Naturalisasi Tak Diinginkan Pelatih Timnas

Junior Rodrigo Santos menjalani latihan bersama Madura United di Stadion Gelora Bangkalan, Jumat (21/8). (net)

Upaya PSSI melakukan naturalisasi sejumlah pemain muda asal Brasil tak cuma memperlihatkan acakadutnya roda organisasi yang dipimpin Iwan Bule itu. Tapi, juga bakal sia-sia belaka.

Pelatih tim nasional (timnas) Indonesia Shin Tae-yong memang membutuhkan tambahan tenaga “impor” di skuat didikannya yang disiapkan untuk Piala Dunia U-20 tahun depan itu. Namun, yang dimaui pelatih asal Korea Selatan tersebut hanya mereka yang punya darah atau keturunan Indonesia. “Saya hanya mau mencari pemain berdarah Indonesia saja, itu untuk meng-upgrade lagi satu tingkat kemampuan pemain lokal di sini,” katanya.

Itu juga dipertegas Nova Arianto, asisten pelatih timnas U-19. Nova mengatakan, dirinya dan staf pelatih lain diminta mengumpulkan berbagai data dan video mengenai permainan pesepak bola berdarah Indonesia di luar negeri.

Data-data itu ujungnya diberikan kepada Shin Tae-yong untuk dianalisis ulang. “Coach Shin yang akan melihat apakah pemain itu sesuai dengan karakter yang dibutuhkan tim atau tidak,” jelasnya.

Hal tersebut dibuktikan dengan hadirnya dua pemain yang bermain di Inggris dan beribu perempuan Indonesia: Elkan Baggot dari klub Ipswich Town U-18 dan Jack Brown dari Lincoln City U-18. Nama kedua malah sampai saat ini masih ikut training camp bersama timnas U-19. Sedangkan Elkan justru diberi free pass oleh Shin Tae-yong, yakni boleh langsung ikut ke Piala AFC U-19 meski harus kembali berlatih bersama klubnya di Inggris.

Sedangkan kelima pemain Brasil yang kini berlatih bersama Persija Jakarta (Thiago Apolina Pereira dan Maike Henrique Irine De Lima), Arema FC (Pedro Henrique Bartoli Jardim dan Hugo Guilherme Correa Grillo), serta Madura United (Robert Junior Rodrigo Santos) sama sekali tak ada hubungan apa pun dengan Indonesia. Mereka tak pernah main di sini dan bisa jadi juga baru kali ini menginjakkan kaki di sini.

Padahal, dalam satu dekade terakhir, yang mendapat kesempatan naturalisasi adalah mereka yang punya darah Indonesia. Atau sudah cukup lama bermain di sini atau mempersunting perempuan Indonesia.

Proyek naturalisasi itu juga memperlihatkan karut-marutnya PSSI. Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri mengaku tak ada program itu. Tapi, pelatih Persija Sergio Farias menyebut Thiago serta Maike adalah bagian dari proyek naturalisasi PSSI. General Manager Arema Ruddy Widodo juga menyebut Arema berniat menaturalisasi Pedro dan Hugo.

Maike dan Pedro juga termasuk dua di antara tiga pemain yang fotonya ditampilkan dalam slide Iwan Bule dalam webinar beberapa pekan lalu. “Kita akan melakukan ’cara-cara luar biasa’ untuk meraih sukses prestasi pada Piala Dunia U-20 2021. Termasuk dimungkinkan melakukan nasionalisasi/naturalisasi pemain di usia emas sebagai pesepak bola.” Demikian yang tertulis di slide Iwan Bule.

Ada banyak pertanyaan dari niat PSSI yang terkesan “simsalabim” itu. Kalau memang berniat melakukan jalan pintas naturalisasi, mengapa tidak terbuka saja dan dijelaskan alasannya? Mengapa tak ada koordinasi dengan direktur teknik dan pelatih timnas yang notabene paling bertanggung jawab soal teknis? Mengapa memilih Brasil dan apa keistimewaan para pemain itu sehingga dipilih?

Sumber Jawa Pos (grup Padang Ekspres) di internal PSSI mengatakan, rencana awal bahkan bukan hanya lima, tapi delapan pemain asal Brasil yang datang. Selain Persija, Arema, dan Madura United, PSIS Semarang juga ditawari.

Baca Juga:  Cedera, Dua Pemain Mundur

CEO PSIS Semarang Yoyok Sukawi tidak menampik hal tersebut. Menurut dia, memang ada yang menawarkan pemain kepadanya. “Tapi, PSIS kan punya tim talent scouting sendiri untuk berburu pemain. Dan, bagi PSIS, pemain asing muda itu bukan hal baru. Pemain asing sering kami kontrak umur 18 sampai 26 tahun,” paparnya.

Pria yang juga anggota Executive Committee (Exco) PSSI itu menambahkan, isu naturalisasi tersebut tidak faktual. Dia mengira, ada pihak-pihak yang sengaja mengembuskan isu tersebut untuk mengganggu persiapan timnas U-19. “Ini sengaja diembuskan, lalu digoreng sama media,” ucapnya.

Sementara itu, anggota Exco PSSI lainnya, Haruna Soemitro, menegaskan agen yang menawarkan pemain tersebut berasal dari Brasil. Para pemain yang datang, termasuk ke Madura United, tempat dirinya menjabat direktur tim, merupakan anak didik Marcos Cafu.
Siapa agen yang dimaksud? Dia adalah Anderson Guido de Medeiros. Haruna mengaku tidak kenal Medeiros. Tapi, begitu melihat pemain yang ditawarkan, Haruna langsung kepincut.

Pemain itu adalah Robert Junior Rodrigo Santos. Striker 19 tahun asal Brasil itulah yang kini masuk skuat Madura United. “Agen ini dari Brasil dan saya belum pernah melakukan negosiasi pemain dengan dia sebelumnya,” kata Haruna saat dihubungi Jawa Pos Jumat (21/8).

Hari itu juga Jawa Pos berusaha mewawancarai Santos seusai latihan. Tapi, ofisial Madura United menyebut dia belum siap. “Nggak ada penerjemahnya. Dia memang nggak bisa selain bahasa Portugis,” kata Tabri Syaifullah Munir dari manajemen Madura United.

Biasanya ada Alberto Goncalves atau Jaimerson Xavier. Keduanya bisa saja menjadi penerjemah karena sama-sama berasal dari Brasil. Hanya, keduanya belum bergabung dalam sesi latihan.

Santos langsung balik ke Surabaya setelah berlatih. Dia menempati salah satu apartemen di Kota Pahlawan itu. Kualitas Santos masih diragukan. Dalam latihan di Stadion Gelora Bangkalan Jumat pagi tersebut, baru satu jam berlatih, dia sudah menepi di pinggir lapangan. Tidak kuat meneruskan latihan yang masih tersisa satu jam lagi.

Pelatih Madura United Rahmad Darmawan memaklumi kondisi itu. “Karena dia baru melakukan perjalanan jauh. Beda waktu Indonesia dan Brasil 10 jam,” katanya. Santos berangkat dari Brasil pada Minggu (16/8). Kemudian, Selasa (18/8) baru sampai di Surabaya.

Sejumlah pelatih Indonesia menyesalkan kabar tentang naturalisasi itu. Aji Santoso salah satunya. “Ini bukan langkah yang bijak,” kata pelatih Persebaya Surabaya yang pernah turut mengantar Indonesia meraih emas SEA Games 1991 itu.

Mantan pelatih timnas U-16 Fakhri Husaini juga sangat kecewa dengan upaya PSSI itu. Selain karena sebagian besar personel timnas U-19 adalah mantan anak didiknya, isu naturalisasi juga akan mengganggu mental pemain dalam menjalani training camp. “Jujur, saya sangat menyesalkan tentang kabar naturalisasi ini,” tuturnya.

Pemain, kata Fakhri, akan berpikir latihan keras yang dilakukan untuk merebut posisi inti dalam skuat sia-sia ketika mendengar rencana naturalisasi para pemain asal Brasil. “Kalau ada kabar seperti ini, apa yang dilakukan, kerja kerasnya akan sia-sia,” ucapnya. (rid/gus/c10/ttg/jpg)