(2) Inter Milan vs Bayer Leverkusen (1): Pertama Setelah 10 Tahun

(foto: int)

Inter Milan terus melaju di pentas Liga Europa musim ini. Kini, klub berjuluk Nerazzurri itu sudah menginjakkan kaki di babak semifinal. Bahkan mereka ingin terus berlari hingga partai puncak.

Keberhasilan Nerazzurri ke semifinal didapatkan setelah mereka mampu menjaringkan dua gol ke gawang Bayer Leverkusen pada babak perempat final yang digelar di Merkur Spiel-Arena, Düsseldorf, Jerman, dini hari kemarin. Dua gol tersebut dibukukan Nicolò Barella (15’) dan Romelu Lukaku (21’).

Bila bisa lebih tenang lagi dalam penyelesaian akhir, seharusnya tim asuhan Antonio Conte ini bisa mendapatkan minimal tiga gol tambahan. Masing-masing lewat peluang yang didapatkan Roberto Gagliardini, Alexis Sanchez, dan juga Romelu Lukaku. Sementara, Leverkusen yang berusaha mengejar ketertinggalan hanya mampu membalas satu gol lewat Kai Havertz (25’).

“Kami sangat puas karena itu penampilan yang sangat bagus. Kami mempersiapkannya dengan cara yang benar. Tidak pernah membiarkan Leverkusen memainkan bola dengan nyaman. Kami melakukan apa yang kami kerjakan dalam latihan,” kata allenatore Inter Milan, Antonio Conte kepada Sky Sport Italia, seperti dilansir Football Italia.

Mantan pelatih Chelsea tersebut mengatakan, anak asuhnya bisa saja mengakhiri permainan lebih awal dan sedikit santai. Pasalnya, mereka tidak memberikan banyak peluang kepada tim lawan. Tapi faktanya, La Beneamata –julukan lain Inter Milan- memiliki begitu banyak peluang dan seharusnya bisa mencetak lebih dari dua gol.

“Saya tidak bisa marah malam ini. Saya hanya bisa memberi selamat kepada para pemain atas semua yang telah mereka lakukan di Serie A, sepanjang musim dan sekarang di Liga Europa. Kami akan menunjukkan kepada tim beberapa situasi, baik yang positif maupun yang dapat kami tingkatkan. Tapi ceramah video bukan tentang mencari kesalahan, melainkan menunjukkan bagaimana meningkatkannya di lain waktu,” tutur Conte

Di sisi lain, dia mengungkapkan Romelu Lukaku dan kawan-kawan menunjukkan tekad dan rasa lapar untuk membuktikan bahwa apa yang mereka lakukan itu penting. “Kami sudah mendapat kesempatan untuk bermain di semifinal Liga Europa, jadi bisa senang. Tapi mulai besok (hari ini, red) harus mulai mempersiapkan semifinal,” kata mantan pemain dan pelatih Juventus ini. “Kami ingin mencapai yang maksimal. Kami ingin terus maju,” imbuhnya.

Baca Juga:  Cedera, Dua Pemain Mundur

Pada semifinal yang akan digelar Selasa dini hari mendatang (18/8), Inter akan berhadapan dengan pemenang pertandingan Shakhtar Donetsk versus FC Basel yang digelar dini hari tadi. Itu akan menjadi semifinal pertama La Beneamata di pentas Eropa, dalam 10 tahun terakhir.

“Satu laga lagi menuju babak final. Kami memiliki enam hari untuk mempersiapkan diri. Jauh lebih banyak dari yang biasanya kami dapatkan akhir-akhir ini. Kami akan memikirkan cara yang paling baik untuk beristirahat dan melakukan pemulihan,” sebut Ashley Young yang kemarin membukukan assist untuk gol Lukaku, kepada Inter TV.

Bagi Nicolò Barella, keberhasilan mencapai semifinal merupakan respons hebat kepada semua orang yang menyebut mereka bukan sebuah tim. “Grup ini hebat, terdiri dari para pemain dengan berbagai karakter,” katanya dikutip dalam laman resmi klub.
Haruskah tim-tim lawan takut kepada mereka? Nicolò tidak memiliki keraguan dan meresponsnya dengan keberanian yang sama seperti yang dia tunjukkan di atas lapangan. “Tentu saja, sama seperti kami menghormati semua orang, hal yang sama perlu dikatakan tim lain kepada kami,” tekan mantan gelandang Cagliari itu.

Sementara itu, Pelatih Bayer Leverkusen Peter Bosz mengakui mereka kalah karena lawan yang hebat. “Kami tidak bermain bagus dalam 20 menit pertama dan memiliki masalah dalam menangani Lukaku. Kemudian segalanya membaik dan kami pikir kami akan membalikkannya. Kami bisa melakukan lebih baik dan kecewa,” terangnya dalam jumpa pers, seperti dilansir Football Italia.

Gelandang Inter Milan Marcelo Brozovic, sambungnya, mendapat terlalu banyak kebebasan di tengah lapangan dan anak asuhnya harus melakukan perubahan setelah 20 menit pertama itu. “Adapun Lukaku, dia terlalu kuat dalam situasi satu lawan satu,” tukas Peter Bosz. (cip)