.

Apalagi, seperti dilansir Marca, menghentikan kompetisi lebih dini bakal menimbulkan masalah hukum. Yakni, dari klub-klub yang tidak puas dengan keputusan tersebut hingga pemegang hak siar televisi di La Liga.

Bahkan, Serie A yang semula menjadi liga yang pesimistis bisa menuntaskan musim ini kini berubah pikiran. Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memiliki keyakinan Serie A musim ini berlanjut sampai giornata ke-38. ”Satu-satunya langkah serius untuk menangani masalah darurat saat ini adalah tetap menuntaskan musim 2019–2020,” ujar Presiden FIGC Gabriele Gravina kepada RAI Sport kemarin.

Muncul hipotesis dari FIGC untuk menuntaskan Serie A musim ini maksimal hingga Oktober. Kickoff diproyeksikan pada 17 Mei. ”(Sengaja sampai Oktober) supaya tidak merusak musim berikutnya,” imbuh Gravina.

Opsi tetap mengakhiri kompetisi dipilih FIGC lantaran opsi-opsi sebelumnya seperti playoff untuk penentuan juara maupun playout untuk tim terdegradasi direspons negatif. Misalnya yang diungkapkan Presiden Genoa Enrico Preziosi.

Sebagaimana dilansir La Gazzetta dello Sport, Preziosi sudah menyiapkan pengacara jika FIGC menerapkan opsi playoff dan playout. ”Kami sudah berinvestasi banyak Januari lalu dan kami ingin melihat upaya tim kami di lapangan diakui sesuai dengan aturan. Bukan dengan jalan itu (playout),” kata Preziosi.

Jika format playout dipakai, Genoa yang posisinya sebelum Serie A dihentikan sudah aman dari degradasi tentu masuk playout. Belum lagi polemik jika Juventus dinyatakan sebagai scudetto yang bisa diprotes Lazio dan Inter Milan sebagai dua tim di bawah La Vecchia Signora.

Polemik itulah yang tidak diinginkan Gravina. ”Kami hanya menghindarkan kompetisi ini berakhir di ruang pengadilan. Kami ingin mengakhirinya di lapangan,” tegas Gravina.

Mungkin, kasus yang saat ini ramai diperbincangkan media-media Skotlandia bisa menjadi alasan. Seperti dilaporkan The Scottish Sun, Rangers dan Hearts sudah menyiapkan gugatan ke SPFL (Asosiasi Liga Sepak Bola Skotlandia) kalau Scottish Premiership musim ini diakhiri lebih cepat, lalu menunjuk pemuncak klasemen Celtic sebagai kampiun.

Rangers asuhan Steven Gerrard saat ini menempati peringkat kedua di klasemen (tertinggal 13 poin dengan sisa 8-9 laga), sedangkan Hearts berada di posisi paling buncit. ”Aku belum tahu keputusan apa yang akan dibuat. Tapi, jika SPFL memilih itu (menyudahi kompetisi), kami pasti akan siapkan langkah hukum,” ungkap Chairman Hearts Ann Budge sebagaimana dilansir Edinburgh News. (*)