Hull City, Bukan Melulu Cerita Indah

Assem Allam sering didemo fans Hull City karena klub yang diakuisisinya sedekade lalu itu semakin terpuruk. (AFP)

Dua tahun setelah Manchester City diakuisisi miliarder Uni Emirat Arab Sheikh Mansour atau pada September 2010, cerita yang sama dialami Hull City. Klub yang baru terdegradasi dari Premier League tersebut dibeli pengusaha Timur Tengah lainnya, Assem Allam. Tapi, dalam perjalanannya, dua klub itu memiliki garis nasib yang berbeda.

Kalau Manchester City di tangan Sheikh Mansour berubah dari klub medioker menjadi klub raksasa dan empat kali memenangi Premier League, lain halnya dengan Hull City. The Tigers -julukan Hull City- tetap menjadi tim yoyo dengan dua kali promosi dan tiga kali degradasi. Musim ini klub berusia 116 tahun tersebut terseok-seok di Championship dan hanya satu setrip dari zona degradasi.

Ada perbedaan besar kenapa Hull tidak bisa seperti The Citizens, julukan Manchester City. Jika Sheikh Mansour benar-benar kaya, Allam tidak punya banyak uang. Pria 80 tahun asal Mesir itu hanya menggantungkan uang dari mengelola klub.

”Pendanaan klub kami hanya melalui bursa transfer pemain,” sebut Ehab Allam, putra Assem Allam sekaligus vice chairman Hull, seperti dilansir Yorkshire Post. Misalnya yang dilakukan Hull City di bursa transfer Januari lalu. Finalis Piala FA 2013–2014 itu menjual mesin golnya, Jarrod Bowen, ke West Ham seharga EUR 20 juta (Rp 390,9 miliar).

Ditambah berencana mengganti nama Hull City menjadi Hull City Tigers atau Hull Tigers pada 2013, keluarga Assam pun makin dibenci fans klub. Sejatinya, sudah tiga tahun terakhir keluarga Assam berupaya melepas kepemilikan klub. Namun, belum ada yang bersedia membeli dengan harga yang dipatok sekitar GBP 100 juta (Rp 1,95 triliun).

Nasib Malaga CF juga tak kalah miris dengan Hull City. Mengakuisisi Malaga sedekade lalu, Sheikh Abdullah Al Thani yang merupakan seorang pengusaha asal Qatar juga bermasalah dalam keuangan.

Bahkan, pada Februari lalu, dia diberhentikan dari jabatan presiden klub selama enam bulan. Yang memberhentikan adalah para pemegang saham minoritas. Alasannya, Al Thani diduga mark up dana klub saat membeli Ruud van Nistelrooy, Santi Cazorla, dan Joaquin delapan tahun silam. Kala itu adalah musim hebat bagi Malaga seiring sukses menembus perempat final Liga Champions. (*)