Miro-Wazza Berpengalaman, De Rossi Merasa Punya Utang

Eks gelandang AS Roma Daniele De Rossi ingin meraih scudetto bila satu saat nanti dipercaya menjadi pelatih dari klub yang berjuluk Serigala Roma tersebut. (AFP)

Setelah gantung sepatu, sudah lumrah kalau banyak mantan pemain yang melanjutkan karir sebagai pelatih. Dan, karir melatih akan terasa istimewa jika bisa menangani klub yang membesarkan namanya sebagai pemain.

Satu-satunya penyesalan Daniele De Rossi setelah memungkasi karir sebagai pemain pada 6 Januari lalu cuma satu. Pria yang akan merayakan ultah ke-37 pada 24 Juli itu gagal mempersembahkan scudetto untuk AS Roma. Klub yang dibelanya selama sekitar 19 tahun (2000-2019).

Hampir dua dekade membela klub yang berjuluk Giallorossi tersebut, De Rossi memenangi tidak banyak piala atau tiga hanya kali. Dua kali Coppa Italia (2006-2007 dan 2007-2008) serta Supercoppa Italiana 2007. ”Beberapa orang menyebut aku kurang ambisius. Namun, menurutku, tidak ada yang lebih ambisius dibandingkan memenangi sesuatu yang sangat berharga di sebuah klub yang jumlah koleksi trofinya sedikit,” beber De Rossi kepada Sky Italia pada Minggu lalu (12/4).

Karena itu, jika ada kesempatan melatih Giallorossi, De Rossi punya mimpi membayar utang sebagai pemain. Apa lagi kalau tidak mengantarkan klub sekota Lazio itu merengkuh scudetto. Meski jalan tersebut masih panjang, lelaki yang pensiun bersama Boca Juniors itu yakin mimpinya bisa tercapai.

”Aku akan senang berada di pinggir lapangan, menempati bangku pelatih AS Roma. Aku tak akan terburu-buru karena jika jadi pelatih, aku harus jadi pelatih yang baik untuk AS Roma ketimbang saat menjadi pemain,” tuturnya.

Menurut De Rossi, menjadi pelatih juga bagian dari mengikuti jejak ayahnya, Alberto, yang pernah menangani akademi AS Roma. Selain sang ayah, pelatih Manchester City Pep Guardiola adalah motivasinya menjadi pelatih. Pep pernah semusim (2002-2003) menjadi rekan setim De Rossi di Giallorossi.

Jika De Rossi masih berproses menuju pelatih, Miroslav Klose sudah mewujudkannya. Miro -sapaan Miroslav Klose- kini menjadi pelatih di klub yang membesarkan namanya, Bayern Muenchen. Bukan tim utama, melainkan Bayern U-17 sejak Juni 2018.

Seperti diberitakan Sport1, Miro saat ini bersiap mengambil kursus lisensi UEFA Pro yang diselenggarakan DFB. Kursus itu dimulai Juni mendatang dan rampung per April 2021. Jika memegang lisensi UEFA Pro, lelaki 41 tahun tersebut bisa memegang kendali tim kasta teratas. ”Tujuanku memang ke sana (melatih tim utama Bayern, red),” ucap Miro.

Top scorer sepanjang masa timnas Jerman dengan 71 gol itu punya jalan bukan hanya dari lisensi, melainkan juga pengalaman yang sudah teruji di level junior. Musim 2018-2019 atau musim perdananya, Miro membawa Bayern U-17 ke final playoff B-Junioren Bundesliga. Musim ini Bayern U-17 nangkring di posisi ketiga divisi barat daya Jerman.

”Miro akan menjadi pelatih sukses. Dia sosok yang cerdas dan banyak belajar dengan pelatih top,” testimoni pelatih Bayern U-19 Martin Demichelis yang merupakan mantan rekan Miro saat di Bayern (2007-2011).

Di tanah Inggris, Wayne Rooney juga memiliki mimpi kembali ke Old Trafford, kandang Manchester United, sebagai pelatih. Melambung namanya karena 13 tahun (2004-2017) berkostum United, Rooney sejatinya berencana mengambil lisensi kepelatihan sejak tahun lalu.

Namun, lelaki 34 tahun itu belum sempat karena kesibukannya sebagai pemain. Wazza –sapaan akrab Rooney- saat ini membela klub Championship Derby County. Seiring pernah dilatih beberapa pelatih top, Rooney punya banyak referensi sebagai modal jika melatih United kelak.

”Mencontoh persiapan tim ala (Louis) van Gaal, lalu Fergie (Sir Alex Ferguson, red) untuk manajemen orang-orang dalam tim, hingga sikap keras kepala ala (Jose) Mourinho. Hal itulah yang aku butuhkan (sebagai pelatih nanti, red),” papar Rooney kepada Sunday Times. (*)