Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pariwisata Bukittinggi, Bertahan atau Tertinggal

A
Penulis: Adriyanto Syafril❯
Gusrizal Datuak Salubuak Basa.
Gusrizal Datuak Salubuak Basa.

Advertisement

Penulis: Gusrizal Datuak Salubuak Basa - Pemerhati Pariwisata

Bukittinggi pernah menjadi “Mahkota”pariwisata Sumbar. Selama puluhan tahun, Bukittinggi menjadi ikon pariwisata di Sumatera Barat. Jam Gadang, Ngarai Sianok, Lobang Japang, Pasa Ateh, itu diantaranya sederetan tempat wisata yang sudah dikenal baik domestik maupun mancanegara.

Sektor ini menjadi nadi ekonomi. Begitu juga hotel, kuliner, tranportasi, oleh-oleh, jasa pemandu wisata, dari sinilah warga hidup dari wisatawan yang datang.

Advertisement

Tapi mahkota itu bukan hak paten. Kabupaten/Kota lain tidak tinggal diam. Sekarang tetangga kita “ngebut”. Padangpanjang yang dikenal dengan Serambi Mekkah, sekarang juga sudah dapat julukan yang lain yaitu sebagai Kota Kuliner dan Film. Ada juga PDIKM, Mifan, Desa wisata Kubu Gadang yang viral.

Begitu juga Payokumbuah dan Limapuluh Kota dengan Lembah Harau yang sudah mulai “Go lnternasional”, Geopark Harau, Event Pacu Jawi sekarang sudah mendunia. Saya baru saja mengikuti Harau Running Festival-”RunTheValley” dan juga sempat nginap di Harau. Waduh keren, banyak saya temui home stay yang dikelola dengan baik. 

Ups, tunggu dulu, Home staynya bukan kaleng-kaleng, sudah dengan model kekinian yang memanjakan mata yang menawarkan kombinasi arsitektur tradisional Minangkabau dengan nuansa alami modern dengan pemandangan langsung ke tebing batu dan sawah.

Advertisement

Belum lagi Agam dengan Danau Maninjau, Lawang Park, Puncak Taruko, tentu saja di tampilkan dengan konsep kekinian. Tidak hanya itu, Tanahdatar dengan Istano basa, Nagari Tuo Pariangan, serta diikuti dengan festival budaya masif.

Kabupaten lainnya pun tidak ketinggalan berbenah. Pesisir Selatan dengan pulau Mandeh itu dijuluki “Raja Ampatnya Sumbar”. Bila ini tidak diperhatikan oleh kepala daerah, itu semua akan menjadi ancaman bagi Kota Bukittinggi atau bahkan Bukittinggi bisa tertinggal.

Kepala daerah dari masing-masing kabupaten kota yang saya sebutkan di atas, terus melakukan investasi infrastruktur, digitalisasi tiket, bikin iven kalender wisata, serta membangun “branding” kuat di medsos. Sekarang wisatawan punya banyak pilihan baru.

Ini tentu saja akan berdampak jika Bukittinggi tidak berbenah. Bukittinggi tentu saja bisa “Stuck” dengan wajah lama, ini yang bakal terjadi, dampaknya kunjungan wisatawan tentu akan bisa turun secara pelan-pelan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Padang EkspresIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kerupuk Sanjai Jadi Modal Desa Wisata, Warga Bukittinggi Berjuang Hidupkan Ekonomi Kampung

Kerupuk Sanjai Jadi Modal Desa Wisata, Warga Bukittinggi Berjuang Hidupkan Ekonomi Kampung

Desa Wisata Sanjai di Bukittinggi mengembangkan kerupuk tradisional, budaya Minangkabau, dan kerajinan warga untuk menggerakkan ekonomi loka

UNP Reaktivasi Kampung Wisata Tabiang Barasok di Bukittinggi

UNP Reaktivasi Kampung Wisata Tabiang Barasok di Bukittinggi

UNP bersama Pemko Bukittinggi mereaktivasi Kampung Wisata Tabiang Barasok lewat revitalisasi kawasan dan penguatan kapasitas masyarakat.

DPKP Bukittinggi Kerahkan 2 Armada Bersihkan Kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas

DPKP Bukittinggi Kerahkan 2 Armada Bersihkan Kawasan Jam Gadang dan Pasar Atas

DPKP Kota Bukittinggi mengerahkan 2 armada dan 8 personel untuk membersihkan kawasan Jam Gadang, Pasar Atas, dan Janjang Gudang demi kenyamanan wisata

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer