Arsenal Beruntung, Leicester Buntung

Pelatih Arsenal Mikel Arteta (tengah) melakukan selebrasi bersama para pemainnya saat berhadapan dengan Manchester United di Stadion Emirates di London (20/1/2020). Jika kompetisi dihentikan, Arsenal berpeluang tampil di Liga Champions, karena UEFA bakal menerapkan poin koefisien. (Foto oleh Ben STANSALL/AFP)

UEFA mendorong 55 anggotanya untuk menyelesaikan kompetisi domestik 2019-2020. Setidaknya kompetisi domestik di semua atau mayoritas anggota UEFA dianjurkan dimulai lagi Juni.

Meski sudah ada anggota federasi UEFA yang menyatakan mengakhiri kompetisi seperti Jupiler Pro League (Belgia), UEFA mendorong semua kompetisi domestik rampung.

Idealnya memang semua kompetisi domestik 55 negara itu rampung. Sebab, posisi finis musim 2019-2020 akan menentukan jatah tampil di Liga Champions maupun Liga Europa 2020-2021.

Nah, menurut The Sun, UEFA sudah mempersiapkan skenario untuk tim mana saja yang mewakili negaranya di Liga Champions dan Liga Europa 2020-2021 jika kompetisi domestik tak usai. UEFA akan memakai poin koefisien klub-klub tersebut hasil kalkulasi performa tim dalam lima musim terakhir.

Untuk Premier League, secara mengejutkan Arsenal berpeluang tampil di Liga Champions. The Gunners -julukan Arsenal- masih menempati posisi empat tim teratas dengan koefisien terbaik di antara klub Inggris lainnya. Arsenal berada di bawah Manchester City (112 poin), Liverpool (99), dan Manchester United (92).

”Namun, karena City masih terhukum berupa sanksi larangan tampil di kompetisi Eropa selama dua musim sampai 2022, jatah City akan melayang kepada Tottenham Hotspur yang duduk di ranking kelima,” tulis The Sun.

Kalau melihat skema itu, Arsenal jelas untung. Sebab, di klasemen hingga matchweek ke-29 musim 2019?2020, Arsenal menduduki posisi kesembilan dengan 40 poin. Berjarak lima angka dari tim posisi kelima (United/45) atau posisi terbawah Premier League yang lolos ke Liga Champions.

”Kami masih kompetitif untuk bersaing menuju Liga Champions musim depan. Semua pemain saya rasa ingin berada di kompetisi tersebut,’’ kata pelatih Arsenal Mikel Arteta kepada The Guardian sebelum kompetisi berhenti pekan kedua Maret lalu.

Jika Arsenal beruntung dengan skema koefisien performa tim dalam lima musim, sebaliknya Leicester City buntung. Dalam ranking UEFA dilihat dari partisipasi dan hasil lima musim terakhir, The Foxes -julukan Leicester City- berada di posisi ketujuh. Padahal, musim 2019?2020 sebelum kompetisi dihentikan akibat pandemi Covid-19, Leicester City duduk di posisi ketiga klasemen.

Bukan hanya Leicester City yang buntung jika tiket Liga Champions berdasar koefisien ranking poin oleh UEFA. Di La Liga, terdapatlah nama Real Sociedad. Musim 2019?2020 sampai jornada ke-27 atau saat kompetisi dihentikan, mereka nangkring di posisi keempat.

Sementara itu, empat besar tim Spanyol dengan koefisien poin tertinggi UEFA diisi Real Madrid (134 poin), Atletico Madrid (126), Barcelona (124), dan Sevilla (88). Real, Barca, dan Sevilla masuk zona Liga Champions di empat besar ketika kompetisi berhenti. Sedangkan Atletico di luar zona Liga Champions dengan berada di posisi keenam. (*)