Penundaan PON XX 2020 Papua, Harapan Baru 10 Cabor Tercoret

Atlet ski air Jawa Timur Muhammad Zahidi Putu. Dia punya kesempatan untuk berlaga di PON 2020 Papua yang berlangsung tahun depan. (Boy Slamet/Jawa Pos)

Ditundanya PON XX/2020 Papua membawa harapan baru bagi cabor-cabor yang dirasionalisasi. Ada sepuluh cabor yang dicoret dari multievent paling akbar di Indonesia itu. Yakni, balap sepeda, bridge, dansa, golf, gate ball, petanque, dan ski air. Juga, soft tennis, tenis meja, serta wood ball. Karena waktunya masih panjang, PB cabor-cabor itu punya kans untuk mengubah kebijakan.

Salah satunya adalah cabor balap sepeda. Sekjen PB ISSI Parama Nugroho mengatakan, ada banyak hal yang seharusnya menjadi pertimbangan untuk mempertandingkan cabornya di PON XX. Pertama, balap sepeda merupakan cabor Olimpiade. Kedua, mereka sudah melaksanakan kualifikasi Pra-PON sepanjang 2019.

”Maka, sudah sepantasnya balap sepeda ada dalam PON. Event ini kan menjadi salah satu ajang pembinaan juga,” kata Parama ketika dihubungi kemarin. ”Kami berharap tetap bisa dilombakan dalam PON. Dengan waktu setahun, cukup bagi PB PON untuk mematangkan persiapan,” lanjut dia.

Parama menjelaskan, PB ISSI tidak menuntut banyak terkait disiplin lomba yang akan dipilih. Jika memang venue menjadi kendala, pihaknya akan memilih nomor perlombaan yang tidak membutuhkan anggaran besar. Misalnya, road race dan MTB. Kedua disiplin itu sudah menggelar Pra-PON di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Juli lalu.

Sempat ada tawaran untuk menggelar sepuluh cabor itu di provinsi lain di luar Papua. Bahkan, hal itu diupayakan lewat revisi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2007. Namun, kata Parama, itu tidak perlu dilakukan. PB ISSI akan memilih disiplin yang tidak memakan banyak anggaran.

”Untuk menghormati tuan rumah, diusahakan (cabor balap sepeda) tetap bisa berlangsung di Papua,” ucap Parama. ”Kami sudah memperjuangkan. Sekarang keputusan ada di PB PON dan KONI Pusat. Kami siap mendukung apa pun keputusannya,” imbuh dia.
Senada dengan balap sepeda, cabor golf menanti kepastian. Golf juga cabor Olimpiade. ”Pastinya kami sangat berharap. Masih ada waktu setahun untuk mempersiapkan venue,” kata Kabid Binpres PP PGI Ari Hidrijantoro.

Ari mengatakan, ada dampak buruk bagi perkembangan cabor konsentrasi itu jika tidak dipertandingkan dalam PON. Bagi PGI provinsi, misalnya. Kalau tidak dipertandingkan di PON, golf tidak akan mendapat dana buat pemusatan latihan daerah (puslatda). Pembinaan di daerah bakal terhenti.

”Semua pembinaan itu kan berjenjang, dengan tujuan akhirnya Olimpiade. Kalau tidak ikut PON tetapi ikut multievent lain, agak kurang pas ya,” papar Ari. ”Apalagi untuk atlet amatir. Turnamen mana lagi yang bisa diikuti kalau mereka tidak bertanding di PON,” tandas dia.

Sementara itu, KONI Jawa Timur memilih berhati-hati soal dorongan mempertandingkan sepuluh cabor. Jatim memang merupakan salah satu provinsi yang paling dirugikan jika sepuluh cabor itu dihapus. Beberapa cabor, misalnya ski air dan tenis meja, adalah lumbung medali bagi provinsi paling timur Pulau Jawa tersebut.

Saking inginnya sepuluh cabor itu dipertandingkan, KONI Jatim bahkan pernah mengajukan diri menjadi host (tuan rumah). Namun, Ketua Harian KONI Jatim M. Nabil mengatakan, pihaknya tidak meminta atau memaksakan diri untuk menjadi tuan rumah bagi sepuluh cabor itu. ”Tetapi kalau ditunjuk, kami siap. Kewenangan ada di PB PON, Kemenpora, dan KONI Pusat,” kata Nabil. (gil/c10/na/jpg)