United Punya Departemen Analisis Data

Bruno Fernandes menjadi salah satu rekrutan Manchester United yang efektif. (Lindsey Parnaby / AFP)

Perekrutan Romelu Lukaku dari Everton pada musim panas 2017 membuat Manchester United merogoh kocek hingga GBP 75 juta (Rp 1,43 triliun). Namun, dari ikatan kerja selama lima musim, top scorer sepanjang masa timnas Belgia itu hanya bertahan dua musim. Pada musim panas tahun lalu, Lukaku pindah ke Inter Milan.

Lukaku adalah satu di antara sederet kegagalan United dalam kebijakan transfer. Kalau mau dijabarkan, paling tidak dalam lima tahun terakhir, tidak sedikit transfer mahal The Red Devils yang kurang berfaedah.

Sebut saja Henrikh ”Miki” Mkhitaryan yang datang dari Borussia Dortmund pada musim panas 2016. Miki yang berbanderol GBP 30 juta (Rp 577,1 miliar) dilepas ke Arsenal dalam paket pertukaran dengan Alexis Sanchez pada Januari 2018. Sialnya, Alexis yang menyedot banyak kas United itu juga gagal bersinar dan saat ini dipinjamkan ke Inter.

Akibat rekam jejak kegagalan transfer itu, United membuat departemen analisis data pemain. Seperti dilansir Daily Mail, The Red Devils telah merekrut delapan analis untuk membantu kinerja CEO United Ed Woodward dan tim perekrutan pemain klub yang bermarkas di Carrington tersebut.

Kerja para analis data pemain itu secara resmi memang baru digunakan untuk bursa transfer ke depan. Tetapi, seperti diklaim The Athletic, perekrutan striker Odion Ighalo dan gelandang serang Bruno Fernandes pada bursa transfer Januari lalu sudah termasuk hasil kerja awal delapan analis tersebut.

The Athletic membeberkan, para analis data tersebut bekerja sebagai ”mata dan telinga” United untuk sekitar 90 ribu pemain yang tersebar di seluruh kompetisi maupun sekitar 3.600 klub di dunia.

Cerita Memphis Depay termasuk contoh pentingnya penggunaan data pemain. Kees Ploegsma, agen Depay, pernah menyampaikan terima kasih kepada penyedia data SciSports karena menyelamatkan masa depan kliennya.

Depay yang didatangkan United dari PSV Eindhoven pada musim panas 2015 dengan harga GBP 25 juta (Rp 479,25 miliar) gagal total pada musim perdananya (2015 2016) di bawah pelatih Louis van Gaal. Depay tampil 45 kali dan hanya membuat 7 gol.

Statistik yang sangat buruk seandainya melihat musim terakhirnya di PSV, 2014 2015, dengan mencetak 28 gol dari 40 laga. ”Ploegsma berkonsultasi dengan kami mengapa kliennya gagal di United. Lalu, kami mengobrol dengan Memphis (Depay) dan melakukan analisis pada musimnya di PSV serta United,” kata pendiri SciSports Giels Brouwer.

Kemudian, Brouwer memasukkan serangkaian algoritma dari data Depay dan muncul lima nama klub yang cocok dengan tipikal main Depay. ”Ada lima klub yang bisa mewadahi karakter main Memphis (Depay) dan salah satunya (Olympique) Lyon,” jelas Brouwer.

Tidak salah. Sejak bergabung dengan Lyon pada musim panas 2017, Depay menemukan kembali performa terbaiknya. Musim ini, misalnya, striker timnas Belanda itu mampu melesakkan 14 gol dari 18 laga di berbagai ajang. (*)