Muhammad Iqbal dan Ikhsan Nul Zikrak Pemuda Kudugantiang Padangpariaman

21
KOMPAK: Syamsuddin Batubara( kanan) Muhammad Iqbal dan Ikhsan Nul Zikrak bersama keluarga di kediaman mereka di Kudugantiang, Padangpariaman.(IST)

Syamsuddin Batubara menyulap Muhammad Iqbal, 23, dan Ikhsan Nul Zikrak, 21, menjadi pemain sepakbola profesional. Sentuhan tangan dingin sang ayah telah membawa mereka menjadi pemain profesional di Indonesia.

Muhammad Iqbal adalah jebolan pemain Timnas U-19 di era Indra Syafri yang kini bermain di Persita Tanggerang, sementara adiknya Ikhsan Nul Zikrak ikut mengantarkan Rans Cilegon FC ke Liga1 Indonesia. Bagaimana perjuangan mereka?

SYAMSUDDIN Batubara adalah ayah sekaligus pelatih pertama dua bersaudara ini. Untuk mematangkan visi bermain mereka, sang ayah juga membentuk Sekolah Sepakbola (SSB) Persatuan Sepakbola Kudugantiang (PSKG) Kecamatan V Koto Timur, Padangpariaman.

Sebelum adanya SSB, banyak anak-anak seumuran Muhammad Iqbal dan Ikhsan Nul Zikrak bermain begitu saja di lapangan tanpa ada yang mengarahkan. Mereka berlari kemana arah bola saja, tanpa ada pola permainan.

“Sebagai pemain bola, jiwa saya terpanggil melatih anak-anak, sekaligus mengasah talenta anak saya, jadi sekali mendayung biduk, dua, tiga pulau terlampaui,” kata mantan guru olahraga SD 02 V Koto Timur, Padangpariaman ini sambil tersenyum.

Pak Syam, begitu Syamsuddin Batubara dipanggil. Tahun 2012, Mantan pemain Pekan Olah Raga Daerah ( Porda) Padangpariaman ini berhasil membawa SSB PSKG menjuarai Piala Danone dan sekaligus mewakili Sumbar ke tingkat nasional.

Tim kampung ini berhasil mengalahkan tim kuat SSB Kota Biru Payakumbuh. Lalu di final mengubur ambisi SSB Ranah Minang Padang. “Di Jakarta kami kalah, tapi pengalaman berharga itu ikut mewarnai perjalanan karir sepakbola profesional Muhammad Iqbal dan Ikhsan Nul Zikrak,” jelasnya.

Di SSB PSKG inilah karir sepakbola anaknya bermula, sampai akhirnya Muhammad Iqbal berhasil menjadi salah seorang pemain andalan Timnas U-19 di era kepelatihan Indra Syafri.

Tapi malang baginya, pemain seangkatan Asnawi Mangkualam, Egy Maulana Vikri dan Witan Sulaiman ini harus menepi dalam waktu yang cukup lama karena mengalami cedera Anterior Cruciate Ligament ( ACL).

Cedera ACL adalah robeknya ligament lutut anterior yang menghubungkan tulang paha dengan tulang kering. “Cedera ini membuat Muhammad Iqbal harus dioperasi sekaligus mengubur mimpinya tampil di Piala AFF U-19 dan Piala Asia 2018 lalu,” terang Syamsuddin.

Terpuruk dengan kondisi cedera ACL, tak membuat Muhammad Iqbal patah arang. Setelah selesai operasi, jebolan PPLP Sumbar ini mencoba peruntungan di liga 2 dengan bergabung bersama PSMS Medan. Hampir setahun menepi bahkan beberapa agenda Timnas U-19 waktu tidak bisa diikuti.

“Saya sempat merasa tak bisa bermain lagi, kondisi saya drop dan sedih. Ayah, ibu dan teman-teman memberi saya semangat agar keluar dari kondisi itu, “ujar pemain yang mengidolakan klub Liverpool dan Mohamed Salah ini ketika bertemu di rumah orangtuanya Kudugantiang beberapa waktu yang lalu.

Selesai di PSMS Medan, pemain gelandang serang ini trial di salah satu klub kasta teratas Turki, Antalyaspor. Kemudian mantan pemain Persika Karawang ini juga bermain di Cheongju FC klub kasta ketiga Liga Korea.

Baca Juga:  Intip Kemeriahan Pacu Kuda Pabasko!! 10 Kontigen Berlaga Di Bancalaweh!

“Saya dikontrak selama 6 bulan, namun kendala bahasa membuat saya sulit beradaptasi, saya hanya bermain beberapa kali saja, “ jelas pemain yang bernomor sepatu 42 ini.

Kini pemain Pendekar Cisadane julukan Persita Tanggerang itu ingin kembali bermain untuk timnas. Baginya, bermain di timnas adalah impian yang harus dihidupkan dan dipelihara di dalam sanubari setiap pemain Indonesia, karena timnas adalah harapan setiap pemain.

“Dengan harapan kita akan tetap hidup dan move on,” jelasnya. Sedari kecil, dua bersaudara ini selalu dilatih disiplin. Ayah mereka tahu persis potensi kedua putranya, termasuk di posisi mana yang cocok untuk mereka.

“Kalau Iqbal pengumpan yang memanjakan kawan. Sementara Ikhsan mempunyai insting dan naluri pencetak gol yang bagus,” jelas Syamsuddin Batubara mengurai skill kedua anaknya.

“Ketika saya cedera, ayah dan ibu selalu mendorong saya supaya bisa bangkit. Kata-kata yang paling saya ingat adalah setiap penyakit pasti ada obatnya. Tanpa mereka saya mungkin sudah tak bermain lagi. Kini saya sudah merasa pulih, saat ini saya masih bermain di Persita Tanggerang mudah-mudahan bisa kembali ke timnas,” ungkapnya.

Apalagi sekarang, katanya, Timnas U-23 sedang berjuang di SEA Games 2021. “Di satu sisi saya senang melihat mereka mempunyai semangat juang tinggi, tapi saya juga sedih karena tidak berada dalam perjuangan mereka,” ujar Iqbal.

Berbeda Dengan Sang Kakak

Mungkin banyak yang tidak tahu, bahwa Muhammad Iqbal mempunyai seorang adik, yakni Ikhsan Nul Zikrak yang juga bermain di liga profesional. Bahkan pemain kelahiran November 2002 ini ikut membawa Rans Cilegon FC promosi dari Liga 2 naik kasta ke Liga 1.

Pemain kidal dengan tinggi 175 centimeter ini kembali dikontrak Rans Cilegon FC setelah ikut mengantarkan klub Raffi Ahmad itu menjadi salah satu tim penghuni Liga 1 Indonesia. Di mata Ikhsan Nul Zikrak, Syamsuddin Batubara adalah ayah sekaligus sahabat berkeluh kesah.

Baginya peran ayah sangat penting dalam menunjang karirnya sebagai pemain profesional. Apalagi ayahnya sering memberikan masukan bagaimana menjadi pemain sepakbola yang baik. “Kami sering berdiskusi tentang sepakbola ,” jelasnya.

Pemain jebolan PPLP Sumbar ini juga mengatakan, kedua orangtuanya selalu menjadi penyemangat bagi dirinya dan kakaknya, Muhammad Iqbal.

“Mereka mempunyai fungsinya masing-masing, kalau ayah jelas mendukung tentang bagaimana bermain bola, kalau ibu adalah ahli gizi yang selalu memasak bubur kacang hijau usai kami bermain bola, terkadang kami rindu bubur kacang hijau ibu, meskipun banyak menu makanan enak di luar sana,” ujarnya sambil tersenyum. (***)