Antara Beringas Sambo vs Gulat, Gaethje tak Sabar Hadapi Khabib

Pertarungan berdarah antara Justin Gaethje dengan Tony Ferguson yang akhirnya dimenangkan Gaethje. (Foto: AFP)

Presiden UFC Dana White menyematkan sabuk juara interim kelas ringan kepada Justin Gaethje setelah memenangi pertarungan brutal kontra Tony Ferguson di UFC 249, Minggu (10/5).

Tapi, wajah Gaethje saat itu datar saja. Sesaat kemudian, petarung 31 tahun tersebut malah melepas sabuk itu dari pinggangnya dan membuangnya begitu saja ke lantai.

Pemandangan itu terjadi seusai partai puncak UFC 249 yang berlangsung di VyStar Veterans Memorial Arena Jacksonville, Florida, Amerika Serikat (AS) tersebut.

Gaethje menang TKO pada ronde kelima sekaligus membalikkan banyak prediksi dan semua bursa taruhan yang mengunggulkan Ferguson. Itu adalah event olahraga pertama yang kembali bergulir di AS setelah semuanya berhenti total dalam dua bulan terakhir lantaran pandemi covid-19.

Dalam wawancara sesaat setelah penyematan sabuk tersebut, Gaethje menjelaskan alasannya melepas sabuk yang baru dia raih. ”Aku hanya mau yang asli,” ucap dia dilansir ESPN.

Sabuk asli yang dimaksud Gaethje adalah sabuk juara UFC kelas ringan yang saat ini dikuasai Khabib Nurmagomedov. Dan setelah duel, White kembali memastikan bahwa pertarungan Gaethje kontra Nurmagomedov akan segera direncanakan.

Laga tersebut akan menentukan juara sesungguhnya di kelas ringan. ”Pertarungan itu menjadi rencana besar selanjutnya. Aku pastikan 100 persen akan terwujud,” yakin White.

Gaethje menyebut suatu kehormatan bisa menantang Nurmagomedov yang merupakan juara bertahan. Apalagi, dia akan mewakili petarung AS melawan Nurmagomedov yang berasal dari Dagestan, Rusia.

”Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi,” ucap Gaethje yang saat ini memiliki rekor 22 kali menang (19 KO) dan 2 kali kalah tersebut.

Nurmagomedov sendiri langsung memberikan ucapan selamat kepada calon lawannya tersebut. Dia melakukannya melalui Twitter. ”@Justin_Gaethje sangat impresif. Selamat. Kamu bertarung dengan sangat cerdas,” cuit Nurmagomedov.

Gaethje memang tampil begitu taktis dan genius Minggu itu. Dia bertahan dengan sangat rapat. Tapi, di lain sisi, pukulan kombinasi jab dan hook kerasnya mendarat sangat akurat menerobos pertahanan Ferguson.

Khusus di ronde kelima saja, dia mendapat persentase serangan akurat sampai 87 persen. Dari 39 kali serangan, 34 kali tepat sasaran.

Saat ronde kelima berjalan 3 menit 39 detik, wasit Herb Dean pun harus menghentikan pertarungan. Saat itu wajah Ferguson sudah berlumuran darah. Pipi kirinya sobek. Pelipis kanannya juga demikian.

Dean menghentikan laga tepat setelah pukulan Gaethje ke pipi kiri Ferguson membuatnya terhuyung. Tapi, bagaimanapun, Ferguson sudah menunjukkan perlawanan sengit.

Meski berkali-kali pukulannya mengena sangat telak ke wajah Ferguson, Gaethje tetap tak mampu menjatuhkan petarung veteran 36 tahun tersebut.

Gaethje juga sangat cerdik menjaga jarak aman agar senjata andalan Ferguson, yakni pukulan siku, tak mengenai dirinya. Kemenangan Gaethje sekaligus menghentikan rekor 12 kemenangan berturut-turut Ferguson yang dipertahankan Ferguson sejak 2012.

”Justin benar-benar petarung yang beringas. Aku menyiapkan banyak latihan untuk Khabib. Bukan untuk seorang striker seperti Justin,” ucap Ferguson.

Gaethje memang dipilih belakangan oleh UFC untuk melawan Ferguson. Hal itu harus dilakukan setelah Nurmagomedov tidak bisa tampil pada duel ini karena Rusia masih menerapkan karantina wilayah akibat pandemi covid-19 sampai saat ini.

Menilik gaya bertarung Gathje yang agresif dan sangat efektif, akan sangat menarik menanti pertarungan kontra Nurmagomedov. Sebab, petarung Dagestan itu sangat kuat dalam duel bawah karena merupakan juara sambo.

Namun, jangan lupa, Gaethje juga memiliki kemampuan gulat yang mumpuni. Nah, duel perebutan gelar kelas ringan nanti bisa jadi penentuan siapa yang terbaik. Antara sambo versus gulat. (irr/c10/cak/jpg)