Aturan Baru Premier League, Meludah Kena Kartu Kuning

Premier League. (INTERNET)

Arsenal disusul West Ham sudah membuka markas latihan untuk digunakan para pemain Senin lalu (27/4). Pemain Tottenham Hotspur juga kembali ke Enfield Training Center Selasa (28/4).

Kembali berlatihnya mereka semakin menguatkan sinyal positif bahwa Premier League 2019-2020 akan kembali bergulir setelah stop karena pandemi Covid-19 pada 12 Maret lalu. Mengusung label Project Restart, regulator Premier League merencanakan kompetisi yang menyisakan 92 pertandingan itu kickoff lagi pada 8 Juni dan rampung akhir Juli.

Apalagi, pemerintah Inggris melalui Sekretaris Negara Bidang Digital, Budaya, Media, dan Olahraga Oliver Dowden memberikan dukungan untuk melanjutkan Premier League. ”Secara personal, saya sudah bicara dengan pihak Premier League dengan poin-poin agar sepak bola bisa hadir lagi. Harapannya tentu bisa mendorong secara keseluruhan sepak bola Inggris,” kata Dowden sebagaimana dilansir Daily Mail.

Seperti Bundesliga yang membuat protokol pertandingan menyambut kompetisi dimulai pada 9 Mei nanti, Project Restart ala Premier League merumuskan ”aturan baru” tentang bagaimana memainkan sepak bola di era pandemi Covid-19. Hal itu dilakukan karena UEFA sebagai induk organisasi sepak bola Eropa memang menyerahkan kepada regulator liga domestik untuk merancang aturannya sendiri.

Media-media Inggris seperti The Sun dan Daily Mail kemudian memaparkan beberapa aturan baru yang tercantum dalam Project Restart. Aturan itu memberikan batasan banyak hal kepada pemain, staf, pelatih, dan suporter.

Seperti jumlah orang di dalam pertandingan yang tanpa penonton. Jika Bundesliga sudah menetapkan 322 orang, Premier League diklaim hanya memperbolehkan 233 orang. Pelatih Sheffield United Chris Wilder kepada Off The Ball termasuk yang tidak suka dengan limitasi tersebut. Pelatih yang klubnya menempati posisi ketujuh hingga matchweek ke-29 atau saat kompetisi dihentikan itu mengaku tetap lebih suka ada penonton.

”Saya seorang yang percaya, jika tanpa suporter, pertandingan tidak ada artinya. Pemain, pelatih, wasit, dan ofisial adalah bagian dari pertandingan, tetapi unsur terpenting adalah suporter,” ucap Wilder. ”Tanpa suporter, sepak bola bukan sepak bola,” imbuh Pelatih Terbaik Inggris 2018-2019 versi Asosiasi Manajer Liga Inggris (LMA) itu.

Aturan lainnya adalah kebiasaan pemain meludah dalam pertandingan. Seiring penularan Covid-19 berasal dari air liur penderita, perilaku tersebut tidak dibenarkan. Bahkan, wasit yang mengetahuinya berhak menganjar pemain dengan kartu kuning. ”Bukan lagi sekadar memberikan peringatan,” tulis Evening Standard.

Chairman Komite Medis FIFA Michel D’Hooghe menyatakan, meludah sembarangan di area lapangan merupakan kebiasaan yang tidak bagus. Ditambah dalam kondisi pandemi Covid-19. ”Jadi, di kompetisi mana pun yang akan memulai kompetisinya, perilaku tak higenis bahkan jorok seperti meludah di lapangan harus ditinggalkan. Mungkinkah meludah benar-benar dilarang dan aturan ini benar-benar diaplikasikan?” tutur D’Hooghe.

Sementara itu, ahli virology University of Cambridge Dr Ian Brierley menyatakan, meludah bukan satu-satunya aturan baru di Premier League yang harus dikembangkan. ”Regulator liga juga harus melarang selebrasi bersama banyak pemain ketika mencetak gol sampai larangan tradisi bertukar jersey setelah pertandingan,” ujar Brierley.

Kemudian, meniru konsep La Liga soal kebersihan bola, diusulkan bola secara berkala disemprot cairan disinfektan. Juga meminimalkan kontak fisik dengan larangan bagi pemain saling dorong dengan tangan yang biasanya terjadi dalam situasi bola mati seperti sepak pojok maupun tendangan bebas.

The Sun menulis, Project Restart bakal membuat pertandingan sepak bola tak akan dimulai lebih dari pukul 15.00 waktu setempat. Harapannya, dengan pembatasan jam siaran, suporter akan lebih tertib. (dra/c17/dns/jpg)