
Oleh: Two Efly, Wartawan Padang Ekspres
Ada ungkapan lama dalam sepak bola: form is temporary, class is permanent. Saya ingin menambahkan satu kalimat lagi: mentalitas juara lebih abadi daripada keduanya.
Itulah yang menjadi pembeda ketika Argentina menaklukkan Mesir 3-2 pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Bukan teknik, bukan penguasaan bola, bahkan bukan pula nama besar Lionel Messi. Yang memenangkan pertandingan itu adalah karakter.
Selama hampir 80 menit, Argentina seperti kehilangan identitasnya. Tarian Tango Argentina seolah menghilang. Argentina terlalu sering kehilangan bola. Operan-operan pendek Argentina mampu dipatahkan lini tengah dan lini belakang Mesir.
Sebaliknya, Mesir memainkan pertandingan yang nyaris sempurna. Organisasi pertahanan mereka begitu disiplin. Setiap pemain Argentina yang menerima bola langsung dikepung dua hingga tiga pemain. Jalur umpan menuju Messi ditutup rapat, sementara Rodrigo De Paul, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernández dipaksa bermain melebar sehingga sirkulasi bola Argentina kehilangan ritme.
Gol Yasser Ibrahim pada menit ke-15 membuat Argentina mulai kehilangan ketenangan. Situasi semakin sulit ketika Mostafa Zico menggandakan keunggulan Mesir pada babak kedua. Saat papan skor menunjukkan 2-0, dunia mulai percaya bahwa kejutan terbesar Piala Dunia 2026 sedang terjadi.
Tekanan psikologis semakin berat setelah Lionel Messi gagal mengeksekusi penalti pada babak pertama. Banyak pemain besar runtuh setelah momen seperti itu. Namun, Messi tidak. Di situlah mentalitas juara mulai berbicara.
Scaloni Memenangi Pertandingan dari Bangku Cadangan
Sepak bola modern tidak hanya dimenangkan oleh sebelas pemain di lapangan. Pertandingan ini juga dimenangkan oleh Lionel Scaloni dari pinggir lapangan.
Keputusan memasukkan Lautaro Martínez mengubah wajah permainan Argentina. Kehadirannya membuat garis pertahanan Mesir tidak lagi berani bermain tinggi. Bek-bek Mesir mulai mundur beberapa meter untuk mengantisipasi kecepatan Lautaro.
Ruang yang sebelumnya tertutup mulai terbuka. Messi memperoleh lebih banyak kebebasan. Enzo Fernández lebih leluasa masuk ke sepertiga akhir lapangan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




