Bukan Lionel Messi, tapi Gelandang Unsung Hero

Gelandang bertahan Atletico Madrid Thomas Partey lebih baik dari penyerang FC Barcelona Lionel Messi dalam hal dribel sukses di La Liga musim ini. (AFP)

Mendribel bola dan mengkreasi peluang adalah dua kelebihan Lionel Messi selain mencetak gol. Tanpa Cristiano Ronaldo yang meninggalkan La Liga dua tahun lalu, Messi sudah membuktikan dominasinya di berbagai aspek statistik La Liga musim lalu.

Untuk La Liga musim ini, kapten sekaligus striker FC Barcelona itu memang masih dominan dalam urusan mencetak gol (19 gol) maupun assist (12). Namun, untuk statistik mendribel bola dan mengkreasi peluang, Messi bukan yang terbaik.

Berdasar statistik Opta, La Pulga alias Si Kutu –julukan Messi- hanya menempati posisi keempat dalam kategori pemain dengan dribel tersukses terbanyak. Posisi teratas secara mengejutkan menjadi miliki gelandang bertahan Atletico Madrid (ATM) Thomas Partey. Bahkan, Messi juga kalah oleh rekan setimnya yang termasuk pemain baru musim ini, Frankie de Jong. Gelandang Barca itu di posisi ketiga setelah gelandang Villareal Andre-Frank Zambo Anguissa.

Thomas memang tidak sepopuler Koke maupun Saul Niguez di skuat ATM. Bahkan, tidak sedikit fans ATM yang merindukan Rodri Hernadez yang digaet Manchester City di awal musim ini. Juga, gelandang Marcos Llorente yang jadi buah bibir karena dua golnya di babak tambahan waktu membantu ATM menyingkirkan juara bertahan Liverpool di Liga Champions.

”Jika datang dari Manchester City atau Manchester United, dia (Thomas Partey) bakal lebih disorot sebagai pemain fantastis. Dia unsung hero kami,” testimoni entrenador ATM Diego Simeone kepada Marca. Bahkan, berdasar Transfermarkt, market value Thomas musim ini meningkat 500 persen. Dari EUR 8 juta (Rp 134,7 miliar), pemian 26 tahun asal Ghana itu kini memiliki banderol EUR 40 juta (Rp 673,9 miliar).

Sementara itu, untuk statistik mengkreasi peluang, Messi yang selalu langganan teratas sejak musim 2016-2017 harus rela diungguli gelandang Levante Jose Campana. Messi 55 peluang, sedangkan Campana tiga kali lebih banyak.

Seperti Thomas, Campana tidak banyak disebut media, tetapi punya kontribusi signifikan bagi Levante. Pengalaman, sepertinya, jadi nilai tambah Campana seiring pernah mencicipi Premier League (Crystal Palace), Bundesliga (FC Nurnberg), Serie A (Sampdoria), lalu Primeira Liga (FC Porto). Padahal, usianya masih 26 tahun. (*)