Keputusan Pembatalan APG 2020, Atlet Kecewa

M. Fadli Immammudin saat meraih emas Asian Para Games 2018 di Jakarta lalu. Dia mengalihkan persiapan ke Paralimpiade 2020. (Chandra Satwika/Jawa Pos)

ASEAN Para Games (APG) 2020, multievent terbesar Asia Tenggara untuk atlet difabel, dibatalkan. Tuan rumah Filipina mengalihkan pendanaan event tersebut untuk mengatasi pandemi covid-19.

Pelaksanaan APG 2020 ini memang mengalami banyak kendala. Awalnya, event tersebut dijadwalkan digelar Januari 2020. Berselang 1,5 bulan dari SEA Games 2019. Namun, karena Filipina mengalami kesulitan keuangan, event diundur Maret.

Ditunda lagi menjadi Oktober. Kemenpora resmi mendapat surat pernyataan pembatalan dari Presiden ASEAN Para Sport Osoth Bavilai Jumat lalu (8/5).

Keputusan itu memang disayangkan banyak pihak. Yang paling merasakan adalah atlet para games Indonesia. Sejak Mei 2019, mereka melakukan pemusatan latihan di Solo. Hampir setahun mereka berlatih untuk bisa tampil dalam APG 2020.

Kemudian, per 1 April, mereka dikembalikan ke daerah masing-masing. ”Kami mempersiapkan pelatnas di Solo sejak jauh-jauh hari. Kami juga punya target besar untuk APG. Mengacu pada hasil-hasil yang lalu, kami punya target juara umum,” papar Menpora Zainudin Amali dalam video yang dikirimkan ke media kemarin. ”Tapi, apa boleh buat,” tambah dia.

Meski kecewa, politikus Partai Golkar itu bisa memaklumi alasan tuan rumah Filipina. Saat ini fokus semua negara pasti menanggulangi dampak wabah virus korona baru. ”Kami paham, karena situasi mengenai pandemi virus korona ini sama dengan di negeri kita, Filipina mengalami hal yang sama, negara-negara ASEAN lainnya juga begitu,” ucap dia.

Salah seorang atlet yang menyatakan kekecewaan adalah paracyclist M. Fadli Immammudin. Banyak yang sudah dia korbankan selama menjalani pemusatan latihan. Termasuk bolak-balik Solo–Bogor ketika istrinya sedang hamil anak kedua. Meski begitu, Fadli tidak ingin rasa sedih menguasai dirinya.

”Tidak ada pihak yang diuntungkan oleh pembatalan APG 2020 ini” kata Fadli ketika dihubungi kemarin. ”Tetapi, bagaimanapun, hasil latihan tidak mungkin sia-sia begitu saja. Bisa tetap dilanjutkan untuk kejuaraan mendatang. Yang penting tidak patah semangat,” imbuh dia bijak.

Setelah kembali ke rumah, mantan atlet balap motor itu tetap rutin berlatih. Apalagi, dia telah memastikan satu slot untuk Paralimpiade Tokyo 2020 mendatang. Event tersebut merupakan salah satu impian terbesar yang ingin dia capai. Karena ditunda setahun, Fadli punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri.

”APG batal tidak lantas langsung santai. Atlet sepeda itu berhubungan dengan memory muscle. Jadi, nggak boleh libur latihan. Saat seperti ini cukup latihan dengan intensitas yang ringan,’’ beber peraih emas Asian Para Games 2018 tersebut.

Dalam Paralimpiade nanti, Fadli menyadari persaingannya berat. Terutama dari paracyclist Eropa. Masih ada gap yang sangat besar antara paracyclist dari Asia dan Eropa. Jadi, waktu latihan sekarang dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apalagi, training center paling cepat baru bisa dimulai Agustus mendatang.

”Soal target, saya masih belum berani banyak bicara. Masih terus improve. Memang sulit menjalani latihan sendiri tanpa adanya program yang rinci dari pelatih,” jelas Fadli. ”Minimal fisik tidak drop dan speed sudah bisa didapat,’’ imbuh rider 35 tahun itu. (gil/c19/na/jpg)