Uji Coba Saja Bobol, apalagi Laga Beneran

25
Tiga hari lagi Liga 1 2020 akan kembali diputar. (jawapos.com)

Tidak akan mudah menangkal suporter datang ke stadion saat Liga 1 mulai berjalan. Benarkah PSSI nekat menghelat kompetisi di tengah pandemi yang belum terkendali
karena khawatir jatah Piala Dunia U-20 dicabut FIFA?

Uji coba itu semestinya tertutup. Tanpa penonton. Sebab, Depok, tempat dihelatnya laga, masuk zona merah Covid-19. Kawasan Jabodetabek yang di dalamnya termasuk Depok juga tengah ketat menerapkan aturan pembatasan sosial. Karena itulah, dua tim yang beruji coba pada Rabu sore lalu (23/9) itu, Persija Jakarta dan Bhayangkara FC, menyediakan layanan live streaming di akun media sosial masing-masing.

Tapi, tetap saja bobol. Ratusan, bahkan ribuan suporter membanjiri Lapangan PSSN, Depok, tempat dihelatnya laga persahabatan itu. Mereka berdesakan dengan hanya dibatasi pagar pembatas karena memang sudah kangen menyaksikan tim kesayangan bertanding.

Pakai masker? Tak banyak yang secara disiplin melakukannya. Jaga jarak? Anda pasti sedang bergurau kalau menanyakan itu. Itu baru uji coba. Bayangkan kalau pertandingan beneran yang dihelat seiring akan bergulirnya kembali Liga 1 per 1 Oktober.

Padahal, sekali bobol, ancaman klaster baru penularan Covid-19 di depan mata. “Saya hanya bisa bilang, di lanjutan kompetisi hal seperti itu tidak akan terjadi. Protokol kesehatan ketat akan diberlakukan yang membuat para suporter sulit datang ke stadion,” kata Ahmad Hadian Lukita, direktur utama PT Liga Indonesia Baru, operator Liga 1 dan 2.

Liga 1 dan 2 memang bakal dihelat tanpa penonton. Tapi, perlu diingat, fanatisme suporter klub-klub Indonesia membuat mereka tak lagi mengenal kata “jauh”, “sulit”, atau “bahaya”.
Itu yang membuat berputarnya kembali Liga 1 di tengah pandemi yang belum terkendali ini sangat berisiko. Apalagi, wacana mengenakan pengurangan poin atau divonis kalah bagi tim yang suporternya datang ke stadion ternyata hanya pepesan kosong. “Tidak mungkin itu. Itu kan hanya usulan dari klub-klub. Di dalam regulasi tidak ada,” kilah Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi.

Yunus mengatakan, dalam regulasi hanya disebutkan pertandingan di Liga 1 dan 2 berlangsung tanpa penonton karena digelar dalam kondisi extraordinary. Untuk menegaskan aturan tersebut, anggota Exco dan Komisi Disiplin PSSI segera menggelar rapat.

Rapat tersebut, lanjut Yunus, yang nanti mengeluarkan keputusan mengenai sanksi jika memang ada suporter yang masih nekat datang ke area stadion selama kompetisi berlangsung.

Sanksi tersebut mungkin diberikan kepada suporter yang bersangkutan. Tapi, sejak kapan stadion-stadion di Indonesia dilengkapi kamera pengintai yang bisa merekam jelas sosok dan identitas seorang suporter nakal? “Butuh saksi mata, bukti, dan banyak hal lain. Bisa saja suporter tim A, tapi pakai kaus tim B. Kami masih pikirkan bagaimana nanti itu,” ucapnya.

Baca Juga:  Shin Tae-Yong Butuh Liga 1 dan Liga 2 Bergulir

Masih pikirkan bagaimana nanti. Padahal, liga tiga hari lagi berjalan. Tidakkah itu semakin menggarisbawahi kekhawatiran terhadap kerentanan jalannya kompetisi ini terhadap serangan virus korona penyebab Covid-19?

Yunus berdalih, kompetisi bakal menerapkan protokol yang merupakan rangkuman dari seluruh protokol kesehatan dunia. Mulai WHO (Badan Kesehatan Dunia), AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia), FIFA (Federasi Sepak Bola Dunia), hingga liga-liga top Eropa.
Alasan itu juga yang jadi pegangan ketika nanti ada pemain, pelatih, atau ofisial yang terindikasi korona, liga akan tetap jalan tanpa ditunda sedikit pun. LIB juga akan melakukan uji usap (swab test) gratis secara berkala tiap 14 hari selama kompetisi Liga 1 dan 2 berlangsung.

Tapi, apakah semua itu bisa memberikan jaminan kepada semua pihak yang masuk kompetisi akan aman dari virus korona? Bintang AC Milan Zlatan Ibrahimovic pada Kamis lalu (24/9) mengumumkan bahwa dirinya positif Covid-19. Padahal, sehari sebelumnya dia negatif.

Itu AC Milan, klub raksasa dunia dengan fasilitas serbawah. Terhadap klub-klub Liga 1 saja sulit yakin mereka bakal bisa ketat memantau kondisi pemain, apalagi kepada klub-klub Liga 2. “Mudah-mudahan tidak ada ya. Jangan sampai terjadi,’’ harap Lukita.

Tapi, Lukita tidak menampik kompetisi bisa saja dihentikan. Kuasa itu tidak ada di LIB, melainkan di PSSI dan pihak lain yang lebih berwenang. “Satgas Covid-19 juga kami libatkan. Tentu akan ada koordinasi di dalamnya nanti,” tuturnya.

Lalu, mengapa PSSI tetap bersikeras menghelat kompetisi seberisiko itu? Benarkah ada ancaman jika tak menghelat liga jatah tuan rumah Piala Dunia U-20 akan dicabut FIFA?
Yunus menepis. Keinginan PSSI memutar kompetisi, kata dia, hanya untuk mewadahi banyak aspirasi pemangku kepentingan. Baik para pemain, pelatih, maupun tim. “Kan lucu juga dalam rangka menghadapi Piala Dunia U-20 justru tanpa ada kompetisi. Negara lain sudah main kok Indonesia tidak bisa, harus bisa,” tegasnya. Lucu? Sama sekali tidak, Pak Yunus. Urusan nyawa, tak ada yang pantas dianggap lucu. (rid/c19/ttg/jpg)