CFG Milik Sheik Mansour Tetap Eksis di Masa Pandemi Covid-19

Pemain Manchester City merayakan kesuksesan memenangi Piala Liga 2019-2020 di Stadion Wembley (2/3). City adalah klub pertama di antara delapan klub yang kini dibawah kendali CFG milik Sheikh Mansour. (AFP)

Mengelola satu klub sepak bola sudah cukup melelahkan selama krisis finansial akibat pandemi Covid-19. Jadi, bisa dibayangkan betapa beratnya mengendalikan delapan klub sepak bola sekaligus dan tersebar di seluruh penjuru dunia. Begitulah yang dijalani City Football Group (CFG), konsorsium asal Abu Dhabi milik Sheikh Mansour.

CFG tak ubahnya induk yang memiliki Manchester City. Tujuh klub feeder alias satelit City terpencar di empat benua. Di Eropa, selain The Citizens, julukan City, ada klub Segunda Division (kasta kedua di Spanyol), Girona FC. Lalu, CFG juga menangani tiga klub di Asia. Yakni, Yokohama F. Marinos (Jepang/J1 League), Mumbai City FC (India/Indian Super League), dan Sichuan Jiuniu (Tiongkok/China League Two).

Benua Australia diwakili Melbourne City FC (A-League) serta masing-masing New York City FC (AS/Major League Soccer) dan Montevideo City Torque (Uruguay/ Uruguayan Primera Division) sebagai representasi CFG di Benua Amerika. New York City FC (NYC FC) menjadi klub satelit pertama CFG. Tepatnya pada musim panas 2013 atau lima tahun setelah memiliki The Citizens. Di sisi lain, Mumbai City FC paling terakhir dikuasai atau per 28 November tahun lalu.

Karena memiliki delapan klub, CFG mengurusi sekitar 1.500 pemain. Selain itu, CFG masih harus mengelola 13 kantor perwakilan di seluruh penjuru dunia yang di dalamnya melibatkan lebih dari 2000 karyawan. ”Saat ini adalah tantangan terberat yang dihadapi (CFG) dalam tujuh tahun terakhir. Tapi, mereka tetap bisa eksis,” tulis laman The Sun.

COO CFG Omar Berrada telah memberi pernyataan pekan lalu bahwa pandemi Covid-19 menghadirkan tantangan baru bagi semua klub di seluruh dunia untuk tetap menghidupi diri saat tidak ada pemasukan. CFG merasa beruntung menjadi salah satu klub yang tetap membayar penuh gaji karyawannya selama pandemi. Begitu pula bayaran pemain City. David Silva dan kawan-kawan aman dari pemotongan gaji.

Grafik keuntungan dalam lima musim beruntun menjadi salah satu penyebabnya. Sepanjang musim lalu (2018-2019), contohnya, City meraup keuntungan GBP 535,2 juta (Rp 10,2 triliun) yang berbanding lurus dengan prestasi menyapu bersih semua gelar domestik Inggris (Community Shield, Premier League, Piala FA, dan Piala Liga). Daily Mail mengklaim, catatan serupa masih bisa dicapai pada periode musim ini. (2019-2020).

Keuntungan besar dalam periode keuangan tahun lalu juga dibukukan NYC FC. Sebagaimana dilaporkan Forbes, mantan klub pelatih Chelsea Frank Lampard sebelum gantung sepatu tersebut mencatat keuntungan finansial USD 105 juta (1,61 triliun). Di dalam sejaraha akuisisi CFG di klub itu, keuntungan tersebut adalah yang terbesar.

Berrada menyatakan, hal serupa diupayakan terjadi di semua klub feeder mereka. ”Kami bekerja di semua klub kami secara global untuk memastikan bisa mendukung semua komunitas kami di mana saja mereka berada,” klaim mantan kepala bagian sponsorship di FC Barcelona tersebut.

Keputusan CFG menjual 10 persen saham kepada perusahaan ekuitas asal AS, Silver Lake, pada November tahun lalu juga disebut bermanfaat untuk menjaga neraca finansial mereka. Sebab, lewat penjualan saham tersebut, CFG mampu meraup dana segar USD 500 juta (Rp 7,7 triliun).

Makanya, di tengah pandemi Covid-19, klub-klub di bawah CFG masih dapat berperan serta di kota masing-masing. City, misalnya. Klub yang dibesut Pep Guardiola itu menyediakan Stadion Etihad sebagai lokasi pelatihan petugas National Health Service (NHS atau layanan kesehatan Inggris). Juara Premier League dua musim terakhir itu juga memberikan sumbangan kepada bank makanan lokal. Ada pula Montevideo City Torque yang menyiapkan 10 ribu makan siang gratis untuk anak-anak miskin di ibu kota Uruguay. (ren/c14/dns/jpg)