Pengganti Harus Lebih Berkualitas dari Tisha

Beragam komentar meluncur dari football family di Indonesia pasca mundurnya Ratu Tisha dari posisi Sekjen PSSI. Intinya, mereka berharap penggantinya harus lebih baik dalam segala hal dari perempuan 35 tahun tersebut.

Sekretaris Asprov PSSI Jawa Timur Amir Burhanuddin menegaskan, pengganti Tisha wajib membawa PSSI lebih maju ke depan. ”Kalau sama levelnya atau malah di bawah Tisha, PSSI akan mengalami kemunduran,” ucapnya.

Sekretaris Umum Asprov PSSI Sulawesi Selatan Zakaria Leo menilai, Tisha memang tidak jago bermain bola. Tapi, soal pengetahuan dengan basic keilmuan, dia menguasainya. ”Jadi, persepakbolaan Indonesia berkembang itu karena sebagian besar dari Sekjen yang menentukan. Selama jadi Sekjen, dia memberikan banyak ilmu,” tuturnya.

Soal pengganti, Leo mengakui itu tidak akan mudah. Jika memang penggantinya harus dua kali lipat lebih hebat daripada Tisha. ”Penggantinya harus menguasai arus manajemen yang hebat daripada Tisha. Kemudian, arus lalu lintas pembiayaan sepak bola di seluruh Indonesia di bawah naungan PSSI juga wajib dikuasai,” imbuhnya.

Hal senada dikatakan Sekretaris Persiraja Banda Aceh Rahmat Djailani. Menurut dia, nilai Tisha selama jadi Sekjen PSSI adalah 8. ”Penggantinya, nilainya harus di atas itu. Entah perempuan lagi apa pria, terserah. Yang jelas harus lebih baik,” ucapnya.

Presiden Borneo FC Nabil Husein juga sependapat. Menurut dia, Tisha sudah menancapkan prestasi di PSSI. Salah satu yang paling berkesan adalah berhasil memenangkan Indonesia dalam bursa pencalonan tuan rumah Piala Dunia U-20. ”Itu salah satu kesuksesan yang sulit dicapai penggantinya,” katanya.

Manajer Putra Sinar Giri Aziz Riduanto mengatakan, ada syarat lain di luar ilmunya Sekjen PSSI pengganti harus di atas Tisha. ”Kalau boleh usul, saya setuju kalau Sekretaris Asprov PSSI Jatim Amir Burhanuddin itu yang jadi Sekjen PSSI,” terangnya.

Alasannya? Amir dirasa mumpuni soal pengetahuan sepak bola. Aziz juga menyebut, selama ini PSSI pusat sering meminta saran dari Amir jika ada permasalahan di bidang sepak bola. ”Cocok, komunikatif juga orangnya. Jadi, ngapain jauh-jauh. Saya sebagai warga Jawa Timur usul Amir yang maju,” ucapnya.

Sementara itu, pengamat sepak bola M. Kusnaeni yang namanya sempat masuk bursa Sekjen PSSI pengganti berharap Tisha tetap berada di PSSI. Dia mengakui tugas Sekjen memang kurang cocok untuk tipikal Tisha. ”Dia adalah tipe orang yang cenderung ingin turun langsung sehingga terkesan melampaui tugasnya,” jelasnya.

Namun, pria yang akrab disapa Bung Kus itu menilai, tipikal tersebut akan cocok jika Tisha ditempatkan di posisi lain dalam PSSI. Misalnya direktur event PSSI. Sebab, kinerjanya mengatur event dan meloloskan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia U-20 sudah terbukti. ”Atau direktur SDM PSSI yang mengurusi kursus pelatih, wasit, dan sebagainya,” paparnya.

Di sisi lain, perwakilan Asprov PSSI Jawa Tengah Edi Sayudi mengungkapkan, mundurnya Tisha dari posisi Sekjen PSSI bukanlah hal yang luar biasa. Hal itu lumrah dalam organisasi. Artinya, tidak perlu diperbesar hingga melupakan kepentingan organisasi itu sendiri.

”Ini adalah organisasi, bukan bisnis. Kecuali perusahaan yang punya banyak profit, mungkin mundurnya Sekjen bisa dibilang kehilangan besar. Tapi kembali lagi, PSSI adalah organisasi dan semua jabatan ada batas waktunya,” jelasnya. (*)