Berdoa Saja Bisa All Indonesia Final

16
Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Dok PBSI)

Ada lima wakil ganda putra dalam Thailand Open I. Hal itu menyusul Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang masuk drawing utama. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin beruntung karena ganda putra Jepang plus Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo mundur dari turnamen.

Hanya, hasil drawing tidak begitu menguntungkan bagi skuat Merah Putih. Sebab, ada empat pasang yang saling bertemu di babak pertama. Hanya Fajar Alfian/M. Rian Ardianto yang terhindar dari bentrok sesama pemain Indonesia.

FajRi, sebutan Fajar/Rian, berada di bagan undian atas bersama para juniornya. Pada babak pertama, mereka akan menghadapi wakil Thailand Nipitphon Phuangphuapet/Tanupat Viriyangkura terlebih dahulu. Kemudian, mereka akan bertemu pemenang pertandingan antara M. Shohibul Fikri/Bagas Maulana vs Leo/Daniel.

Sementara itu, M. Ahsan/Hendra Setiawan berada di bagan undian bawah. Pada babak pertama, The Daddies, julukan Hendra/Ahsan, akan menghadapi Pramudya Kusumawardana/Yeremiah Erich Yoche Yavoc Rambitan.

Pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi mengatakan, ini merupakan kesempatan yang baik bagi pemain muda untuk uji kemampuan. Sebab, ini kali pertama mereka turun pada pertandingan level super 1.000.

Memang saat di pelatnas mereka sudah sering bertemu pemain level atas seperti The Minions dan The Daddies. Itu juga jadi keuntungan mereka dalam skuat ganda putra Indonesia.

”Mereka harus mencoba sampai mana kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kali ini mencoba menghadapi pemain level dunia yang dari luar Indonesia dan itu tentu beda dengan latihan,” kata Herry IP.

Meski banyak yang harus bertemu pada laga awal, Herry IP berharap bisa mewujudkan all Indonesian finals. Kesempatan besar berada di tangan FajRi dan The Daddies. Sebelum itu, Herry IP mewanti-wanti agar fokus di laga-laga awal.

Baca Juga:  Maju pada Musorprovlub KONI Sumbar, Ronny Pahlawan Segera Deklarasi

”Dua-duanya (The Daddies dan FajRi, red) punya peluang (juara). Jangan lupa, masih ada Korea Selatan dan Malaysia,” ucap Herry IP. “Yang krusial justru pada babak kedua dan ketiga. Kalau itu bisa lewat, feeling saya bisa all Indonesian finals,” ucap pelatih berjuluk Naga Api itu.

Setelah sepuluh bulan tanpa pertandingan, Herry IP menyebut ini cukup tricky bagi pemain. Dalam sesi uji lapangan Minggu (10/1), mereka melakukan adaptasi yang nantinya memengaruhi strategi.

“Sekaligus untuk mengetahui arah angin. Mana lapangan yang menang dan yang kalah angin. Ada lima pasangan, kalau main dua lawan dua terus, ada pasangan yang tidak main. Jadi, variasi dua lawan tiga. Semua pemain bisa mencoba bermain di tempat pertandingan,” tutur Herry IP.

Di sisi lain, Rian antusias menjalani laga perdana hari ini. Minggu (10/1), untuk kali pertama, mereka menjajal lapangan di Impact Arena, Bangkok. Soal kesempatan menembus final, dia tidak terlalu memikirkan terlalu jauh. ”Fokus dulu. Final itu nanti. Kan masih harus menghadapi babak pertama lalu berikutnya. Dihadapi tiap pertandingan sebaik mungkin,” ucap Rian.

Persaingan kali ini memang lebih longgar, Rian tidak ingin terlalu percaya diri. Apalagi, sudah sepuluh bulan tidak ada pertandingan internasional. ”Semua pemain perlu kami waspadai karena sudah lama tidak bertanding. Kami juga tidak tahu perkembangan lawan seperti apa. Jadi, memang harus selalu siap tiap match,” imbuh pemain asal Bantul, Jogja, tersebut. (gil/c17/dra/jpg)