Kebijakan baru ini berlaku di kompetisi kasta tertinggi sepak bola Inggris dan menjadi perubahan signifikan dalam pelaksanaan kampanye inklusi liga di lapangan.
Kebijakan ini diambil setelah para kapten klub peserta liga mencapai kesepakatan kolektif untuk menjadikan atribut kampanye sosial sebagai pilihan pribadi, bukan kewajiban, sebagaimana dilaporkan The Athletic, Kamis (5/2/2026).
Premier League menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk menghormati keberagaman pandangan dan kebebasan hati nurani para pemain.
Kesepakatan Kapten Klub dan Alasan Perubahan
Berdasarkan laporan The Athletic, kesepakatan penghapusan kewajiban ban lengan bertema LGBTQ dicapai melalui pembahasan di antara para kapten klub Premier League.
Liga menilai bahwa partisipasi pemain dalam simbol kampanye sosial sebaiknya didasarkan pada pilihan individu, bukan aturan yang bersifat mengikat.
“Ke depan, klub dan pemain akan memiliki opsi—bukan kewajiban—untuk mengekspresikan dukungan mereka,” tulis The Athletic dalam laporannya.
Dengan pendekatan baru ini, Premier League berharap dapat menjaga keharmonisan internal tim sekaligus mengurangi potensi gesekan di ruang ganti.
Kebijakan ini menandai pergeseran dari pola sebelumnya, di mana penggunaan atribut pelangi menjadi bagian rutin kampanye tahunan liga.
Latar Belakang Insiden Musim Lalu
Evaluasi kebijakan kampanye inklusi Premier League tidak terlepas dari insiden pada musim sebelumnya yang memicu diskusi luas di internal liga.
Salah satu peristiwa yang disorot adalah sikap bek Manchester United, Noussair Mazraoui, yang menolak mengenakan jaket bertema LGBTQ dalam agenda resmi klub.
Pemain asal Maroko tersebut menyampaikan penolakannya secara terbuka, dengan alasan prinsip pribadi yang ia pegang.
Situasi tersebut kemudian diikuti oleh keputusan skuad Manchester United untuk tidak mengenakan atribut serupa sebagai bentuk solidaritas terhadap rekan setimnya.
Menurut laporan The Athletic, insiden itu menjadi sinyal bagi pengelola liga untuk meninjau ulang kebijakan kampanye yang bersifat wajib.
Komitmen Anti-Diskriminasi Tetap Berlaku
Meski kewajiban penggunaan ban lengan bertema LGBTQ dihapus, Premier League menegaskan komitmen terhadap prinsip anti-diskriminasi tetap berjalan.
Liga tetap menyediakan ruang bagi klub atau pemain yang secara sukarela ingin menunjukkan dukungan melalui atribut atau kampanye tertentu.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengakomodasi pemain dari berbagai latar belakang budaya dan keyakinan yang beragam di Premier League.
Pihak liga juga dilaporkan tengah menyiapkan mekanisme komunikasi alternatif untuk menyampaikan pesan inklusi tanpa melanggar prinsip individu pemain.
Dengan aturan baru ini, Premier League musim 2025/26 akan menampilkan pendekatan kampanye sosial yang lebih fleksibel, sementara fokus utama kompetisi tetap berada pada aspek olahraga.(cr3)
Editor : Hendra Efison