Jangan Terbuai New Normal

23
Jonatan Christie. (net)

Kebijakan pemerintah memberlakukan situasi the new normal (tatanan kehidupan normal baru) membuat berbagai pihak bersemangat melakukan beragam aktivitas. Termasuk cabor-cabor.

Banyak induk cabor yang bersiap-siap menggeber pelatnas lagi. Sedangkan beberapa kompetisi, seperti sepakbola dan basket, bakal melanjutkan musim.

Masyarakat umum tak kalah girang kembali berolahraga di luar rumah. Apalagi, Kemenpora telah mengeluarkan surat edaran yang mengatur kegiatan olahraga di tempat umum dengan berbagai syarat. Tidak mengherankan, Gelora Bung Karno, Senayan, sudah dipadati manusia. Demikian pula car free day di kawasan Sudirman hingga Bundaran HI Senin (22/6/2020).

Kondisi itu justru membuat para atlet resah. Pemain bulutangkis Jonatan Christie, misalnya. Dia berharap masyarakat tidak terbuai dengan istilah new normal. “Kalau saya pribadi, jujur, di masa transisi new normal ini sebaiknya olahraga di rumah dulu. Jangan masuk ke tempat umum,” kata dia dalam talk show daring bersama BNPB Minggu (21/6).

Jonatan melanjutkan, di lapangan, tidak ada yang tahu persebaran korona secepat apa. Karena itu pula, banyak orang yang justru terpapar virus pada masa new normal ini. Karena pelonggaran PSBB di sejumlah daerah, terjadi lonjakan signifikan kasus positif virus Covid-19 pada awal Juni 2020.

Kemarin saja, misalnya. Terdapat penambahan kasus 862 pasien. Penambahan itu membuat total kasus Covid-19 di Indonesia menjadi 45.891. Jonatan menuturkan, jika memang ingin sekali berolahraga di luar rumah, semua orang harus mematuhi protokol kesehatan. Mulai tidak berkerumun, selalu menggunakan masker, sampai sering cuci tangan.

Jonatan sendiri, bersama puluhan pebulutangkis pelatnas, masih dikarantina di Cipayung, Jakarta Timur. Sejak Maret lalu, mereka rela tidak bertemu keluarga demi menjaga agar tidak tertular maupun menularkan virus. Dia berharap hal yang sama dilakukan para atlet dari cabor lain.

Pemain Louvre Surabaya Dimaz Muharri sependapat dengan Jonatan. Menurut dia, latihan di rumah sudah paling benar untuk menurunkan persebaran virus korona baru. “Kita harus sabar. Kalau mau ke lapangan, jangan ramai-ramai. Kalau bisa, swab test dulu. Handuknya juga jangan bareng-bareng. Benar-benar dijaga supaya (pandemi) cepat selesai,” paparnya.

Perenang I Gede Siman Sudartawa menuturkan, dirinya dan para perenang pelatnas sudah bisa kembali ke kolam renang GBK. Meski demikian, dia belum sepenuhnya berlatih di sana. PB PRSI masih menggodok protokol kesehatan yang lengkap agar atlet lebih aman. “Masih latihan di rumah masing-masing untuk perkuat fisik,” ujarnya.

Keinginan Jonatan dan kawan agar masyarakat tetap disiplin dan mengantisipasi bahaya Covid-19 tidak lepas dari kepentingan setiap atlet di seluruh cabor. Jika angka positif Covid-19 di Indonesia terus melaju, event dan kejuaraan bakal sulit dilaksanakan kembali.

Ambil contoh lanjutan Liga 1 dan Liga 2 sepak bola. Meski sudah dipastikan bergulir lagi pada September dan Oktober mendatang, itu masih bisa batal. Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 keberatan dengan ide PSSI tersebut. Sementara IBL, yang sudah menyusun protokol kesehatan, juga belum berani memutuskan kapan kompetisi dilanjutkan.

Karena itu, jika rindu menyaksikan pertandingan olahraga, masyarakat harus bisa disiplin menjaga diri sendiri dan lingkungan untuk memutus mata rantai persebaran korona. Meski new normal, jika memungkinkan, #dirumahaja masih menjadi keputusan paling baik. (raf/c10/na/jpg)