United-City tidak Lakukan Rasionalisasi

Sudah ada empat tim Premier League yang merumahkan staf non kepelatihan dengan alasan rasionalisasi keuangan klub. Pertama, Newcastle United. Disusul Norwich City, Tottenham Hotspur, dan Liverpool. Belakangan Liverpool memutuskan membatalkannya.

Penghentian sementara gaji yang dilakukan Spurs dan Liverpool tersebut dihujat banyak pihak. Apalagi, dua tim finalis Liga Champions musim lalu itu mendapat keuntungan GBP 150 juta (Rp 3,02 triliun) pada awal tahun ini.

Nah, Manchester City melakukan hal sebaliknya. The Citizens menegaskan tak ada penghentian sementara para staf non kepelatihan. Seperti diberitakan Manchester Evening News (MEN) kemarin (6/4), Chief Operating Officer (COO) City Omar Berrada memastikan bahwa pihaknya tetap memenuhi hak para staf non kepelatihan periode April dan seterusnya.

”Kami mengonfirmasi setelah keputusan yang di ambil dewan dan chairman klub pekan lalu, Manchester City tak akan mengambil skema kebijakan penggajian yang diterapkan pemerintah Inggris,” kata Berrada.

November lalu City dilaporkan menjadi tim dengan pemasukan terbesar diantara tim-tim Premier League. City secara total musim 2018?2019 menambah GBP 535,2 juta (Rp 10,81 trilliun) ke kas. Seperti dilaporkan BBC, pemasukan terbesar City didapat dari kerja sama dengan apparel anyar mereka, Puma. Yaitu, GBP 45 juta (Rp 908,93 miliar).

Kebijakan serupa diambil Manchester United. Sumber internal United kepada Daily Mail memastikan bahwa semua staf non kepelatihan akan tetap sejahtera. ”Bahkan, ketika nanti pertandingan dilangsungkan dengan tertutup, kami akan tetap menggaji para staf yang bertugas di hari pertandingan dengan gaji normal. Itu komitmen kami,” tutur sumber tersebut.

Daily Mail pun menuliskan, jika pandemi Covid-19 ini benar-benar membuat United harus melanjutkan laga secara tertutup alias tanpa penonton, mereka berkomitmen mengembalikan tiket kandang kepada pemegang tiket terusan. (*)